Saturday, January 30, 2016

Pentas Teater Kelas 2 : ' Bukan Urusanku ! '

Satu bulan sudah terlewati di semester dua ini, tentu tema pertama di setiap level kelas sudah selesai. Saatnya tutup tema dan memamerkan produk hasil pembelajaran mereka. Indikator belajar berhasil adalah adanya perubahan. Bukan semata tahu tapi mampu. Lebih jauh dan idela lagi jika pembelajaran mampu memberi, menebar kemanfaatan bagi manusia dan bahkan makhluk sekitar. 
 Menutup tema pembelajaran 'Musyawarah', kelas 2 SDIT Alam membuat proyek dengan penampilan teater yang diberi judul 'Bukan Urusanku !' Teater kelas 2 ini tampil pada hari Jum'at 29 Januari 2016 di GOR SDIT Alam Nurul Islam. Dengan mengundang para orang tua siswa beserta keluarga, momen teater ini akan menjadi kali pertama show besar disamping Gelar Potensi Siswa. Teater terdiri dari 2 babak. Babak pertama menampilkan 'Once upon a Time' -nya perkembangan musyawarah dalam mengambil keputusan atas sebuah permasalahan. Diawali dengan tampilan anak-anak yang berpakaian bak keluarga Flinstone karena memang mereka sedang tampil di jaman batu. Rupanya untuk mengambil keputusan saat itu berdasarkan siapa yang paling kuat. "Yang paling kuat lah ia yang menang !" begitu seru ketua suku kepada rakyatnya dalam menentukan apa yang akan dimakan suatu hari.
 Jaman selanjutnya adalah jaman kerajaan. Dimana sang raja adalah pemutus utama setiap pilihan dalam setiap masalah. Sehingga si patih selaku perantara raja dan rakyat harus bolak-balik komunikasi untuk memenuhi permintaan rakyatnya karena raja tidak boleh ketemu langsung dengan rakyatnya. Tapi lucunya di adegan tersebut si raja akhirnya menuruti permintaan rakyatnya untuk dikasih ice cream . . . hihihi
Berlanjut di jaman Wild wild West, jaman koboi. Dimana keputusan ditentukan dengan adu tembak untuk menunjukkan kejantanan para koboi. Adegan lucu saat 2 koboi adu tembak, setelah kedua koboi melepas tembakan, salah seorang koboi tersungkur disusul kemudian koboi satunya juga kena tembak. Menjelang ajal kedua koboi tersebut menyesal kenapa diputuskan pakai adu tembak. Jaman terakhir yang ditampilkan adalah jaman terkini dengan hadirnya Pak Rete (pak RT red) yang memutuskan perselisihan kumpulan 2 bocah yang saling berebut Durian dengan berantem. Meski Pak Rete sempat kena juga pukulan bogem baocah-bocah tapi dengan dedikasinya ia hadir sebagai penengah warganya. Salut pada Pak Rete.
Babak kedua penampilan teater berjudul 'Bukan Urusanku !' Seting kejadian di tahun 80an dimana menceritakan seorang anak bernama Bagas yang diingatkan kembali dahulu semasa ayahnya masih hidup. Ayahnya seorang yang berkarakter tegas dan keras. Ia ingin anaknya menjadi siswa yang selalu berprestasi sehingga selalu menginginkan anaknya untuk selalu belajar keras. Suatu hari si Bapak baru saja mendapatkan rapor hasil belajar si Bagas dan dijumpai nilai-nilai yang kurang. Betapa marah dan kecewanya Bapak menakala menemukan si Bagas yang justru tidak belajar keras namun malah sering bermain dengan teman-temannya.
Kemarahan Bapak tumpah ruah pada diri Bagas. Bapak merasa sudah banyak jerih payah dilakukan untuk kesuksesan Bagas tapi apa daya si Bagas buruk prestasinya. Si Ibu hadir mengkondisikan suasana dan sedikit membela Bagas, tapi justru menambah kemarahan Bapak. 
Bapak tambah uring-uringan lagi manakala saat Bagas mau main Ibu memberi ijin bukannya meminta Bagas untuk selalu belajar karena nilainya yang kurang. Kemarahan Bapak memuncak sampai membentak Ibu untuk lebih tegas pada Bagas. "Urusan rumah, anak semua adalah urusan Ibu, itu bukan urusanku !" Tiba-tiba Bapak terkena serangan jantung dan mendapatkan ajalnya, si Bagas mendekat sedih, Bapak pun merasa menyesal telah menekannya supaya selalu memenuhi permintaannya. Akhirnya Bapak meninggal . . . . .
Teater 'Bukan Urusanku !' naskah ditulis oleh Abdullah Imaduddin, Musik oleh Ginong Pratidhina Nur Muhammad, Properti oleh JAB, Jaringan Anak Bahasa UAD, Sutradara Yunarko Budi Santoso. Pemeran, Bapak oleh Muh Hamdan, Ibu oleh Dyah Nurhidayati, Bagas besar oleh Maulana, Bagas kecil oleh Adin.


