Tuesday, April 24, 2012

Surfing on Sand Dunes

Tujuan akhir dari outing kelas 4 adalah Laboratorium Geospasial di pantai Parangtritis Bantul Yogyakarta. Wah kok terdengar asing ya, Laboratorium apaan tuh. Secara langsung memang sangat jauh terkait dengan materi anak SD. Tapi obyek penelitiannya sangat bersesuaian dengan materi Perubahan Permukaan Bumi. IPA kelas 4. Tugas Laboratorium ini adalah melakukan survei lalu pemetaan wilayah terutama pesisir pantai. Kalo kamu pingin tahu gimana cara buat peta atau senang gimana sebuah wilayah dibuat petanaya, kayaknya cocok deh dateng ke Geospasial ini.



Lab ini berdiri atas kerjasama 3 lembaga. Bakorsurtanal, Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Indonesia, lalu UGM dan Pemda Bantul. Lokasinya berada di antara pantai Depok dan Parangtritis agak ke utara. Jalan masuknya, sebelum pos retribusi pantai Depok belok ke kiri. Masuk kurang lebih 300 meter, Lab ada di kiri jalan. Bangunannya kerucut mirip Monumen Jogja Kembali. Kami disambut di depan oleh Bu Sri yang memandu kami berkeliling Lab.


Pertama, kami diajak keliling lingkungan Lab. Ternyata di sini juga ada Pembangkit Listrik Tenaga Kincir. Selain itu, Lab dikelilingi oleh hamparan pasir. Kita bisa sebut Gumuk. Artinya tumpukan pasir. Eh, ternyata tumpukan pasir itu bisa berubah-ubah sewaktu-waktu. Faktor pengubahnya adalah hembusan angin. Karena butirannya yang sangat lembut sangat mudah dibawa terbang.



Nah, gumuk yang satu ini terbentuknya membutuhkan waktu yang cukup lama. Ini satu-satunya Gumuk Pasir di Lab Geospasial. Untuk Gumuk yang lain yang lebih luas ada di dekat pantai Parangtritis. Keberadaan Gumuk Pasir tersebut merupakannya satu-satunya di Asia Tenggara. Hebat nggak tuh ? Gak usah jauh-jauh ke gurun Sahara, cukup ke pantai Parangtritis nemu deh gumuk pasirnya.



Setelah puas berkeliling di luar, kemudian kami dibawa ke dalam Lab. Ternyata di dalam banyak terdapat berbagai macam alat untuk survei dan pemetaan. Kami bingung dan belum paham cara menggunakannya. Selain itu ada juga dokumentasi foto bekas Tsunami dan gempa. Di pengakhiran kami diputarkan film dokumenter di sebuah ruangan yang mirip bisokop.



Setelah, pembelajaran di Lab Geospasial, perjalanan lanjut menemukan Gumuk pasir yang lebih luas. Wuih, anak-anak sangat heran dan gembira bermain apalagi matahari mulai condong ke barat. Tidak panas. Pasir menghangat berlarian.



Finish, Alhamdulillah . . . .

Saturday, April 21, 2012

Anak SD Menjadi Anggota Dewan

Setelah outing dari Lapas Sleman, kelas 4 SDIT Alam melanjutkan tujuan outing selanjutnya ke DPRD Kabupaten Bantul. Disini mereka akan belajar lebih nyata tentang lembaga legislatif. Kenapa dipilih Bantul, karena biar satu jalur dengan tujuan outing terakhir yaitu Laboratorium Geospasial Parangtritis. Lagi-lagi kami merasa bahagia, karena meski masih SD akan berkesempatan menduduki kursi yang hanya bisa diduduki oleh orang Bantul dengan syarat harus dipilih 12.000 orang. Karena penduduk bantul berjumlah 930.000 an orang. Aturannya kabupaten dengan jumlah penduduk di bawah 1 juta, anggota dewannya berjumlah 45 orang. Jadi di ruang dewan Bantul kursi yang disediakan khusus berjumlah 45 buah.



Bener khan, tidak semua orang Bantul bisa berkesempatan duduk di kursi 'mahal' itu. Alhamdulillah kami bisa merasakannya. Di DPRD Bantul kami disambut oleh Pak Arif Haryanto (wakil III DPRD) kemudian pak Sarminto dan Pak Jupri. Pertama-tama Pak Arif menjelaskan tentang apa itu DPRD dan siapa saja yang berhak untuk menjadi anggota dewan. Harus sudah berumur 17 tahun atau berKTP untuk mendaftar jadi calon anggota dewan. Lalu harus punya partai politik. Kemudian memperkenalkan diri ke masyarakat supaya ada yang milih saat pemilu. Nah, tugas anggota dewan itu ada 3 kata pak Arif. Pertama, Penyusunan peraturan daerah, penyusunan anggaran dan pengawasan jalannya pemerintahan. Kegiatan yang paling sering dilakukan anggota dewan adalah rapat dan musyawarah.



