Mbah Surip emang menginspirasi. Buktinya, ungkapannya sering dipake banyak orang untuk mengekspresikan kecintaan. Termasuk siswa-siswa SDIT Alam dalam mengekspresikan kecintaan dan kerinduan akan Ramadhan. Cinta banget. Kangen banget. Ramadhan, I love You Full !
Lihat, betapa kerinduan Ramadhan diungkapkan sama seperti mbah Surip kangen akan gendong-gendongan. Untuk menyambut Ramadhan kali ini, SDIT Alam melakukan penyambutan yang sangat meriah. Tema pesantren Ramadhan kali ini adalah Tunjukkan Taqwamu. Jadinya, sudah deh dimulai kompetisi dalam menunjukkan taqwa masing-masing. Termasuk dalam menyambut Ramadhan. Rangkaian pesantren Ramadhan diawali dengan pawai Tarhib (=mengingatkan) Ramadhan. Mengajak masyarakat sekitar untuk bergegas menyiapkan diri untuk menghadapi Ramadhan yang penuh barakah.
Setiap anak membuat poster dan spanduk ucapan dan ajakan sambut Ramadhan. Dengan berbagai bentuk ungkapan bahasa. Penuh warna dan hiasan. Mereka membuat sendiri sesuai dengan ungkapan mereka akan Ramadhan.
Selain diwarnai dengan berbagai tulisan poster dan spanduk, pawai juga dilengkapi dengan gebukan drum mas Sabik kelas 3A. Sambil diusung pake pick up, mas Sabik menujukkan kebolehannya menggebuk drum. Sedang di depan ada ustadz Gusdul yang menyanyikan lagu sambut Ramadhan.
Anak-anak pada semangat sambil jalan dan menyanyi lagu sambut Ramadhan diiringi drum. Sedangkan beberapa anak asik sibuk memberi jadwal Imsakiyah kepada masyarakat sekitar. Meraka senang dan tertarik pada iring-iringan pawai.
Begitu pawai selesai sampai di sekolah, anak-anak langsung istirahat. Uf . . . capek banget. Meski jalannya gak begitu jauh tapi capek banget. Habis, cuaca yang panas membuat kerongkongan kering. Udah deh, minum yang banyak biar gak depresi, eh salah. Dehidrasi. Selanjutnya, ustadz Gusdul dan ustadz Bintara mengumumkan untuk siap-siap akan ada inspeksi kelas untuk meliohat kebersihan. Jadilah, semua anak bergegas ke kelas dan membersihkan kelas sebersih-bersihnya.
Waduh apaan tuh. Kok ada Densus 88 tapi kok sampingnya ada orang yang pake sorban bawa tas yang sama persis digunakan pengbom JW Mariot dan Ritz Carlton ya. Ada apa nih. Apa Densus 88 sudah menangkap tukang bom lagi. Ato malah SDIT Alam mau diteror bom. Ooo . . . ternyata mereka bertiga tu adalah petugas inspektor kebersihan kelas. Pakaiannya aja yang niru ama Densus 88 dan pengebom bunuh diri. Wah, jadinya banyak anak-anak yang terkaget-kaget.
Begitu seluruh kelas telah selesai diinspeksi. Kegiatan selanjutnya dalah bersih GOR. Gedung Olah Raga. Karna di tempat ini akan dipake keseluruhan aktivitas pesantren Ramadhan. Sholat jama'ah, lomba kaligrafi, teatrikal Qur'ani, Adzan, dll. GOR akan dibuat senyaman mungkin. Sehingga seluruh aktivitas jadi semakin semangat. Semoga Ramadhan kali ini semakin hidup. Semakin banyak berkah, ampunan dan ridho Allah yang kan tergapai. Oh Ramadhan, I love you Full ! . . .