Wednesday, January 20, 2016

Tangga Cita-cita

Outbound perdana semester 2 kali ini sudah dimulai oleh kelas atas, kelas 4 hingga 6. Setiap kelas menjalani outbound berdasarkan perencanaan masing-masing tim guru kelas. Nuansa outbound biasanya tidak terlepas dengan tema pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Mulai dari warming up, Fun Games, Low Impact semua dipersiapkan permainannya oleh tim guru. Pun juga dalam pelaksanaan hingga pemaknaannya atau debriefing. Sedangkan untuk High Impact-nya dipersiapkan oleh tim outbound yang lebih profesional dikarenakan permainan yang dilakukan menyangkut resiko yang tinggi sehingga butuh tenaga dan ekstra pengamanan yang tinggi pula.
Untuk permainan High Impact kali ini adalah Tangga Cita-cita. Di permainan ini setiap anak diwajibkan untuk meniti tangga yang terbuat dari bambu. Tangga itu diikat menggantung menggunakan karmantel di bawah sebuah jembatan. Ujung bawah tangga berada di sungai. Bambu itu akan selalu bergerak, untuk mengendalikannya ada 4 buah tali sebagai penahan yang harus ditarik saat ada yang naik.
Sedangkan yang naik diharuskan memakai tali harnes untuk pengamanan yang ujungnya diikat dengan karmantel yang fleksibel bergerak diikat dengan karabiner. Ujung karmantel juga dikendalikan oleh tenaga ahli.
Begitu sudah sampai pada tangga paling atas, tantangan tidak lantas selesai. Meski bola sebagai target yang harus disentuh tidak dengan mudahnya untuk langsung disentuh. Karena masih harus membutuhkan keseimbangan di ujung tangga. Begitu bola sudah tersentuh, misi sudah berhasil dilaksanakan.
Bagi yang sudah berhasil lantas melepaskan diri dari tangga dan meluncur ke bawah mendarat di atas air. Byuur. Meski kondisi cuaca hujan, kegiatan high impact tetep dilaksanakan dengan tetep waspada manakala banjir datang. Alhamdulillah kegiatan bisa dilaksanakan dengan sukses

