Showing posts with label outing. Show all posts
Showing posts with label outing. Show all posts

Wednesday, February 10, 2016

Outing Kelas 4 : Gedung DPRD DIY dan Pasar Beringharjo

Mengangkat tema pembelajaran 'Sang Pemimpin' dan 'Kerjasama' kelas 4 SDIT Alam Nurul Islam menutup rangkaiannya dengan melakukan outing. Outing kali ini akan mengambil obyek di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I DIY dan ke pasar Beringharjo. Di kelas 4 siswa mempelajari materi ketatanegaraan di pelajaran PKn. Untuk materi ini memang dikenal cukup berat karena mau tidak mau siswa diharuskan menghafal. Padahal target pembelajaran bukan semata tahu tapi juga paham. Sehingga untuk materi tata negara yang mempelajari fungsi pemerintahan eksekutif dan legislatif pada level daerah (propinsi dan kabupaten) dipilihlah metode simulasi. Di awal tema kelas 4 mengadakan simulasi pemilihan presiden dengan prosesinya pembentukan partai politik. Partai politik melakukan kampanye supaya dikenal masyarakat untukkemudian menjatuhkan pilihan wakilnya dari tiap partai di Pemilu.
 Siswa yang lolos terpilih menjadi pejabat baik, presiden maupun anggota legislatif memakai pakaian yang menunjukkan pejabat negara. Beberapa pejabat pembantu seperti menteri juga dipilih untuk membantu tugas presiden, meski dengan nomenklatur atau istilah yang berbeda disesuaikan dengan kondisi. Sehingga konsep tata negara tidak sebatas hafalan saja namun tersimulasi setiap hari sekaligus dijalani dalam mengelola ketertiban siswa di kelas. Nah, untuk lebih riil lagi, kali ini outing dipilih gedung DPRD tingkat I supaya semua siswa menjadi lebih kongkrit memahami konsep ketatanegaraan. Tidak hanya sebatas membayang-bayangkan saja.
Di gedung DPRD I DIY, anak-anak diterima langsung di ruang audiensi. Anak-anak mendapatkan penjelasan tentang tugas dan kegiatan yang dilakukan oleh para anggota dewan dan kegiatan DPRD I. Selain secara informasi langsung dari narasumber, mereka juga bisa secara langsung menginderai, meraba, membaui langsung suasana gedung DPRD I. Tentu hadir langsung sangat memberikan pengalaman dan sensasi lebih dibanding hanya melihat gambar bahkan full color sekalipun.
Apalagi bisa berfoto bareng dengan anggota dewannya, pasti sensasinya berbeda. Di akhir kunjungan siswa bisa berkesempatan berfoto bareng dengan wakil ketua DPRD I DIY Bapak Arif Noor Hartanto, SIP. Seperti ini jadi ikut bisa ngrasakan gimana orang-orang yang melakukan apapun demi bisa menghadiri konser untuk ketemu fans pujaannya. Meski mahalnya tiket, desak-desakan dengan banyak orang, seperti ada energi yang memberikan tenaga manakala bisa ikut menyaksikan dibandingkan hanya sebatas mendengarkan dari mp3 maupun baca gosipnya di majalah.
Setelah selesai acara di gedung DPRD I DIY, perjalanan berlanjut ke lokasi pasar terbesar di Jogja, yaitu pasar Beringharjo. Di Beringharjo, anak-anak akan mengadakan survei dan wawancara kepada para pedagang untuk memahami bagaimana proses dagang yang dilakukan.
Anak-anak secara kelompok dibagi area untuk menjumpai pedagang dan wawancara. Selain menanyakan identitas, mereka diminta untuk menggali bagaimana proses jualannya dilakukan. Berapa modal yang disiapkan setiap hari, mendapatkan barang dagangan, mulai jualannya hingga berapa untung yang didapat. 
Dengan wawancara tersebut bukan semata anak mendapatkan informasi tapi secara mendalam mereka jadi 'dipaksa' untuk ikut merasakan dengan menyaksikan kondisi langsung, bisa jadi menyentuh tangan dengan bersalaman, mencium bau pasar, riuhnya suasana pasar yang akan memunculkan sensasi pada diri anak. Tentu kepedulian dan yang lebih penting semangat wirausaha bisa terimbaskan pada diri anak sehingga setelah bertemu para pedagang muncul tekad untuk mempunyai mindset dan semangat yang sama, meski tidak harus jadi pedagang di pasar.
Tak lupa ucapan terima kasih setelah wawancara selesai, Respon yang sangat baik dari para ibu-ibu pedagang ditemui oleh para pelajar SD yang mewawancarainya. Memang belajar langsung melakukan itu sangat kaya informasi dan pengalaman.

