Saturday, February 9, 2013

Parenting School XIX : Menjadi Orang Tua Siswa Sekolah Alam

Parenting School kali ini sengaja mengangkat topik tentang bagaimana menjadi orang tua siswa di sekolah alam. Meski di setiap awal setiap orang tua yang mendaftarkan putra-putrinya sudah mengadakan MoU dengan sekolah untuk menyepakati konsep dan programnya, namun terkadang di tengah perjalanan sempat terjadi beberapa hal yang berbeda pandangan dalam memahami hasil maupun proses belajar siswa di sekolah alam Nurul Islam. Adanya latar belakang itulah acara parenting school mendatangkan langsung konseptornya. Yaitu DR. M Farchani Rosyid.

OLYMPUS DIGITAL CAMERABeliau sehari-harinya adalah dosen Fisika UGM. Di awal materi beliau menyampaikan pengalamannya bergabung dengan SDIT Alam. Sepulang dari study S3-nya di Jerman, beliau membawa wawasan baru tentang konsep pendidikan yang sangat berbeda jauh dengan yang dilaksanakan di negeri ini. Sesampainya di Indonesia beliau merasa galau untuk mencarikan sekolah anak-anaknya. Karena belum adanya sekolah yang mempunyai konsep 'membebaskan' bagi anak. Kemudian, pak Rosyid mendapatkan informasi ada sebuah sekolah dengan konsep yang lain.  Yaitu SDIT Alam. Saat itu kondisi SDIT Alam berbeda jauh dengan kondisi sekarang. Dahulu masih ngontrak gedungnya, untuk masuk belum ada jalan hotmix seperti sekarang. Namun tekad pak Rosyid sudah bulat. Setelah berdiskusi dengan kepala sekolah beliau mantap untuk menyekolahkan putrinya di SDIT Alam. Di SDIT Alam, beliau aktif di perkumpulan para orang tua atau dulu sering disebut POMG (kalo sekarang bernama Dewan Kelas). Di forum tersebut pak Rosyid 'vokal' sekali dalam memberikan masukan ide tentang konsep pembelajaran. Karena kevokalannya tersebut bliau terus diminta gabung sekalian di yayasan Nurul Islam. Hingga sekarang.

OLYMPUS DIGITAL CAMERADi pendahuluannya, pak Rosyid mengupas dahulu bagaimana kondisi pendidikan di tanah air ini. Yang di awal tadi membuatnya galau untuk memasukkan putrinya di sekolah di Indonesia ini. Beberapa kondisi tersebut adalah :

a.  Pendidikan Masih Investasi Individual. Seharusnya pendidikan itu adalah investasi negara atau umat. Manakala ada anak pinter, cerdas itu yang harus bersyukur semuanya. Bukan hanya keluarganya saja atau malah diri sang cerdas itu sendiri. Negara maju pasti akan menggratiskan biaya didiknya karena mereka sadar jika hasil pendidikan itu akan melahir manusia yang akan cerdas dan mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan tantangan bangsa dan negara di masa depan. Tapi lihatlah di negeri ini, pendidikan masih mahal bahkan  dijadikan komoditas politik dan  bisnis semata.

b. Disorientasi Pendidikan. Isu-isu pendidikan kita dipersempit hanya dengan UASBN, UKK, OSN dll. Bukannya hal tersebut tidak penting. Tetep penting. Hal-hal tersebut dibuat sebenarnya kan sebagai indikator untuk mengetahui seberapa berhasil proses belajar. Bukan sebagai tujuan. Namun yang terjadi, kesemua itu disikapi sebagai tujuan. Sehingga semua proses pembelajaran muaranya disitu. Sering kita jumpai ada anak sekolah yang pulang larut malam, jika ditanya kenapa sampai malam. Hampir pasti jawabannya karena le ini-les itu. Bimbingan ini-bimbingan itu. Yang lebih dahsyat lagi dimulai semenjak kelas 4 atau 3. Pendidikan hanya untuk orientasi kerja semata. Bahkan dipersempit hanya untuk mendapatkan ijazah. Ijazah menjadi barang berharga di negeri. Ia disikapi bisa menentukan kehidupan masa depan seseorang.