Mini Library

Memasuki semester genap ini ada budaya baru yang akan digerakkan di Sekolah Alam Jogja. Setelah di semester ganjil kemarin budaya sholat berjama'ah terkhusus bagi siswa kelas atas, kelas 4 hingga 6, maka di semester kali ini satu budaya lagi diangkat. Yaitu budaya membaca. Sekolah Alam Jogja mempunyai target tentang membaca adalah, budaya membaca dikatakan berhasil manakala ia sudah menggantikan aktivitas mendengar. Jika siswa sudah melakukan lebih banyak aktivitas membaca dalam memenuhi keingintahuannya dengan berbagai informasi ketimbang duduk diam mendengarkan guru maupun alat media. Nah, kondisi tersebut berarti sudah berhasil.
Untuk mewujudkan budaya membaca tersebut tidaklah cukup hanya dengan seruan. Sangat butuh prosedur teknis dan alat penunjangnya. Prosedur teknis akan menjamin aktivitas membaca dilakukan dan dibiasakan. Sehingga dari belum dilakukan menjadi dilakukan, terus berlanjut menjadi kebiasaan. Untuk membaca ternyata tidaklah cukup hanya dipenuhi dengan keberadaan perpustakaan. Bahkan perpustakaan yang sudah ditunjang dengan koleksi lengkap dan sistem database digital. Karena faktor seperti jarak kelas dengan perpustakaan turut menyumbang potensi minat baca yang rendah.
Dari permasalahan akses perpus yang kurang, muncullah ide Mini Library atawa perpustakaan kecil. Yaitu dimana perpustakaan 'membuka cabang' di setiap kelas. Buku didekatkan dengan siswa. Jika di hotel-hotel berbintang selain ada Bar utama sebagai tempat penyedia berbagai macam minuman, di setiap room mereka juga sediakan layanan Mini Bar. Kurang lebih begitu kesamaan idenya.
 Koleksi Mini Library diambilkan dari buku perpustakaan yang diputar setiap pekan. Koleksi Mini Library ditambah dengan buku-buku yang berasal dari setiap siswa yang dipinjamkan untuk berbagi baca dengan teman lainnya. Terkhusus kelas atas, buku-buku yang distok berupa Novel untuk sastra dan buku pengetahuan populer. Selain membangun kebiasaan membaca juga melatih untuk menangkap informasi dan makna dari aktivias membaca tersebut.
Dengan keberadaan Mini Library, saat istirahat setiap siswa langsung siap sajian bacaan di tempat. Tidak lagi harus direpotkan dengan jarak, antrian, denda jika lupa mengembalikan. Tentu untuk menjamin ini menjadi kebiasaan harus dipantau dan dievaluasi terutama bagi siswa yang masih jarang melakukan aktivitas membaca.

Monday, December 14, 2015

Nuris Games 5

Momen Ujian Akhir Semester sudah selesai. Tapi, ujian bukan berarti aktivitas pembelajaran usai juga. Pembelajaran harus terus berlangsung. Ujian hanya merupakan saat untuk mengukur capaian dari proses pembelajaran siswa selama satu semester. Untuk melihat bagian mana yang kurang ataukah malah melebihi target. Pekan ini kegiatan tahunan yang sudah dinanti siswa resmi dibuka. Itulah Nuris Games 5.
Proses pembukaan Nuris Games berlangsung pada hari Senin, 14 Desember 2015. Seperti Nuris Games tahun sebelumnya, kali ini juga dilaksanakan untuk kelas bawah dan kelas atas. Untuk kelas atas dikelompokkan dengan masing-masing kelompok terdiri dari siswa dari berbagai kelas. Di dalam sambutannya, kepala sekolah menyampaikan bahwa kehidupan ini selalu diliputi dengan kompetisi. Bahkan kita semua ini adalah para pemenang dari proses penciptaan manusia. Kita adalah pemenang satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur. Yang mengalahkan berjuta-juta sel sperma lain yang telah kalah dalam kompetisi itu. Begitu juga setelah lahir hingga menjalani kehidupan ini kita akan selalu mengalami kompetisi. Maka selalu diri kita untuk selalu siap dengan mengikuti kompetisi. Di Nuris Games 5 ini semua siswa dilatih untuk siap berkompetisi dengan berbagai permainan. Dan dengan semua permainan itu setiap siswa harus bersikap sportif, semangat, siap kalah dan siap menang. 
Proses pembukaan diwarnai dengan penyulutan api ke arah balon-balon yang bergantungan. Penggunaan api sebagai simbol semangat yang membara pantang menyerah. Sebagai energi berkompetisi di Nuris Games 5 kali ini. Kelompok kali ini menggunakan nama para shohabat dan shahabiyah Rasul SAW. Setelah prosesi penyulutan balon dilanjutkan dengan penulisan pesan di secarik kertas yang digantungkan balon-balon. Perwakilan kelompok maju untuk menerbangkan balon yang membawa pesan-pesan. Balon-balon itu akan terbang meninggi setinggi harapan dan cita mereka.


  
Setiap kelompok berjuang untuk mengumpulkan medali-medali kejuaraan. Golden medal, Silver medal dan Bronze medal. Sudah tentu kelompok pengumpul medali terbanyak sebagai juaranya.