Sunday, November 29, 2015

Outing Kelas 5 : Candi Sambisari, Masjid Gedhe Kauman dan Sentra Tenun Lurik Krapyak

Rupanya kelas 5 melaksanakan kegiatan outing di waktu paling ujung dan menjelang pungkasan pembelajaran di semester 1 ini sebelum masuk ke waktu ujian akhir semester di akhir November. Hari Kamis, 26 November 2015, kelas 5 melaksanakan outing untuk menajamkan pembelajaran tema Sejarah dan Benda. Sejarah yang dipelajarai di kelas 5 ini terkait dengan proses perkembangan kerajaan Hindu, Budha dan Islam. Untuk Benda terkait dengan mempelajari bahan dasar pembuat benda.
Pertama kali tujuan outing adalah candi Sambisari. Letaknya di wilayah Purwomartani Kalasan Sleman. Candi Sambisari merupakan candi Hindu dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. 
Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa Sambisari yang sedang mencangkul dan cangkulnya nyangkut pada sebuah batu yang ternyata bongkahan batu dari candi tersebut. Candi dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut.
Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyatukan serpihan bebatuan candi. Karena memang tidak semua serpihan masih utuh. 
Dikarenakan candi Hindu banyak arca dan simbol dewa Siwa yang bertebaran di area candi. Diantararanya ditemukannya Lingga sebagai lambang Siwa atau laki-laki dan Yoni sebagai lambang istri Siwa atau perempuan. Ditemukan juga arca Ganesa dan beberapa simbol yang terdapat dalam agama Hindu.
Perjalanan berlanjut ke masjid Gedhe Kauman. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah pembuatan masjid Gedhe. Masjid Gedhe ternyata dibangun pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah kurang lebih 18 tahun berdirinya keraton Jogjakata Hadiningrat. Bangunan yang sebagian besar dari kayu ini masih terlihat kokoh meski sudah berumur ratusan tahun. Ada 36 tiang di bangunan utama. Tiang utama setinggi 28 meter utuh tanpa sambungan. Udah kebayang kan gimana cara mendirikannya padahal waktu itu belum ada alat crane?
Awal mula atap masjid berupa rapak dari daun rami kering. Dikarenakan tidak awet, maka semenjak tahun 1923 atap masjid diganti dengan bahan seng. Dinding masjid dibuat dari batu bata bukan dari tanah liat namun dari batu andesit. Setiap bata dilekatkan bukan dengan semen namun campuran antara putih telur dan air nira. 

Ini adalah prasasti setelah masjid Gedhe selesai dibangun yang membutuhkan waktu selama 2 tahun. Prasasti dibuat dalam 2 versi, yaitu bahasa Arab dan bahasa Jawa. Setiap kegiatan renovasi juga menyertakan prasasti sebagai penjelas setiap aktivitas pembangunan masjid.
Di dalam masjid Gedhe suasana nampak gelap dan senyap, namun bersih dan wangi. Di depan sisi utara ada bangunan kayu yang ada tangga di tengahnya, itu adalah mimbar khotib Jum'at. Di sebelah selatan ada sebuah bangunan mirip sangkar dari kayu. Namanya maksurah, itu adalah tempat Sri Sultan sholat jika berjama'ah di masjid. Namun, sekarang Sri Sultan tidak lagi bertempat di maksurah tapi sudah bergabung dengan jama;ah lainnya.
Lokasi outing terakhir adalah di industri tenun lurik di daerah Krapyak Jogja. Lokasinya berada di sebelah timur bangunan panggung Krapyak. Di lokasi kita disambut oleh mas Yosi sebagai pengelola Kain Tenun Lurik tersebut. Kami dijelaskan terkait proses pembuatan kain tenun lurik. Bahan utama tenun adalah benang yang berasal dari kapas. Benang-benang itu pertama dipintal atau digulung dahulu sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya gulungan benang diberi pewarnaan untuk menyesuaikan dengan warna desain tenunan.  Setelah diwarna, digulung lagi dan siap untuk ditenun. Alat tenun yang digunakan masih tradisional. Masih mengandalkan tenaga terampil manusia. Satu meter kain tenun kurang lebih membutuhkan 3000 benang yang akan ditenun.
Yang mengagumkan adalah, kebanyakan penenun tradisional disitu sudah berusia lanjut. Namun masih mempunyai pandangan yang tajam untuk memasukkan dan mencari benang yang kusut. Dalam satu hari rata-rata bisa menyelesaikan kain tenun sepanjang 8 meter.
Beberapa anak penasaran ingin mencoba menggulung dan menenun benang. Baru beberapa detik saja sudah ada benang yang putus. Butuh ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Pantesan saja ya harga kainnya juga mahal. Karena memang hasil senin tenun dari tangan langsung.