c. Terus Mengisi Bukan Memperbesar Wadahnya. Sering dijumpai, jika ada orang tua Indonesia yang kebetulan study di luar negeri kemudian sempat menyekolahkan anaknya disana kemudian saat pulang lalu lanjut sekolah di Indonesia, yang terjadi sang anak menjadi anak terbodoh dari semua siswa di kelas. Sebaliknya, jika ada anak Indonesia yang sudah pernah sekolah di Indonesia kemudian lanjut ke sekolah luar negeri, anak tersebut menjadi anak terpandai. Apakah penyebabnya? Unggulkah pendidikan di Indonesia. Jawabannya, karena di Indonesia yang diandalkan adalah isi saja. Anak diibaratkan gelas kosong yang terus diisi dengan berbagai pengetahuan tanpa pernah memperbesar wadahnya. Sehingga anak itu pandai menjawab soal tapi jika diberikan sebuah masalah anak itu jadi mandeg, buntu. Sebaliknya, meski anak pindahan dari luar negeri tidak tangkas menjawab soal-soal karena memang isinya tidak dipenuhi, tapi jika diberikan sebuah permasalahan mereka langsung terampil merumuskan pemecahannya. Karena yang dibentuk di luar negeri adalah memperbesar wadahnya. Wadah itu adalah rasa ingin tahu, suka menyelidiki, kerjasama, mandiri, minat baca, memecahkan masalah . . . Padahal jika kita hanya orientasi mengisi saja, sungguh pengetahuan yang berkembang saat ini sangat jauh lebih banyak dibanding yang menjadi pelajaran di sekolah.

d. Belajar Masih Berpusat pada Guru. Pembelajaran tidak menstimulasi keingintahuan siswa. Karena sumber kebenaran hanya pada guru. Jika ada siswa yang menggunakan cara berbeda dianggap salah. Guru tidak menghargai setiap hasil usaha dan pemikiran siswa. Guru hanya menghafal cara mengajar dari tahun ke tahun. Padahal kondisi, situasi serta informasi selalu berubah dan berkembang. Jika pembelajaran berpusat pada siswa, setiap jawaban yang dihasilkan dari proses pencarian siswa dihargai. Sehingga  tumbuh percaya diri untuk melanjutkan pembelajaran. Selalu siap sedia dengan tantangan yang diberikan. Guru hanyalah sebagai fasilitator dan motivator suksesnya pembelajaran siswa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sekolah Alam hadir untuk menjadi 'antitesa' kondisi pendidikan di negeri yang mayoritas masih seperti di atas. Lalu. bagaimanakah konsep sekolah alam itu ? Menjadi Sekolah Alam harus menjalankan prinsip-prinsip sebagai berikut :

1. Menumbuhkan Potensi Fitrah (Akal, Hati, Fisik). Pendidikan di Sekolah Alam adalah yang menyentuh semua aspek manusia. Tidak hanya otaknya saja. Hatinya disentuh supaya sensitif dengan nilai kebenaran. Simpati, empati dan melahirkan tekad kuat untuk mewujudkannya. Fisik dilatih supaya bugar, kuat dan terhindar dari unsur-unsur yang menyebabkan lemah maupun musibah. Misal, taat mengikuti aturan lalu lintas termasuk usaha untuk menghindarkan diri dari musibah, lemah atau sakitnya fisik. Akal disentuh dengan unsur-unsur yang memancing keingintahuan dan membuka logika dan nalar sehingga berpikir menemukan dan memetakan pemecahannya.

2. Melibatkan dalam Problem Posing dan Problem Solving. Di Sekolah Alam anak dilibatkan langsung dengan masalah tidak hanya menyelesaikan soal. Anak mengalami langsung dengan masalah sehingga mampu memetakan pemecahannya hingga benar-benar melakukan penyelesaiannya. Dengan munculnya masalah bukannya saling menyalahkan yang ada atau saling egois menghindar masalah.

3. Penguatan dan Penyaluran Rasa Ingin Tahu. Rasa ingin tahu atau bahasa Inggrisnya curious merupakan energi siapapun untuk belajar. Tanpa energi ini, belajar semacam hanya rutinitas dan formalitas. Rasa ingin tahu seperti orang yang haus yang ingin segera mendapatkan air. Ia akan mencari berbagai cara untuk mendapatkan kepuasan dalam memenuhi keingintahuannya. Di Sekolah Alam metode pembelajaran diset bukan untuk mematikan keingintahuan. Tapi justru memancing penasaran sehingga anak terus menjalani proses pencarian. Sehingga belajar dirasa sebagai sesuatu yang seru bukan beban yang membosankan.