Sunday, November 29, 2015

Outing Kelas 5 : Candi Sambisari, Masjid Gedhe Kauman dan Sentra Tenun Lurik Krapyak

Rupanya kelas 5 melaksanakan kegiatan outing di waktu paling ujung dan menjelang pungkasan pembelajaran di semester 1 ini sebelum masuk ke waktu ujian akhir semester di akhir November. Hari Kamis, 26 November 2015, kelas 5 melaksanakan outing untuk menajamkan pembelajaran tema Sejarah dan Benda. Sejarah yang dipelajarai di kelas 5 ini terkait dengan proses perkembangan kerajaan Hindu, Budha dan Islam. Untuk Benda terkait dengan mempelajari bahan dasar pembuat benda.
Pertama kali tujuan outing adalah candi Sambisari. Letaknya di wilayah Purwomartani Kalasan Sleman. Candi Sambisari merupakan candi Hindu dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. 
Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari yang sedang mencangkul dan cangkulnya nyangkut pada sebuah batu yang ternyata bongkahan batu dari candi tersebut. Candi dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut.
Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyatukan serpihan bebatuan candi. Karena memang tidak semua serpihan masih utuh. 
Dikarenakan candi Hindu banyak arca dan simbol dewa Siwa yang bertebaran di area candi. Diantararanya ditemukannya Lingga sebagai lambang Siwa atau laki-laki dan Yoni sebagai lambang istri Siwa atau perempuan. Ditemukan juga arca Ganesa dan beberapa simbol yang terdapat dalam agama Hindu.
Perjalanan berlanjut ke masjid Gedhe Kauman. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah pembuatan masjid Gedhe. Masjid Gedhe ternyata dibangun pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah kurang lebih 18 tahun berdirinya keraton Jogjakata Hadiningrat. Bangunan yang sebagian besar dari kayu ini masih terlihat kokoh meski sudah berumur ratusan tahun. Ada 36 tiang di bangunan utama. Tiang utama setinggi 28 meter utuh tanpa sambungan. Udah kebayang kan gimana cara mendirikannya padahal waktu itu belum ada alat crane?
Awal mula atap masjid berupa rapak dari daun rami kering. Dikarenakan tidak awet, maka semenjak tahun 1923 atap masjid diganti dengan bahan seng. Dinding masjid dibuat dari batu bata bukan dari tanah liat namun dari batu andesit. Setiap bata dilekatkan bukan dengan semen namun campuran antara putih telur dan air nira. 

Ini adalah prasasti setelah masjid Gedhe selesai dibangun yang membutuhkan waktu selama 2 tahun. Prasasti dibuat dalam 2 versi, yaitu bahasa Arab dan bahasa Jawa. Setiap kegiatan renovasi juga menyertakan prasasti sebagai penjelas setiap aktivitas pembangunan masjid.
Di dalam masjid Gedhe suasana nampak gelap dan senyap, namun bersih dan wangi. Di depan sisi utara ada bangunan kayu yang ada tangga di tengahnya, itu adalah mimbar khotib Jum'at. Di sebelah selatan ada sebuah bangunan mirip sangkar dari kayu. Namanya maksurah, itu adalah tempat Sri Sultan sholat jika berjama'ah di masjid. Namun, sekarang Sri Sultan tidak lagi bertempat di maksurah tapi sudah bergabung dengan jama;ah lainnya.
Lokasi outing terakhir adalah di industri tenun lurik di daerah Krapyak Jogja. Lokasinya berada di sebelah timur bangunan panggung Krapyak. Di lokasi kita disambut oleh mas Yosi sebagai pengelola Kain Tenun Lurik tersebut. Kami dijelaskan terkait proses pembuatan kain tenun lurik. Bahan utama tenun adalah benang yang berasal dari kapas. Benang-benang itu pertama dipintal atau digulung dahulu sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya gulungan benang diberi pewarnaan untuk menyesuaikan dengan warna desain tenunan.  Setelah diwarna, digulung lagi dan siap untuk ditenun. Alat tenun yang digunakan masih tradisional. Masih mengandalkan tenaga terampil manusia. Satu meter kain tenun kurang lebih membutuhkan 3000 benang yang akan ditenun.
Yang mengagumkan adalah, kebanyakan penenun tradisional disitu sudah berusia lanjut. Namun masih mempunyai pandangan yang tajam untuk memasukkan dan mencari benang yang kusut. Dalam satu hari rata-rata bisa menyelesaikan kain tenun sepanjang 8 meter.
Beberapa anak penasaran ingin mencoba menggulung dan menenun benang. Baru beberapa detik saja sudah ada benang yang putus. Butuh ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Pantesan saja ya harga kainnya juga mahal. Karena memang hasil senin tenun dari tangan langsung.

