
Pertama, seluruh peserta ceking. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok. Siswa bergabung dengan ustadz-ustadzah. Ada 8 kelompok putra dan putri. Kata ustadz Siswo, semua peserta harus siap untuk survival. Karena medan yang akan dijalani jauh dari orang jualan. Setiap peserta diberi 2 snack coklat dan sebuah minuman mineral. Perjalanan menggunakan minibus. Sampe di tujuan, tepatnya di kaki bukit barisan Prambanan. Seluruh peserta turun, dan mulai berjalan menuju track yang sudah ditentukan.
Baru beberapa langkah berjalan, adzan berkumandang. Perjalanan dihentikan untuk sholat Maghrib. Tentu dijamak dengan sholat 'Isya. Sekaligus, untuk packing barang bawaan untuk perjalanan panjang.
Setelah sholat, seluruh peserta dipandu oleh ust. Agus untuk melakukan peregangan sendi dulu. Supaya tidak ada terkilir atau salah urat saat melakukan perjalanan. Wah, pada semangat nih peregangannya. Selesai, perjalanan dilanjut. Subhanalloh, pandangan dari atas terlihat indah. Kota Jogja dilihat gemerlapnya dari arah timur. Yang indah lagi, gemerlap lampu bandara Adisucipto terlihat jelas. Jalur pendaratan (landing) dan penerbangan (take off) pesawat terlihat dari jajaran lampu yang menyala terang.
Perjalanan menyusuri perkampungan di perbukitan. Mungkin karena di daerah dataran tinggi ya. Begitu setelah Maghrib, langsung sepi. Seperti desa mati. Ada listrik sih, cuma ya itu sepi banget. Begitu perkampungan habis, masuklah di area hutan. Nah, kalo disini udah dijamin gelap banget. Lampu senter udah mulai berfungsi. Begitu masuk hutan kurang lebih jalan selama 10 menit, tibalah di sebuah masjid yang di depannya terdapat danau. Aneh ya, di atas bukit dimana air sangat sulit didapatkan, ada sebuah danau yang banyak airnya.
Karna gelapnya, air danau tidak terlihat begitu jelas. Disini seluruh peserta diberi kesempatan untuk melakukan aktivitas MCK. Sambil istirahat untuk merelaksasi otot kaki. Dan minum saat kerongkongan mulai mengering. Setelah selesai, perjalanan berlanjut. Kurang lebih 500 meter kemudian, tibalah di sebuah bangunan candi. Candi Barong namanya. Candi ini mempunyai alas mirip piramida di Mesir. Di sini kita naik ke atas untuk istirahat, makan.
Semua pesereta berkumpul di tiap kelompok. Mengeluarkan bekal yang mereka bawa. Berbagi bersama untuk merekatkan persaudaraan. Terasa sekali rekatnya persaudaraan antara siswa dan ustadz-ustadzah. Setelah istirahat dan makan cukup, ust Hamdan memberikan tausyiah kepada siswa dan ustadz-ustadzah. Terkait dengan perjalanan kehidupan ke depan. Dengan mengambil tafsir surah Ash-Shaff, ust. Hamdan mengalirkan tausyiah di tengah tiupan angin malam. Sementara di arah barat terlihat gemerlap lampu kota Jogja.
Ust. Hamdan berpesan, bahwa sebagai seorang muslim haruslah selalu mensucikan asma Allah. Memegang teguh aturan-Nya, bangga dan sedikitpun tidak akan larut meski lingkungan boleh jadi tidak Islami. Terutama siswa yang akan meneruskan ke sekolah yang tidak seperti SDIT Alam lagi. Seluruh kebiasaan, pakaian, perkataan yang telah mengakhlaq selam 6 tahun di SDIT Alam, janganlah kemudian rela untuk dilarutkan tanpa sisa dengan alasan menyesuaikan lingkungan yang tidak Islami. Setelah istirahat tidur hingga jam 01.00, perjalanan dilanjut. Rombongan berjalan dengan mata masih setengah ngantuk, namun perjalanan harus tetap dilanjutkan. Berjalan menyusuri perkampungan yang sangat sepi. Ya iyalah jam 01.30, mana ada yang masih bangun.