4. Meletakkan Segala Hal Sebagai Sumber Pembelajaran. Di Sekolah Alam pembelajarannya tidak dibatasi oleh buku paket. Bahkan, sedikit demi sedikit buku paket dihilangkan. Karena sumber ilmu sebenarnya adalah di alam ini. Makanya kegiatan di luar ruang di optimalkan. Bertemu masyarakat, pencarian di alam, outing ke candi, museum, perguruan tinggi, gunung, laut dll. Panca indera mereka akan merasakan langsung obyek belajar. Menyentuh, mencium, mendengar yang itu semua tidak bisa hanya dengan buku kan.

5. Menghargai Siswa Adanya. Di Sekolah Alam semua anak tidak dipandang sama, seragam. Tapi mereka masing-masing membawa keunikannya sendiri-sendiri. Sehingga metode pembelajaran direncanakan untuk mengadaptasi potensi mereka. Mereka dipersilahkan menjadi apa yang mereka inginkan. Tidak dibatasi hanya akademik saja. Bukankah kecerdasan itu majemuk.

6. Memperbesar Wadah/Kapasitas bukan Hanya Mengisi Saja. Di Sekolah Alam dikembangkan ketrampilan belajar seperti membaca, menyelidiki, menyimpulkan, merumuskan masalah, wawancara, presentasi-publikasi, sehingga mereka bilang a-ha, euraka !. Tidak hanya semata hanya mengisi hafalan-hafalan fakta ilmiah semata yang hanya diorientasikan tangkas menjawab soal. Bukan memecahkan masalah, kehidupan . . .

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Saturday, February 2, 2013

Juara 1 Olimpiade Inggris di UMM, Rafi Menyisihkan 34.129 Peserta

2013-01-31 14.24.46

Berangkat dengan tanpa beban, namun pulang dengan prestasi juara1. Itulah yang dialami mas Rafi sewaktu lolos mewakili SDIT Alam Nurul Islam di National English Olympiad Junior High School. Acara itu diselenggarakan oleh American Corner (Amcor) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Sebanyak 34.129 siswa SD/MI sederajat dan 28.935 siswa SMP/MTS seluruh Indonesia akhirnya ambil bagian dalam acara ini. Kompetisi melombakan speaking, reading, listening dn general science. Acara dibuka Asisten Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya, Mrs. Patricia R. Limeri.

Mas Rafi hanya persiapan selama 2 pekan bersama ustadz Abdullah Imaduddin atau akrab dipanggil dengan ustadz Gusdul. Sebelum terpilih mewakili dari SDIT Alam, ustadz Gusdul sudah melakukan seleksi dahulu. Banyak siswa yang tertarik karena hadiahnya jalan-jalan ke Singapura. Alhamdulillah, impian itu mas Rafi lah yang mendapatkannya. Dan prestasi ini diukir sebagai satu-satunya siswa wakil dari Jogja untuk level kelas 5.

Dengan prestasi tersebut semoga menjadi magnet bagi teman-teman yang lain untuk mengukir prestasi lainnya. 

Monday, January 28, 2013

Berita Duka

pak-nur2Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Pak Nur, lengkapnya Pak Achmad Noorhidayat yang merupakan bendahara yayasan Nurul Islam, sore kemarin meninggal dunia. Setelah berjuang melawan kanker getah bening yang diderita cukup lama. Terakhir sebelum meninggal, beliau masih mengungkapkan obsesinya yang menandakan betapa besar harapan untuk sembuh. Beliau berobsesi kuat tahun depan bisa berangkat ke tanah suci karena jadwalnya memang di tahun depan. Ide tentang pengadaan tanah untuk TKIT Nurul Islam juga beliau ungkapkan. Bahkan, beliau pernah berangkat kerja karena merasa cukup kuat namun membuat kondisi balik drop. Semoga Pak Nur mendapatkan husnul khotimah, semua amalnya menjadi pemberat timbangan kebaikan di akhirat. Semoga keluarga yang ditinggalkannya diberi kesabaran.

Saturday, January 12, 2013

Asah Gergaji

Kalo baca buku 7th Habits of Effective People-nya Stephen Covey yang sekarang ditambah menjadi 8, dikebiasaan ke-7 disebut dengan kebiasaan Asah Gergaji. Maksudnya? Untuk menjadi orang yang efektif dan berguna pasti tidak akan melupakan aktifitas pembelajaran. Mengasah terus kemampuannya sehingga akan tetap berdaya.