Thursday, November 26, 2015

Selamat Hari Guru 2015

Setiap 25 November menjadi hari spesial bagi setiap guru. Selalu di setiap tanggal tersebut diperingati sebagai hari Guru Nasional. Hari di saat setiap orang mengingat jasa dan peran setiap orang yang telah menjadi guru di kehidupannya. Guru yang sudah ditempatkan di ruang hati dan menjadi ingatan di setiap saat. 
Meski banyak sekolah lain libur tidak mengadakan proses pembelajaran, namun SDIT Alam tetep masuk dan menyelenggarakan peringatan hari Guru dengan acara performance para guru dan siswa. "Kita harus selalu ingat bahwa libur hakiki kita ada dimana . . .?" Tanya ust. Ariefuddin dalam sambutannya. Beberapa siswa menjawab, " Surga !!"  . . . Betul ! Karena di surga memang sudah tidak berlaku lagi kegiatan yang berujung pada kelelahan dan kepayahan. Tidak ada lagi belajar bahkan ibadah, bisa jadi kalo gak mandi pun badan kita tetep harum. Beda kalo liburnya di dunia. Sering kan anak-anak males mandi jika libur, betul kan? Dan bau badan sudah pada hafal sendiri kan? Di hari spesial untuk guru ini mari kita kenang dan sampaikan terima kasih untuk para guru kita. Guru yang sudah membuat diri kita tahu dan mampu. Bahkan para siswa, anak sekalian merupakan guru bagi kami. Karena dengan mengenal para siswa setiap guru diajari untuk memahami bahwa setiap anak mempunyai keunikan yang tidak bisa digeneralisir dan disamakan. Anak-anak telah menjadi guru bagi ustadz-ustadzah bagaimana harus bersabar mendampingi dan mendidik.
 Sebagai simbolisasi ucapan terima kasih perwakilan guru meju ke atas panggung, kemudian kepala sekolah memberikan masing-masing satu buah kue tart yang dihiasi dengan angka 1. Apa ya maknanya? Ternyata maknanya adalah You always number one for me. Kemudian bareng-bareng siswa dan guru menyanyikan lagu Number One for Me nya Maher Zain. Suasana menjadi syahdu dan haru jika betapa besarnya para guru-guru kita telah berbuat banyak untuk kita.
Ada juga penampilan ustadz Maulana dan ustadzah Dyah disertai dengan ilustrasi tarian oleh siswa kelas 2. Mereka menampilkan lagu dan puisi. Kolaborasi ini sangat menarik meski tanpa persiapan yang lama karena dengan semangat untuk memperingati hari guru, akhirnya jadi oke juga.


Di acara itu digelar pemutaran perdana film karya siswa kelas 5B berjudul Kanibal 2. Karena ini menjadi sequel dari film pertama yang berjudul Kanibal. Kisahnya terkait dengan usaha sekumpulan anak-anak kampung dalam mencegah juragan kayu untuk menebangi pohon di hutan yang akan dieskport ke China. Nha usaha para anak kampung itu unik, mereka mengembangkan mitos bahwa di hutan itu ada suku primitif yang suka memakan daging manusia alias kanibal. Trus, gimana lanjutannya, tonton  sendiri aja ya filmnya.