Kami sempat kaget, tiba-tiba ada beberapa orang bawa kamera dan BB mendatangi kami dan menghujani dengan pertanyaan. Oo, ternyata mereka para wartawan baik dari media cetak maupun televisi. Waduh bakan masuk TV nih. Aduh malu deh . . . Setelah pak Arif menjelaskan tentang latar belakang DPRD, giliran anak-anak dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan. Bahkan diajak langsung simulasi saat rapat anggota dewan. Untuk yang ingin mengajukan pertanyaan harus tunjuk tangan kemudian setelah dipersilahkan pimpinan memencet mikrofon didepan mereka. Bermacam dan variasi pertanyaan yang diajukan. Mulai dari kemanfaatan anggota dewan, hak dan kewajiban, kenapa harus pake uang untuk jadi dewan sampe ada nggak anggota dewan disini yang berkorupsi. Yah, namanya anak-anak agak bisa nutupin kepolosan akan keingintahuan.



Tak terasa jatah waktu molor dan banyak pertanyaan yang belum sempat tersampaikan. Rupanya anak-anak keasyikan menjadi anggota dewan meski hanya cuma 1 jam. Tapi karena perjalanan harus berlanjut jadinya pertanyaan harus distop dulu. Anak-anak tambah pengalaman tidak semata pengetahuan tentang lembaga bernama Legislatif. Mereka bisa lebih merasakan, betapa berat tugas anggota dewan di samping ada fasilitas yang diperoleh para dewan. Ayo siapa yang mau bercita-cita jadi anggota dewan ?


Ini nih hasil liputan dari media cetak :





















Ke Obyek Outing Terakhir : Laboratorium Geospasial dan Gumuk Pasir klik >>>

72 Siswa SDIT Alam Masuk Penjara

Hah yang bener, anak-anak SD udah dimasukin penjara. Emang kriminal apa sih yang dilakuin sampe segitunya? Weits, jangan kaget bin Shock dulu. Siswa-siswi kelas 4 SDIT Alam baru saja melakukan outing ke Lapas. Lembaga Pemasyarakatan atau orang lebih akrabnya penjara. Ternyata penjara ada 2 macam loh. Lapas dan Rutan. Trus, apa bedanya ? Kalo Lapas diperuntukkan bagi mereka yang sudah dijatuhkan vonis atau hukuman dari proses pengadilan. Nah, kalo Rutan atau Rumah Tahanan diperuntukkan bagi mereka yang masih mengikuti proses hukum, jadi belum ada vonis hukuman.



Satu per satu anak-anak dan ustadz/ah masuk. Penjaga menghitung dulu jumlahnya. Ada 72 anak dan 4 guru. Tas dan Handphone dilarang dibawa sehingga dititipkan ke penjaga depan. Ada beberapa anak yang takut karena bayangan akan penjara yang serem, sehingga masuknya sambil takut-takut gitu.



Kami diterima langsung oleh Kalapas Sleman Bapak Drs Sukamto Harto BcIP beserta stafnya. Sungguh penghormatan yang tak terkira bagi kami. Pesan Pak Kamto, bahwa Lapas Sleman tidaklah seperti yang diberitakan di media. Banyak narkoba, banyak pelanggaran, disini aman dan tertib, begitu penjelasan pak Kamto. Setelah Bapak Kalapas memberikan sambutan dilanjutkan oleh Pak Suwarto. Beliau menjelaskan tentang apa itu Lapas. Lapas Sleman berdiri tanggal 27 April 2003, wah udah cukup lama ya. Penghuninya berjumlah sekitar 350 orang nara pidana. Dari segi umur, yang termuda berumur sekitar 10 tahun hingga yang usia lanjut. Bahkan anehnya, tidak semua penghuni Lapas itu orang yang bodoh atau dianggap bodoh. Orang yang pinter pun ada yang menghuni disitu. Ada Doktor, ada dokter, lebih aneh ada oknum polisi, oknum tentara. Bahkan yang baru saja keluar mantan Bupati juga ada. Ternyata kepintaran tidak menjamin perbuatannya baik. Bukankah koruptor itu cerdas-cerdas semua ? Di Lapas itu para napi tidak hanya bengong saja menanti hukuman mereka habis. Tapi disitu mereka digiatkan dengan aktivitas sesuai dengan minat bakat mereka. Ada budidaya burung, tanaman, perbengkelan kayu maupun otomotif, masak. Bahkan yang hobi olahraga maupun musik sudah disediakan sarananya.