Setelah berjalan sejauh 2 km, tibalah di lokasi kraton ratu Boko. Masuk melalui pintu timur. Langsung menuju lokasi gua, di sini ust. Siswo memerintahkan seluruh peserta untuk istirahat kembali hingga menjelang Shubuh untuk melaksanakan sholat Tahajjud. Setiap peserta mengambil tempat yang mereka suka sendiri-sendiri. Anehnya, gak ada yang mau masuk gua. Bukannya takut apa-apa. Ternyata baunya seperti di planet Yupiter. Penuh dengan bau urea air seni.
Sholat Tahajud dilaksanakan di atas lokasi keputren. Yaitu tempat pemandian para putri dan permaisuri. Menunggu sholat Shubuh sambil menikmati suasana hawa sekitar. Sambil membayangkan ratusan tahun yang lalu apa yang terjadi di tempat itu. Setelah sholat Shubuh diadakan muhasabah, refleksi oleh ust. Budi. Refleksi untuk melihat kembali seberapa jauh yang telah kita perbuat untuk mengisi kehidupan ini. Apakah kesia-siaan saja yang memenuhinya ataukah kemanfaatan. Padahal kita tak tahu pasti kapan malaikat maut kan menjemput kita.
Mentari pagi menyemburat, ust. Gusdul dan ust Yunarko menunjukkan saling bersahutan berpuisi menyebar makna mengasah jiwa. Karena kedua ustadz ini dikenal dengan dunia sastranya. Ust. Gusdul di sastra Inggris, ust. Yunarko di sastra Indonesia. Mana nih akhirnya yang kan juara.
Dari arah timur, menyembul dari balik bukit. Sang surya perlahan menampakkanwajahnya. Sengaja dicari lokasi tempat menyongsong sunrise moment . Saat indah yang jarang orang bisa menyaksikan hingga mensucikan asma Alloh SWT.
Wuih, indah kali acara pelepasan kelas VI kali ini. Dengan selalu kembali di alam di tambah lagi selalu membaca, mentafakuri alam semesta ciptaan-Nya, makin bergetar saja hati ini. Bergetar untuk selalu ingat, dan ingat hingga selalu istiqomah yang akan menggapai anugrah selalu diliputi perasaan optimisme. Menapaki kehidupan, perjuangan ini . . .


Di luar dugaan,mas Sabiq kelas 3 A tanpa ada satu siswa pun tahu ternyata tampil. Dia menampilkan kemampuannya memukul drum. Ayahnya membawa seluruh perangkat drum langsung dari rumahnya. Hebat juga aksinya, seperti sudah mahir gitu kayak Gilang Ramadhan, Jelly tobing atau Phil Collins.
Begitu sudah diserahkan secara simbolis. Pak Rohmanuddin selaku wakil dari wali siswa menyerahkan seperangkat ensiklopedia 'Muhammad' kepada SDIT Alam Nurul Islam yang diterima oleh ust. Hamdan . Seluruh orang tua bahagia sekali karena target UASBN tahun ini bisa terlampaui.
Hadir juga di acara itu para alumni. Tahun ini adalah tahun ke-5 SDIT Alam meluluskan siswa. Meski sudah tersebar di berbagai sekolah, ternyata mereka masih ada rasa kangen di SDIT Alam. Semoga nilai-nilai yang telah mereka dapat di SDIT Alam akan terukir kuat di hati mereka di tengah-tengah lingkungan pergaulan remaja yang makin bebas ini.
Nah, ni dia saat yang dinanti. Pemutaran perdana film jendral Sudirman. Karya kelas 3. Wuih, ternyata bagus bener loh. Dengan 62 pemain trus cuman 4 kru ustadz-ustadzah hasilnya lumayan. Kayak di film-film tv. Aktingnya itu lho menjiwai banget. Ya meski kostumnya beberapa adegan masih harus diperbaiki. Masih pake sragam SDIT Alam. Tapi, tetep TOPBGT deh. salut untuk kelas 3. Kapan ya VCDnya bisa dirilis ?