Sebelum meresmikan, ustadz Hamdan mengajak untuk refleksi kembali tentang keberadaan gedung-gedung yang selama ini tergolong unik ini. Semua gedung tersebut dibuat dengan bahan langsung dari alam. Tentu dari segi biaya jauh lebih murah dibanding dengan gedung yang permanen. Pesan yang muncul adalah, gedung adalah sebagai sarana dan bukan menjadi hal yang mutlak ada untuk terlaksananya pembelajaran. Boleh jadi karena keterbatasan dana sehingga gedung tidak layak bukan berarti harus menghentikan pembelajaran. Belajar harus jalan terus. Disinilah makna SDIT Alam itu bukanlah alam sebagai nature saja yang siap untuk memakai, tapi jauh luas alam sebagai universe yang bermakna munculnya tanggung jawab pemakmuran. Akhirnya, gedung bambu itu diberi nama oleh ustadz Hamdan dengan nama gedung Syuhada. Mengapa Syuhada ? karena ia dekat dengan makna 'sebagai saksi' sekaligus momen kemerdekaan agar seperti pahlawan, gedung Syuhada mampu menjadi saksi proses pembelajaran alam di SDIT Alam Nurul Islam.
Oke deh, berarti setelah ini gedung Syuhada bisa segera digunakan. Calon penghuninya 2 kelas. Jika tidak ada perubahan akan dipake kelas 4 B dan C. Sebab kedua kelas ini selama ini masih pake ruang komputer dan pendopo. waduh slamat ya atas gedung baru. Gedung yang lain segera nyusul dikasih nama.

Untuk kenal lebih dekat, siswa-siswa SDIT Alam belajar membuat biopori buatan. Untuk membuat lubang dibutuhkan alat khusus. Seperti bor dengan gagang atas seperti huruf T.

Lubang yang dibuat sedalam kurang lebih 100 cm atau 1 meter. Mm, cukup dalem kan. Untuk memastikan benar bahwa sampah organik yang akan dimasukkan cukup banyak. Sehingga tanah pada lubang bisa tersuburkan.
Begitu lubang sudah dalem benar, langkah berikutnya adalah memasukkan sampah organik. Sampah yang bisa membusuk. Tujuannya supaya sampah bisa membusuk menyatu dengan tanah. Sekaligus jika ada air masuk tidak kemudian mengikis tanah.
Bagi yang semangat sekalian bersih-bersih sampah, pasti juga semangat buat lubang yang banyak juga. Satu kegiatan bisa dua tujuan. Untuk membuat perlindungan tanah sekaligus bersih-bersih sampah.
Untuk lebih dekat dengan Mikroskop, anak-anak diajak menyaksikan bagaimana mikroskop bekerja. Alhamdulillah, ayahnya mbak Ninit, Pak Suhardi, kerja di laboratorium biologi UNY. Jadi membantu menghadirkan mikroskop ke sekolah untuk belajar.
Bersama stafnya, pak Suhardi membawa 2 unit mikroskop ke SDIT Alam. Tapi, tunggu dulu. Kok pake laptop dan LCD segala. Emangnya mau nonton film segala ya. O, ternyata LCD tu untuk melihat obyek benda yang diamati dengan mikroskop. Wah canggih ya. Praktis.
Setelah semua alat terpasang, mulailah pak Hardi menjelaskan kerja mikroskop. Untuk mencobanya, diambil serat batang pohon jagung. Subhanalloh, seratnya terlihat jelas dari layar. Lalu, pak Hardi mencoba dari air yang diambil di sungai. Dan air kaldu dari eksperimen kemarin. Setelah lensa dibesarkan, tak ada tanda-tanda benda bergerak. Karena hanya mampu perbesaran 500 kali jadinya belum bisa melihat makhluk sekecil bakteri.
Untuk melihat bakteri, pak hardi menayangkan rekaman yang diambil dari Mikroskop elektron. Wah, ternyata bakteri tu macem-macem bentuk dan namanya. Namanya itu lho keren-keren. Ada yang namanya Vorticella, Paramaria, Euglena . . . . Yang aneh lagi, cara berkembang biaknya. Ternyata, mereka tidak beranak atau bertelur. Tapi membelah diri. Hah ! Membelah diri. Apa gak mati tuh. Ya nggak lah. Di video dilihatkan bagaimana bakteri membelah diri. Unik deh. Ah skarang jadi ngeri kalo main air kotor. Jangan-jangan ada bakteri yang bikin sakit. Meski namanya keren kalo masuk ke tubuh bisa-bisa bikin sakit.