0112130906

Menjadi guru di sekolah Islam Terpadu menjadi keharusan untuk selalu bersama dengan Qur'an. Baik dari bacaan maupun nilai-nilai tadaburnya untuk kemudian menjadi amal yang mengakhlaq. Hebatnya Qur'an tu tak hanya dari sarinya saja, bacaannya pun bisa jadi obat, syifa dan menurunkan berkah Allah di dunia ini. Perkara bacaan berarti terkait dengan ketrampilan yang harus terus dilatih. Karena keliru sedikit saja bisa mengubah arti secara fatal. Agar selalu menghadirkan pembelajaran Qur'ani yang tepat dan benar, ustadz-ustadzah selalu mengasahnya bersama para guru yang sudah terlisensi. Tidak semata dalam hal bacaan, hafalannya pun juga terus ditambah dan dikontrol. Karena kalo siswa untuk lulus harus hafal 2 juz, gurunya pun minimal sekali harus menyamainya.

0112130907

Tuesday, January 8, 2013

Ini Mimpiku, Mana Mimpimu !

OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Monday, January 7, 2013

Mengukir Mimpi

Satu hal paling pertama yang dilakukan oleh seseorang yang akan bepergian adalah menentukan dulu kemana tempat tujuan perginya. Sebelum yang lain, seberapa banyak bekalnya, naik apa, siapa temannya, bahkan apa oleh-olehnya. Di dunia ini kita hakikatnya sedang menjalani perjalanan. Dengan tujuan setiap manusia adalah akhirat. Namun, menjadi manusia bagaimanakah kita saat menuju untuk menuju akhirat itu.


DSC_6214


Tidak ada satupun orang hebat yang pernah ada di dunia ini yang tidak punya mimpi. Mereka semua digerakkan dan sekuat tenaga melawan kelemahannya dikarenakan energi untuk meraih mimpinya. Anehnya lagi, di saat mereka merumuskan mimpinya, waktu itu ide mimpinya itu dipahami orang sangat di luar nalar bahka gila. Coba saja, 50 tahunan yang lalu, mimpi agar manusia bisa terbang merupakan ide gila dan hanya ilusi belaka. Tapi mimpi gila itu justru menantang ilmuwan untuk menemukan bentuk teknologi yang sekarang kita sebut pesawat terbang. Bahkan mimpi itu berlanjut dengan tantangan untuk bisa terbang antar planet dan bahkan galaksi.


  Biarkan anak-anak kita bermimpi yang boleh jadi gak mungkin di dengar telinga. Tapi dengan dukungan kita dan selalu mengarahkannya untuk menemukan berbagai informasi yang mengobati dahaga keingintahuannya, hakekatnya kita sedang memperbesar bara semangatnya untuk mengejar mimpi-mimpinya. Selamat mengejar mimpi-mimpimu nak !

Thursday, December 20, 2012

Mukhayyam : Terus Tetap Asah Kekuatan

Mukhayyam di akhir semester ganjil sangat pas dengan dukungan musim hujan yang saat deras-derasnya. Lho, pas gimana. Maunya berkemah kan pingin senang-senang bisa tidur di tenda bareng temen-temen. Ngobrol asyik hingga larut malam. Nah, kalo hujan deras melanda, semua itu jadi bubar deh. Sedih dong. Itulah kesan yang sering dipahami anak-anak. Padahal mengapa harus ada kegiatan mukhayyam, justru sebenarnya jika ikut kegiatan tersebut harus siap mendatangi ketidaknyamanan. Dari mulai tidur di alam terbuka, dingin, beralas tikar, makan masak sendiri, harus sabar antri, siap disuruh, banyak tugas baik yang fisik maupun pikir, bangun malam, harus siap tampil percaya diri di pentas seni. Pokoknya seperti mendatangi penyakit deh bagi yang biasa enak-enak dimanja selalu dilayani dan dilindungi. Kita siap untuk menempa diri, menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi paling kritis sekalipun. Kita harus selalu mengasah segala kekuatan yang kita miliki. Itulah perintah Allah SWT dalam surah Al Anfal : 60, begitu amanat ust. Ariefuddin dalam pembukaan apel Mukhayyam. Sedini mungkin kekuatan harus kita asah. Apa hasil yang akan didapat? Di jaman Rasulullah ada seorang shohabat yang sangat belia bernama Usamah bin Zaid. Di usia 18 tahun sudah dipilih Rasulullah untuk menjadi panglima perang memimpin para shohabat senior. Tentu pilihan rasul bukan tanpa pertimbangan, karena Usamah sudah mengasah kekuatannya terutama di bidang perang sejak dini. Kita juga mengenal Imam Syafi'i yang baru 14 tahun sudah berani berfatwa di Makkah, tempat dimana banyak ulama besar tinggal. Bahkan, terakhir ada seorang bocah bernama Husain Tabataba'i yang sudah hafal Qur'an hingga tafsirnya di usia 5 tahun sehingga ia digelari Doktor Honoris Causa. Tentu mereka sudah siapkan kekuatan itu sejak dinin mungkin. Jangan sampai kebiasaan ikut-ikutan selalu dilakukan. Seperti sekarang banyak trend Ngepop bahkan menghafal syair lagunya, koleksi posternya, bergaya seperti artisnya tapi giliran diminta untuk menyanyi malu, gak mau. Nah bukankah hal itu mubazir saja. Maka mulailah saat ini untuk fokus terhadap bakat dan kegemaran sehingga kekuatan itu menjadi terasah baik sedini mungkin. Begitu sekali lagi pesan pembina apel.