Selain itu ada juga performance dari ustadzah, ada grup Lakepri Band yang terdiri dari ustadzah Wiwid, Nurul dan Sitikho. Lakepri Band menampilkan lagu karya ustazah Wiwid berjudul Laa Taghdhab. Tampil juga ustadzah Khusnul yang membacakan tembang macapat tentang guru. Nah, yang ditunggu-tunggu dan penampilan terakhir adalah Elekyo band. Grup band yang terdiri dari ustadz-ustadz ini menampilkan 4 lagu, Kun Anta, Sebiru Hari Ini, IT Alam covering dari lagu Sayyidan dan Berlapang Dada. Dan juga pada kesmepatan kali ini diumumkan kategori ustadz/ah favorit.
Penentuannya melalui polling pemungutan suara dari seluruh siswa. Kita ingin tahu seberapa favorit ustadz/ah di mata siswa. Untuk tahun ini kategori guru paling Rapi adalah ust. Budi Suprayitno, Guru paling Lucu adalah ust. Yunarko, guru paling Kreatif adalah ust. Ginong, guru paling rajin adalah ust. Hardi, guru paling Ramah adalah ust. Budi Suprayitno dan guru paling tegas adalah ust. Bintara. Untuk tahun ini belum masuk nominasi ustadzah di kategori guru favorit. Selain itu ada kesempatan juga dibacakan surat-surat yang ditulis para siswa untuk para gurunya. Ada satu kejadian yang mengharukan, salah satu siswi, mbak Khalida kelas 6 maju membacakan suratnya untuk ustadzah Dina, kemudian mbak Khalida turun panggung menuju usth Dina dan memberikan ucapannya diiringi dengan pelukan haru. Para hadirin terbawa suasana haru ditambah mbak Khalida memberikan suapan kepada usth Dina. Jika cinta sudah bersemayam di hati, tak butuh lagi banyak kata-kata untuk saling menggerakkan.

Sunday, November 22, 2015

Outing Kelas 1 : Pabrik Bakpia, Museum Sonobudoyo dan Taman Lalu Lintas

Untuk menajamkan pembelajaran dengan tema Keberagaman serta tema Aku Suka Hidup Tertib, Kelas 1 pada hari Selasa, 10 November 2015 mengadakan outing ke 3 tempat. Pabrik Bakpia untuk mengetahui proses pembuatan makanan khas Jogja, Bakpia. Lalu ke Museum Sonobudoyo tempat menyimpan berbagai artefak dan seni. Dan terakhir di Taman lalu lintas.
  Pusat industri pembuatan bakpia ada di Pathuk Jogja. Mumpung masih pagi, outingnya pertama ke sentra bakpia dulu. Di sini anak-anak menyaksikan bagaimana proses pembuatan bakpia dilakukan. Ternyata bahan utama bakpia adalah tepung terigu. Meskipun untuk isi bakpia kini sudah mulai bermacam-macam bentuknya. 
 Di Bakpia Pathuk usai, outing berlanjut ke museum Sonobudoyo. Di museum ini anak-anak menyaksikan benda-benda seni dari seniman keraton Jogja dan seniman lainnya. Mungkin anak-anak masih merasa abstrak ya mendengar penjelasan dari pemandu, tapi pasti deh ada kesan sewaktu menikmati karya seni para seniman itu.
  Selesai dari museum Sonobudoyo, perjalanan berlanjut ke daerah Giwangan. Deket dengan terminal bus Jogja. Di sana ada wahana taman Lalu Lintas. Anak-anak  bisa bermain sambil belajar memahami aturan lalu lintas. Memahami bahwa ketertiban itu wajib ditegakkan supaya keselamatan berkendara terjadi. Jika dalam berlalu lintas tidak mentaati aturan, tidak saja diri sendiri yang mungkin akan kena celaka. Orang lain pun bisa jadi akan turut terkena akibatnya. Maka selalulah untuk tertib berlalu lintas.




 
 Setiap nilai dan karakter akan lebih mudah diserap jika anak-anak ikut melakukan. Bukan hanya guru menerangkan saja meski juga sudah dilengkapi gambar dan video. Karena merasakan itu termasuk pembelajaran yang lebih banyak porsi dipahami karena dengan melakukan akan muncul kesan dan pengalaman.