Sunday, November 22, 2015

Outing Kelas 1 : Pabrik Bakpia, Museum Sonobudoyo dan Taman Lalu Lintas

Untuk menajamkan pembelajaran dengan tema Keberagaman serta tema Aku Suka Hidup Tertib, Kelas 1 pada hari Selasa, 10 November 2015 mengadakan outing ke 3 tempat. Pabrik Bakpia untuk mengetahui proses pembuatan makanan khas Jogja, Bakpia. Lalu ke Museum Sonobudoyo tempat menyimpan berbagai artefak dan seni. Dan terakhir di Taman lalu lintas.
  Pusat industri pembuatan bakpia ada di Pathuk Jogja. Mumpung masih pagi, outingnya pertama ke sentra bakpia dulu. Di sini anak-anak menyaksikan bagaimana proses pembuatan bakpia dilakukan. Ternyata bahan utama bakpia adalah tepung terigu. Meskipun untuk isi bakpia kini sudah mulai bermacam-macam bentuknya. 
 Di Bakpia Pathuk usai, outing berlanjut ke museum Sonobudoyo. Di museum ini anak-anak menyaksikan benda-benda seni dari seniman keraton Jogja dan seniman lainnya. Mungkin anak-anak masih merasa abstrak ya mendengar penjelasan dari pemandu, tapi pasti deh ada kesan sewaktu menikmati karya seni para seniman itu.
  Selesai dari museum Sonobudoyo, perjalanan berlanjut ke daerah Giwangan. Deket dengan terminal bus Jogja. Di sana ada wahana taman Lalu Lintas. Anak-anak  bisa bermain sambil belajar memahami aturan lalu lintas. Memahami bahwa ketertiban itu wajib ditegakkan supaya keselamatan berkendara terjadi. Jika dalam berlalu lintas tidak mentaati aturan, tidak saja diri sendiri yang mungkin akan kena celaka. Orang lain pun bisa jadi akan turut terkena akibatnya. Maka selalulah untuk tertib berlalu lintas.




 
 Setiap nilai dan karakter akan lebih mudah diserap jika anak-anak ikut melakukan. Bukan hanya guru menerangkan saja meski juga sudah dilengkapi gambar dan video. Karena merasakan itu termasuk pembelajaran yang lebih banyak porsi dipahami karena dengan melakukan akan muncul kesan dan pengalaman.

