Setiap siswa berperan serta membangun kolam. Ya . . . mesti hanya dengan mengumpulkan bebatuan. Di sela saat outboud usai. Tapi coba liat, banyak juga kan saat batu dengan berbagai ukuran itu kumpul menggunung. Sambil menggambar angan terwujudnya kolam ikan yang diisi dengan berbagai warna-warni ikan. Yang dimakan maupun yang hias. Eh, ngomong-ngomong di lokasi ini juga kelak bakal dibuat kolam renang. Wah tambah asyik dong. Kolam renang deket sungai.Nah untuk mengawali mengisi ikan, setiap siswa diberi kesempatan untuk melepas satu ikan yang akan menjadi piaraannya. Untuk mendapatkan seekor ikan, setiap anak harus mencari 2 ekor cacing hidup dulu.
Setiap lahan yang lembab digali. Yang merasa jijik atau yang takut sama cacing mau gak mau harus melakukan. Ada yang saking semangatnya, cacing yang ditarik dari lobang putus. Yach harus cari lagi deh. Soalnya cacing putus gak diterima.
Nah yangudah dapet cacingnya langsung setor ke ustadz. Dituker dengan satu ekor ikan Nila oranye. Eit, tapi tunggu dulu, setiap anak masih harus nyari tempatnya sendiri-sendiri. Boleh gabung deh.
Dengan penuh hati-hati, ikan dibawa menuju kolam pinggir sungai. Dipastikan ikan tidak lemes kehabisan oksigen. Meski sudah jadi kebiasaan jika dipindahkan, ikan akan mengalami stress dulu. Takut disembelih kali.
Bismillahirrohmanirrohiim, bareng-bareng ikan-ikan dilepas. "Ahh . . . lega menemukan dunia baru" begitu terlihat di sorotan mata ikan. Disertai dengan tarian sirip dan ekor yang oranye itu.
Tentu, sambil terus rutin merawat dengan memberi pakan, dan merawat kebersihan kolam dengan penuh harap 3 sampai 4 bulan bisa memanen ikan Nila untuk yang pertama. Bagi yang belum suka ikan, Ayo deh cobain dikit. Selain binatang yang bangkainya aja masih halal asal gak busuk lho, ikan mengandung protein yang sangat bermanfaat bagi perkembangan otak kita. Jadi bisa buat cerdas, gitu. Ayo kita serukan, Ayo Makan Ikan . . . .
Hah, ikan masnya akan mati. Wah pembunuhan itu namanya. Bukan, bukankah untuk percobaan kita butuh makhluk hidup yang hidup di air untuk menunjukkan bahwa deterjen itu memang pencemar. Kan gak mungkin kalo kita pake Ikan gurame ato Koi. Terlalu mahal ! Semua peneliti juga akan menggunakan hewan percobaan untuk menguji hasil percobaannya. Makanya ada istilah kelinci percobaan.
Untuk mendapatkan bahan, setiap kelompok harus rapi. Tuh liat seriusnya mas Landung. Seperti abdi dalem Kraton yang siap menerima perintah sultan. Setiap kelompok mendapat satu ember, satu ekor ikan mas, satu bungkus deterjen serta satu lembar worksheet untuk laporan hasil percobaan. Setelah ember diisi air dan ikan mas, mulailah memasukkan deterjen dimulai dengan 1/2 sendok dulu.
Diaduk sampe larut, kemudian diamati. Bermacam tingkah ikan mas yang berhasil dicatat siswa. Ada yang loncat keluar, bingung, megap-megap, stress. Lima belas menit kemudian dimasukkan lagi 1/2 sendok deterjen. Ada ikan mas yang udah lemes, keluar darah dari bagian insangnya, keluar lendir, diam terbalik. Bahkan ada yang udah mati tak bergerak, Innalillahi wa inna-ilaihi roji'un.