Di awali dengan mendirikan bivak yang berasal dari plastik terpal setiap suku memastikan kekuatannya. Memastikan ikatan tali kuat, tancapan patok dalam tak tergoyah.


Bivak sudah berdiri kokoh, saatnya mengangkut barang ke dalam bivak. Juga menikmati istirahat sambil santap makanan ringan. Tak begitu lama berselang, hujan datang mengguyur deras. Kekokohan bivak diuji. Memang sih kokoh tapi yang kurang diperhitungkan belum dibuatnya saluran air. Sehingga air bebas menggenangi bivak. Seluruh tikar hingga kasur. Beberapa tas tergenang. Yang paling parah ada satu bivak yang tak sejumputpun terlihat lapisan tanah di dalam bivak. Rupanya lokasi yang didirikan bivak itu tempat paling rendah dibanding yang lainnya. Semua peserta merelokasi barang ke kelas. Ustadz-ustadzah berkeliling melihat situasi yang mendadak itu. Namun tak satupun siswa yang panik hingga terekspresikan dalam tangisan. Mereka tetap tenang menyelamatkan setiap barang kepunyaan sukunya.


Setelah berbenah dari ujian pertama, tak terasa betapa kosongya perut. Tanpa melihat kondisi sekitar asal ada makanan langsung disantap dengan lahapnya. Tapi, jangan santai dulu, boleh jadi hujan yang tak kalah dahsyat kan datang lagi. Tapi tekad di awal sudah terpatri, kita akan bertahan apapun yang terjadi akan tetap di tenda.


Subhanallah, rupanya seluruh air tlah Allah tumpahkan di hujan siang tadi. Malam ini Allah anugrahkan untuk dinikmati bersama dalam kegiatan pentas seni yang dilengkapi api unggun. Namun, kewaspadaan tetap penuh. Boleh jadi tengah malam saat terlelap hujan datang membangunkan tidur nyenyak kita.


Pentas seni berjalan lancar. Berikut penyulutan api unggunnya. Selama nyalanya berpijar, satu per satu suku menampilkan pentas seninya di depan khalayak. Di sini kekuatan percaya diri dan spontanitas diuji. Karena, tak ada waktu persiapan untuk melatihnya. Hanya kekuatan ide dan keberanian tampil di depan. Setelah selesai, segera setiap suku diminta untuk segera mempersiapkan diri mengistirahatkan badannya. Tengah malam di tengah kumpulan penat akan tetap dibagunkan untuk berjama'ah sholat Tahajjud.


Pagi hari setelah sholat Shubuh diteruskan dzikir al-Ma'tsurat dilanjut jalan pagi keliling kampung dan jalan di wilayah sekitar SDIT Alam. Udara yang masih jernih membuat segar menghirupnya. Tempaan selama mukhayyam seharusnya terus berlanjut. Seperti besi yang ditempa dengan bara api, ia akan keras dan kokoh membaja. Seperti otot yang dilatih terus, ia akan kuat menahan dan mengangkat beban. Seperti batu bara yang meski hitam kelam saat mengalami tempaan terus akan berubah memutih cemerlang nan keras, jadilah intan batu permata nan mahal.