Outing Kelas 2 : Kerukunan di Desa Wisata Grogol

Mengangkat tema Kerukunan dan Perubahan Sifat Benda, kelas 2 mengadakan kegiatan outing untuk memperdalam pembelajaran memilih lokasi di desa Wisata Grogol Seyegan Sleman. Di Hari Selasa, pas Hari Pahlawan 10 November 2015 bersamaan dengan outingnya kelas 1. Tema kerukunan sangat abstrak untuk hanya disampaikan dengan ceramah saja. Butuh dilakukan, dipraktekkan bersama. Pilihan di desan wisata Grogol yang menyediakan wahana wisata berupa permainan kerjasama, dan wisata kuliner cukup tepat.
Kegiatan di awal yang diikuti siswa adalah mengikuti fun games yang dibawakan oleh kakak-kakak instruktur outbound di sana. Fun Games yang berisi permainan yang bertujuan untuk mengasah kerukunan antar siswa. Mereka diuji melalui permainan tersebut apakah ada anak yang bisa bekerjasama ataukah malah egois ingin nyaman atau menang sendiri. Seperti game duduk bersama. Jika siswa saling tenggang rasa sudah pasti bisa melakukan duduk semua. Tapi, satu anggota saja yang gak mau tenggang rasa, mengalah, pasti deh semua gk bakalan dapat kedapatan duduknya. 
 Permainan berikutnya adalah tarik tambang di atas kolam. Kekuatan penuh menjadi kunci kemenangan permainan ini. Begitu juga dengan kekompakan dalam menarik. Jika gak kompak, bisa jadi kelompok lawan yang akan menang.
Jika di awal permainan secara kelompok, setiap individu siswa juga diasah keberaniannya untuk meniti tali yang terukat dengan bambu di atas kali. Koordinasi antara keseimbangan dan kekuatan menahan badan menjadi penting supaya bisa meniti tali hingga ujung. 
Selesai permainan dilanjutkan dengan mencari ikan di kolam. Kerjasama antar siswa juga penting supaya ikan yang ditangkap dengan mudahnya bisa diperoleh. Belum tentu banyaknya penangkap ikan kemudian bisa cepat menangkap ikan. Karena ikan lebih gesit ditambah lagi air kolam yang gelap membuat ikan mudah untuk melarikan diri.
Selesai menangkap ikan, secara berkelompok kemudian siswa memasak ikan hasil tangkapannya. Pilihan menunya adalah ikan bakar. Sambil memasak, setiap siswa mengamati bagaimana perubahan ujud ikan sewaktu diberi energi panas. Dari warna, bau, dan yang terakhir rasanya. . . . hi . hi
 
 Selesai memasak dilanjutkan dengan sholat Dhuhur berjama'ah. Ah, perut kosong sudah berbunyi, selesai sholat secara bareng-bareng, seluruh kegiatan ditutup dengan kegiatan makan bersama. Nampak, kerukunan sudah mereka wujudkan selama satu hari outing kali ini. Semoga kesan dan pengalaman tersebut membekas kuat dan akan terus dibawa hingga menyertai pertumbuhannya. Amiin.

Thursday, November 19, 2015

Outing Kelas 3 : Mie Lethek, Kasongan dan Benteng Vredeburg

SDITAlamania, hari Selasa, 17 November 2015, kelas 3 mengadakan outing yang mengangkat tema pembelajaran Benda dan Perjuangan. Dipilihlah 3 tempat outing untuk ekplorasi lebih mendalam terkiat 2 tema tersebut. Pertama, pabrik Mie Lethek di Srandakan Bantul, Sentra kerajinan tanah liat Kasongan Bantul dan terakhir di Museum Vredeburg. 
 

Di mie lethek anak2-anak melihat proses pembuatan mie lethek yang proses pembuatannya dibantu dengan tenaga sapi untuk memutar roda besar pencampur adonan mie yang bahan dasarnya dari tepung ketela. Pertama, tepung dicampur kemudian dicampur dengan bantuan sapi Jawa. Setelah dicampur kemudian diinjak-injak dengan menggunakan tenaga manusia yang dialasi karung. Setelah itu, adonan yang sudah jadi mie kemudian dipanaskan memakai oven besar dengan bahan bakar kayu. Selesai dipanaskan, langsung dijemur selama 2 hari sampai kering. Dijemur di atas papan bambu. Setelah kering, mie lethek diambil (dirontokkan) & siap di packing....