Wah, ternyata bener. Deterjen emang jadi pencemar air. Reaksinya kayak gini nih : (C17H33COO)3C3H5 (gliseril stearat) + 3NaOH
Liat aja, begitu jualan es pasti yang antri langsung panjangnya seperti kereta api. Gak siswa gak ustadz-ustadzah. Pada tergiur benda dingin yang bikin seger itu. Tapi, sekarang penjual es berkurang. Takut gak laku, mencair sebelum waktunya. Menunggu penemu teknik murah penghambat mencairnya es dulu. Baru penjualan es balik normal lagi. Di tengah kondisi Market Day yang pindah jam tayang, ada juga siswa yang kreatif. Kalo jual makanan gak laku, jualan yang lain. Emang jualan apa ? Jasa pijit ? Tukang Cukur ? Ato Semir sepatu ? Ah . . . ngaco deh.
Siswa kreatif itu adalah mbak Qisthi. Dia membuka stand Uji Ketelitian dan Kesabaran. Menggunakan sebuah perangkat elektronik yang di depan ada sebuah kawat panjang yang di buat lekukan. Yang mau dites kesabarannya harus melewatkan tongkat yang ujungnya terlingkar dalam kawat. Dari ujung hingga pangkal. Jika tongkat tersentuh kawat, lampu merah akan menyala berarti permainan berakhir. Untuk sekali main cukup membayar Rp. 500.
Ustadz-ustadzah pada tertarik untuk menguji ketelitiannya. Anak-anak pada ngumpul mengamati bekerjanya alat. Juga seberapa ketelitian ustadz. Wah makin kreatif aja barang jualan di Market Day. Sepertinya tren yang akan berkembang bukan jualan barang lagi namun jual jasa. Ya . . ditunggu siapa yang akan buka jasa semir sepatu, jasa laundry, jasa pijet. Eh, tapi inget loh, kalo mau pijit harus yang muhrimnya yaa . . .
Gak laki-laki, gak perempuan. Semua harus bisa. Bukan perkala sepele lho mencuci itu. Meski udah dibantu dengan teknologi detergent sebagai bahan pengangkat kotoran. Jika salah cara mencucinya salah-salah kotoran masih nempel akrab di baju. Bagian-bagian yang terdapat lipatan sangat rawan dihuni kotoran. Terkhusus yang mengandung lemak.
Awas harus diingat untuk memperhatikan ada gak najis di pakaian. Sebelum dicuci hendaknya dilakukan pemisahan. Mana pakaian yang bernajis mana yang nggak. Jangan sampai najis yang seharusnya dicuci malah larut mengenai pakaian yang lainnya. Sangat penting, agar kondisi pakaian tetap bersih, nyaman untuk ibadah.
Alhamdulillah, insya Alloh mulai sekarang sudah bisa mencuci pakaian sendiri. EEh, bisa juga loh kita buka jasa laundry. Nyuciin baju temen-temen yang pada males nyuci. Sekaligus punya gimana nyuci berbagai macam pakaian. Dengan bahan yang macem-macem pula. Syukur-syukur bisa menemukan mesin pencuci yang lebih canggih dibanding mesin-mesin cuci yang sekarang ini beredar di masyarakat. Amin.
Siang itu tampak ramai sekali di selasar depan kelas 1 A dan B. Segala jenis bentuk mainan digelar. Ada celengan kertas berbentuk kuda poni, miniatur rumah dari sendok es krim, miniatur pesawat ulang alik, topeng dari alas sandal, bingkai foto kertas, dan lain-lain dengan segala bentuk keunikan.
Setiap pengunjung diperbolehkan tidak hanya melihat dan menyentuh, tapi beli bahkan mborong pun boleh. Harganya berkisar antara Rp. 2000 an hingga Rp. 5000 an.
Wah pokoknya sukses deh temen-temen kelas 1. Ternyata meski masih junior tapi kreatif banget. Salut deh, moga kakak-kakak kelasnya pada iri dan mampu mencontoh hingga melakukan pameran juga seperti mereka