Setelah acara Gelar Potensi Siswa dan Perpisahan kelas 6, acara dilanjut dengan pesta bakar jagung. Menu wajib saat Mukhayam. Setiap anak seneng banget, terutama yang belum pernah. Alhamdulillah, seluruh anak bisa tidur lelap pada jam 23.00. Meski ada satu, dua anak yang nangis karena kangen ortu, tapi semua bisa tidur pulas dan dengan mudah bisa bangun jam 03.00 untuk Qiyamulllail.
Selain itu juga ada pemilihan raja dan ratu buku 2009. Serta the Best of Tunurisba (Tujuh Menit Nurul Islam Membaca). Keseluruhan lomba mengambil tema besar satu. Aku Cinta Buku.


Apa kiat supaya jadi penulis. Kata beliau, pertama biasakan selalu untuk selalu baca buku. Yach, paling minimal 1 buku per pekan. Kalo bisa malah 3 buku per pekan. Dulu waktu kecil pak Fauzhil selalu menyisihkan uang saku untuk beli buku. Padahal jarak toko buku dengan rumahnya jauh banget lho. Saking gak sabarnya ingin baca, selama perjalanan pulang sambil jalan buku yang sudah dibelinya bliau baca. Akibatnya bliau sampe nabrak tiang telepon. Eee . . . sampe rumah bukunya udah habis kebaca.
Bliau berpesan, kurangi aktivitas nonton TV. Karena liat TV tu membuat otak kita jadi pasif. Gak berkembang. Latih sejak dini untuk menulis. Swaktu diberi kesempatan bertanya banyak anak-anak yang bertanya. Ada yang menanyakan gimana caranya mendapatkna ide menulis, apakah harus menyepi di pegunungan. Pak Fauzhil menjawab, untuk dapat justru harus ketemu banyak orang. Berdiskusi, baca koran, buku atau internet. Pak Fauzhil tu sering sekali diskusi lho. Tiap pekan hampir beberapa malam digunakan untuk diskusi sampe larut malam.
Ada yang nanya, berapa kekayaan Pak Fauzhil dari menulis ? Bliau jawab, jadi penulis tu jangan berniat untuk cari kekayaan. Tapi berniatlah untuk berbagi ilmu, berdakwah. Jika udah begitu, kekayaan akan mengikutimu. Bliau udah menulis kurang lebih 25 judul. Buku yang paling banyak dicetak sebanyak 150 ribu eksemplar. Tiap bulannya bliau selalu menerima royalti dari penerbit. Kata bliau, jadi gak harus jadi pegawai bisa gajian juga jika jadi penulis. Setiap 3 bulan sekali selalu ke luar negeri. Malaysia, Hongkong, China,. Tapi sekali lagi, pesan bliau, jangan berniat menulis untuk bisa keluar negeri. Tapi niatlah untuk berbagi ilmu bagi kemanfaatan manusia.
Acara diakhiri dengan pembagian hadiah lomba pustaka. Banyak wajah-wajah baru yang tampil. Artinya, potensi di bidang pustaka semakin terasah. Yang palign ditunggu adalah saat pemilihan Raja dan Ratu Buku 2009. Dari beberapa nominasi yang muncul, akhirnya untuk Raja terpilih mas Abyan kelas V. Sedangkan Ratu terpilih mbak Anis kelas IV a. Mereka berdua termasuk peminjam buku di perpustakaan paling banyak, paling memahami isinya bahkan paling hafal dimana letak bukunya di perpustakaan. Selamat ya . . . . Ayo siapa yang mau merebut di tahun depan
Terbukti, kelas 3 B harus mengontrak Azzam 2c senilai Rp. 5000. Kelas 3A harus mengontrak Fauzi kelas 1 C (bayangin kelas 1 lho) senilai Rp. 5000. Diramalkan kontraknya bakal naik karena turut menyumbang gol sewaktu 3A melawan kelas 5.
Meski saat ujian, waktu istirahat bukannya digunakan untuk belajar soal yang diujikan. Karena mereka meyakini bahwa belajar tidak cukup hanya diukur dengan angka-angka nilai. Sehingga mereka masih butuh belajar kemampuan lain untuk menunjang kehidupannya. Kemampuan untuk memproduksi, berpromosi dan menjual. Akhirnya merasakan bagaimana puasnya untung itu.