Tempat yang kedua, kita ke Kasongan di tempat pembuatan gerabah dari tanah liat. Anak-anak mengikuti workshop pembuatan benda-benda untuk souvenir dari tanah liat. Tanah liat dibentuk sesuai keinginan kita, ada bentuk hewan (seperti kura-kura, katak, gajah, dll). Bisa bentuk vas bunga, gelas, mobil-mobilan, bunga dll. 
Setelah mendapatkan contoh cara membuat gerabah, anak-anak langsung praktek membuat benda kesukaannya. Jadilah benda-benda yang mewakili imajinasi dan kesayangan. Setelah dibentuk menjadi benda-benda, dilakukan penghalusan menggunakan air dengan cara digosok pelan. Setelah permukaan menjadi halus, siap untuk dibakar supaya keras. Sebagai finishing setelah dibakar, benda-benda tadi kemudian diwarnai dengan cat.
 Untuk kegiatan di benteng Vredeburg, anak-anak berkeliling dengan dibantu pemandu untuk melihat diorama seputar perjuangan kemerdekaan khususnya di daerah Yogyakarta. Pembentukan TKR, diangkatnya jenderal Sudirman sebagai panglima besar TKR. 
 Perjuangan yang dilakukan panglima besar Sudirman, jenderal A.H Nasution yang bergerilya dari daerah Boro, Kulon Progo, lewat Turi, Ngemplak, Pakem, Kalasan, Prambanan sampai Klaten. Berdirinya Budi Utomo serta sejarah berdirinya benteng Vredeburg. Terakhir anak-anak nonton film 3 dimensi tentang perjuangan kemerdekaan di wilayah Yogyakarta. Yogyakarta sebagai kota perjuangan serta sejarah berdirinya benteng Vredeburg.



Outing Kelas 4 : Museum TNI AD, Langgar KH Ahmad Dahlan dan Kantor Dinas Bupati Sleman

Dear SDITAlamania, menjelang berakhirnya kegiatan pembelajaran di semester ganjil ini, agenda kegiatan outing baru saja beberapa kelas. Masing-masing kelas menentukan tempat outing disesuaikan dengan tema pembelajaran. Tujuannya, tema yang dipelajari nantinya bisa lebih mendalam. Siswa lebih nyata dalam mengeksplorasi informasi. Mereka bisa secara langsung 'menginderai' obyek pembelajaran. Bukan sekedar katanya, dari tayangan film maupun hanya dalam buku. Karena dengan kesempatan bisa mengeksplorasi langsung, siswa bisa menemukan informasi yang boleh jadi belum terungkap secara umum, lebih detail bahkan privasi. Sehingga dengan itu mereka akan mempunyai kemerdekaan untuk menyimpulkan ditopang dengan argumen dan bukti informasi dari ekplorasinya. Jadi, outing bukan sekedar senang-senang, piknik, habisin snack atau ngobrol seharian ya. Tapi tetep pembelajaran karena My Learn is My Adventure, begitu kan?
Siswa kelas 4 pada hari Rabu 11 November 2015 melaksanakan outing, kesempatan kali ini mengangkat tema tentang Sejarah Kemerdekaan dan Pemerintahan. Mereka akan mennelusuri bekas-bekas proses usaha dalam meriah kemerdekaan negeri ini terkhusus di wilayah Yogyakarta. Dipilihlah museum Dharmawiratama. Museum yang berlokasi di Jl. Jendral Sudirman Jogja ini dahulunya merupakan markas tentara angkatan darat, museum ini mempunyai koleksi benda dan dokumen semasa proses perjuangan meraih kemerdekaan lumayan banyak. Kebanyakan orang mengenal museum ini dengan sebutan museum TNI AD. Siswa diajak berkeliling untuk melihat sekaligus mendapatkan penjelasan terkait dengan koleksi benda dan dokumen museum. Mengingat Jogja pernah juga menjadi ibukota negara serta beberapa peristiwa besar selama proses perjuangan meraih kemerdekaan, bersyukur banyak benda dan dokumen yang berhasil diselamatkan sehingga bisa menjadi pengingat peristiwa semasa perjuangan.
Satu bangunan yang menarik perhatian siswa di museum ini adalah adanya Bunker. Sebuah ruangan bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat perlindungan manakala terjadi serangan berupa ledakan yang menghancurkan markas pasukan yang berada di atasnya. Sehingga meski markas telah hancur tapi komandan dan pimpinan pasukan masih bisa selamat untuk melanjutkan koordinasi dengan pasukan lainnya.
 
 Perjalanan berlanjut ke sebuah bangunan tempat dahulu yang digunakan Kyai Ahmad Dahlan memulai dakwahnya. Yaitu Langgar Kidoel Kyai Ahmad Dahlan. Di tempat ini para siswa disambut dan dijelaskan oleh cicit (generasi ke-4) dari KH Ahmad Dahlan. Siswa menyimak penjelasan cerita sejarah dari dakwah yang dilakukan KH Ahmad Dahlan.
 Bertemu langsung dengan keturunan tokoh dan pahlawan nasional kemerdekaan Indonesia tentu mendapatkan kesan tersendiri. Apalagi KH Ahmad Dahlan adalah pendiri ormas besar Muhammadiyah yang sudah berumur 1 abad lebih. Siswa antusias menyimak dan bertanya untuk memuaskan keingintahuan mereka.
Selesai dari Langgar KH Ahmad Dahlan, perjalanan berlanjut kekantor Dinas Bupati Sleman. Menjadi sebuah kehormatan para siswa dan guru diterima dan disambut kehadirannya di kantor Dinas Bupati Sleman.
 
 Berhubung kabupaten Sleman sedang menjalani proses Pilkada sehingga pelaksana harian pemerintahan bukan dijabat oleh Bupati sehingga yang menyambut para siswa adalah Plt Bupati Sleman. Siswa dijelaskan terkait dengan bagaimana proses kegiatan pemerintahan kabupaten Sleman dibawah koordinasi Bupati. Dinas apa saja yang ada dan mengurusi apa saja dijelaskan dengan detail. Meski bisa jadi ada hal yang masih belum kebayang atau abstrak di benak anak-anak kelas 4, namun secara umum minimal mereka sudah mempunyai kesan bagaimana menjadi seorang bupati itu.
 Di penghujung acara pihak pemerintah kabupaten Sleman memberikan kenang-kenangan kepada rombongan outing begitu juga dari SDIT Alam Nurul Islam.



Thursday, June 4, 2015

Outing Kelas 5 : Menelusuri Sejarah Perjuangan dan Mengenal Struktur Batu dan Tanah

Dear SDITAlamania, meski bukan pelaksana outing terakhir tapi postingnya terakhir. Kelas 5 melaksanakan outing kedua di semester 2 ini dengan tujuan untuk mengenal sejarah perjuangan terkhusus keislaman di Yogyakarta dan mempelajari struktur tanah dan bebatuan. Dengan tujuan tersebut outing kelas 5 memilih 3 obyek yang akan dikunjungi. Masjid Gedhe Kauman Kraton Yogyakarta, Masjid Mataram di Kotagede dan Museum Geoteknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Outing dilaksanakan pada hari Rabu, 29 April 2015.
Obyek pertama yang dikunjungi adalah masjid Gedhe Kauman Kraton Yogyakarta. Di sana anak-anak dijelaskan terkait dengan sejarah berdirinya dan keterkaitannya dengan proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Mengingat, dahulu Jogja pernah dijadikan ibukota negara di saat Jakarta darurat. Mesjid Gedhe Jogjakarta merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dengan Karaton Ngayogyokarto Hadiningrat, yang didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I Senopati ing Ngalogo Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ing Ngayogyokarto. Masjid Gedhe didirikan pada tanggal 29 Mei 1773 ( dalam prasasti : Pada hari Ahad Wage, 6 Robiul’akhir tahun Alip, sengkalan :“GAPURA TRUS WINAYANG JALMA” ( 1699 Jw.=1187 H=1773M). Pemrakarsa adalah Sultan dan Kyai Penghulu Faqih Ibrahim Diponingrat, sedangkan sebagai arsiteknya yang terkenal waktu itu Kyai Wiryokusumo.
Pembagian tata ruang di masjid Gedhe Kauman :
1. Ruang Utama adalah ruang inti masjid yang letak lantainya paling tinggi sebagi ruang untuk ibadah sholat terutama rowatib. Ruang inti ini dilengkapi dengan PANGIMAMAN ( tempat imam memimpin sholat /MIHRAB). MAKSURA ( tempat pengamanan sholat raja ) letaknya di samping kiri belakang mihrab, terbuat dari kayu jati bujur sangkar, beram kotak-kotak, di samping kanan dan kiri terdapat tempat tombak dan di dalamnya berlantai marmer lebih tinggi dari yang di luar. Apabila Sultan berkenan sholat berjamaah di Masjid Gedhe, ia Mengambil tempat di dalam Maksura tersebut. MIMBAR (tempat khotib menyampaikan khotbah jum’at ), terletak di sebelah kanan belakang mihrab. Mimbar dibuat dari kayu jati berhiaskan ukiran indah bentuk ornamen stilir tumbuh-tumbuhan dan bunga di prada emas. Kewibawaan mimbar ini bagaikan singgasana berundak. SHAF SHOLAT, ialah garis yang mengatur jamaah sholat agar mengarah ke arah kiblat, dan lurus serta rapi. Pada mulanya arah sholat lurus ke barat, namun setelah adanya perkembangan ilmu pengetahuan, ternyata arah kiblat (Ka’bah) agak serong keutara, maka oleh KHA Dahlan dipelopori buat garis shof ke arah kiblat yang sebenarnya.

2. Pawestren adalah ruangan khusus untuk sholat jama’ah kaum perempuan, tempatnya di sebelah selatan bangunan inti masjid.

3. Yatihun adalah ruangan khusus untuk istirahat para ulama, khotib, dan merbot. Selain itu juga digunakan untuk musyawarah membicarakan persoalan agama. Tempat ini di samping utara inti masjid.

4. Blumbang ( kolam ), pada awalnya Masjid Gedhe ini dilengkapi kolam melingkar di muka Serambi. Kolam ini lebarnya lebih kurang 8 meter, dengan kedalaman 3 meter, yang berfungsi untuk bersuci dan ber wudlu sebelum masuk masjid. Namun pada saat sekarang ini kolam sekedar hiasan, yang lebarnya tinggal 2 meter, dan dalamnya hanya 0,75 meter melingkar dimuka serambi. 

5. Serambi ( beranda ) terletak di sebelah timur bagunan inti masjid, sebagai tempat sholat bila jama’ah dalam masjid inti penuh. Selain itu juga digunakan sebagai tempat da’wah, pengajian, serta difungsikan sebagai Mahkamah Al Kabiroh. Bila bangunan inti masjid tidak glamour, tiangnya tanpa dicat, dan sedikit sekali ragam hiasnya, sedangkan di serambu terkesan glamour semua tiangnya di cat, terdapat berbagai ragam hias yang dicat warna-warni dan diprada emas. Pada tiang serambi terdapat kaligrafi ” Ar Rahmaan” dan ” Muhammad” yang diujudkan bentuk stilir tumbuh-tumbuhan. Atap serambi bentuk limasan.

6. Benteng Masjid ialah bangunan tembok melingkari masjid. Benteng bagian muka agak pendek, dan seriap gerbang masuk masjid di kanan kiriya ada hiasan ” Buah Waluh” yang maknanya menyebut nama Allah Swt. Supaya selalu ingat pada Allah Swt.

7. Pasucen ialah tempat permulaan suci, letaknya memanjang ke timur, di muka bagian tengah serambi ke arah timur ( seperti doorlop ) menga ke regol. Ini sebagai jalan utama Sultan masuk masjid Gedhe.

8. Pagongan ada dua bangunan di kanan dan kiri bagian dalam plataran masjid Pagongan ini tempat Gamelan Sekaten yang dibunyikan setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Yang diadakan oleh Sri Sultan bersama rakyatnya.

9. Pajagan adalah tempat prajurit kraton berjaga keamanan masjid. Gedung ini terletak memanjang di kanan kiri Gapura. Pada saat ini digunakan untuk perpustakaan masjid dan tempat pertemuan.

10. GAPURA ( REGOL) adalah pintu gerbang utama memasuki kompleks masjid. Bentuk gapuro iniadalah Semar Tinandu. Melalui gapura ini para ulama meng-Islamkan masyarakat yang hendak melihat dan mendengarkan bunyi gamelan di plateran masjid.
Perjalanan berlanjut ke masjid Mataram di Kotagede. Masjid Kotagede Yogyakarta yang sudah berusia ratusan tahun memiliki sebuah prasasti yang menyebutkan bahwa Masjid tersebut dibuat dalam dua tahap. Tahap pertama dibangun pada masa Sultan Agung yang berhasil membangun inti masjid yang berukuran kecil yang disebut langgar. Tahap kedua masjid ini dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Paku Buwono X. Ada perbedaan pada bangunan masjid tersebut yang dibangun oleh Sultan Agung dan Paku Buwono X pada tiangnya. Tiang masjid yang dibangun Sultan Agung berasal dari kayu, sedangkan tiang yang dibangun oleh Paku Buwono X berbahan dari besi.
Masjid ini sampai saat ini tetap dipakai untuk tempat beribadah umat Islam warga setempat. Bangunan tersebut merupakan bentuk toleransi antara umat beragama waktu itu. Sebagian besar waktu itu warga masih memeluk agama Hindu dan Budha dan dengan senang hati ikut membantu pembangunan masjid ttersebut. Ciri khas Hindu dan Budha terlihat dari tiang dari kayu yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung yaitu gapura masjid yang berbentukPaduraksa.
Bangunan masjid tersebut berbentuk limasan yang dapat dilihat dari atapnya yang bebentuk limas dan ruangan terbagi menjadi dua, yaitu inti dan serambi. Masjid ini terdapat sebuah bedug yang berusia cukup tua yang dahulu merupakan hadiah dari Nyai Pringgit dan sampai sekarang bedug tersebut masih dipakai sebagai penanda waktu untuk berdoa.
Di dalam masjid terdapat sebuah mimbar yang dipakai untuk berkhotbah yang terbuat dari kayu ukir yang merupakan hadiah dari Sultan Palembang kepada Sultan Agung, tetapi mimbar ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi. Selanjutnya jika wisatawan berjalan ke halaman masjid maka dapat dijumpai adanya perbedaan tembok pada sebelah kiri halaman masjid. Tambok sebelah kiri terlihat tersusun dari bata merah yang ukurannya lebih besar dengan warna merah tua dan terdapat sebuah batu seperti marmer yang permukaanya ditulis aksara jawa. Sedangkan tembok yang lain memiliki batu-bata yang lebih kecil dan berwarna muda dan polos. Ternyata tembok yang berada di sebelah kiri dibangun pada masa Sultan Agung, sementara tembok yang lain merupakan hasil renovasi dari Paku Buwono X. Tembok yang dibangun pada masa Sultan agung berperekat air aren yang dapat membatu sehingga lebih kuat. 
Terakhir kunjungan ke museum Geoteknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional (UPN). Di sini anak-anak mengenal berbagai koleksi yang terkait dengan lapisan tanah dan bebatuan. 
Museum geoteknologi mineral  ini dibagi menjadi tiga ruangan, masing- masing ruangan memiliki cerita yang berbeda – beda dalam koleksinya. Mulai dari ruangan pertama anda akan menemukan gambar, maket, fosil, aktivitas kegunung apian, aktivitas kegempaan, dan berbagai macam batuan mineral bisa anda lihat disini, yang paling menarik disini tentunya fosil gajah purba ( mastodon SP) yang berumur sekitar 500-1.500.000 tahun yang ditemukan di daerah Bumiayu, Jawa Tengah. Diruangan kedua merupakan ruangan pertambangan, berbagai macam miniature kegiatan penambangan dan berbagai macam alat – alat penambang dan pengamannya serta hasil dari penggalian bisa anda temukan disini. Sedangkan ruangan ketiga merupakan ruangan audio visual, disini anda akan diajak melihat video documenter tentang kegiatan penambang dan cara- cara penambangan yang baik dan benar.
Koleksi seperti tektit, mineral , batuan , foto sayatan batu, batu mulia, bahan galian, monolit tanah, panel , maket , fosil , patung , lukisan artefak, film documenter dan berbagai macam foto yang berkaitan tentang ilmu kebumian memang sangat menarik untuk dilihat dandipelajari, apalagi untuk masuk kemuseum ini tidak dikenakan biaya apapun. Jadikan museum ini sebagai alternatif tujuan wisata anda saat berkunjung ke Yogyakarta, anda akan terpuaskan dengan koleksi- koleksi yang menarik dimuseum ini. Selain museum geoteknologi mineral anda juga bisa berkunjung ke museum lainnya yang bertujuan untuk pendidikan seperti Museum Biologi UGM danMuseum Gunung Merapi yang tentunya harus anda datangi.
sumber : 
http://adabydarban.blogspot.comhttp://www.njogja.co.id

http://yogyakarta.panduanwisata.id