Sambil menerangkan, Pak Suwarto memberikan jeda dengan sesi doorprize. Pak Warto memberikan pertanyaan, bagi yang cepat menjawab dengan benar ada hadiah berupa minuman jus buah dan senter kecil. Anak-anak antusias menjawab dan memberikan pertanyaan. Ternyata para napi sebelum menghuni di Lapas ada proses dulu yang harus dilewati. Jika ada seorang pelanggar hukum. Mencuri, memeras, Merampok, Narkoba ataupun perbuatan kriminal lain terlebih dahulu diproses oleh polisi. Polisi akan menyerahkan tersangka ke Lembaga Kejaksaan. Disini tersangka akan dilakukan penuntutan disesuaikan dengan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) atau kalau masalah Perdata pake KUHAP. Setelah dilakukan penuntutan proses selanjutnya adalah diadili di Pengadilan Negeri. Disitu setiap saksi, bukti dan informasi dikupas secara terbuka. Sehingga akan diketahui kebenaran pelaku. Hakim yang memimpin pengadilan akan memutuskan perkara. Jika tersangka punya duit bisa menyewa pengacara jika tidak dia membela sendiri. Nah begitu diputus statusnya sudah terpidana atau napi. Kemudian dikirim ke Lapas. Di Lapas para napi baru harus menjalani Mapenaling atau Masa pengenalan lingkungan selama sebulan. Agar para napi paham dengan aturan main Lapas. Setelah itu dilakuakn cek kesehatan dan dijajaki piliahan minat bakatnya.



Setelah sesi tanya jawab dalam ruangan, anak-anak dibawa keliling melihat lingkungan Lapas. Namun tidak diperkenankan masuk di tempat sel para napi tinggal, cukup diluar pagar saja. Di dalam Lapas, identitas berupa seragam wajib dikenakan. Karena untuk membedakan siapa napi, tamu atau petugas Lapas. Napi biasanya menggunakan kaos warna biru tua bertulis WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) di punggung, para petugas juga ada sendiri. Napi diperkenankan melakukan ibadah, di dalam terdapat sebuah masjid dan kapel. Merawat tanaman, Memasak, Menelpon bahkan ada jam kunjung keluarga. Mereka dapat makan sehari 3 kali, gratis. masih bisa beraktivitas seperti orang bebas, kecuali keluar Lapas, membawa alat komunikasi. Di akhir kunjungan kami berfoto bareng dengan para pejabat dan staf Lapas Sleman.



Ini nih liputan darai salah satu media cetak



Menuju Obyek Outing ke-2 DPRD Bantul klik >>>

ImTaS (Imtihan Akhir Santri) 2012

Siapa yang pernah denger apa itu Imtas ? Pasti deh yang ikut metode Qiroaty dalam melatih bacaan Qur'annya tahu bener tu Imtas. Kepanjangannya Imtihan Akhir Santri, artinya Ujian Akhir yang harus ditempuh oleh setiap santri Qiroaty agar dinyatakan lulus dan telah mampu tidak hanya membaca secara benar, namun paham aturan cara baca al-Qur'an.



Di dalam Imtas ini, setiap peserta yang sudah layak untuk ikut Imtas pertama harus mengikuti pra Imtas dulu sebelum Imtas sebenarnya. Nah, kalo sudah lulus di pra Imtas baru deh boleh ikut Imtas. Di Imtas yang diuji tidak semata kemampuan baca Qur'an semata, namun juga ikut dinilai adalah akhlaq peserta. Sehingga meski lihai dalam baca Qur'an tapi tidak serius bisa jadi tidak lulus. Setiap peserta Imtas akan diuji segi Fashohah-nya yaitu makhroj dan sifatul huruf, bagaimana pengucapan setiap huruf Qur'an itu seharusnya, Harokat dengan suara yang jelas, lalu Tartil yang menyangkut ahkamul huruf atau tajwid, membaca dengan teneng sesuai dengan kaedah tajwid sambil ditadaburi artinya. Kemudian tidak sebata s Qur'an saja yang diujikan, ditambah doa harian, bacaan sholat dan wudhu. Wuih lengkap deh.



Nah untuk tahun 2012 ini, SDIT Alam alhamdulillah bertambah peserta. Tahun sebelumnya yang lulus hanya 2 anak. Sekarang peserta Imtas ada 8 anak yang kesemuanya putri. Doakan ya temen-temen semoga semua lulus. Setelah dinyatakan lulus Imtas masih ada satu prosesi yang harus dilakukan yaitu Khataman Qur'an. Disini setiap peserta akan diuji secara publik. Beberapa undangan baik dari tokoh maupun orang tua diundang. Mereka dipersilahkan mengajukan soal yang harus dijawab dengan benar oleh peserta. Yah semacam uji desertasi lah. Bagi adik-adik kelas, ayo deh semangat lagi terutama yang laki-laki nih supaya Imtas tahun depan bisa bertambah banyak. Amiin.


Friday, March 30, 2012

Parenting School XVII : Membimbing Kegemaran Anak Menjadi Prestasi

Sudah menjadi hukum alam bahwa sebuah kegemaran, hobi, mania yang melakukannya bisa lupa daratan atau bahkan dunia. Untuk mencegah kegemaran boleh jadi sulit sekali. Kalo kita baca biografi para tokoh dan penemu besar, sebagian besar mereka mengukir prestasinya berenergikan kegemaran. Nah, pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah dalam mengelola energi gemar itu hingga dituntun benar menuju ukiran prestasi yang diakui. Diakui orang lain entah skala lokal, regional atau bahkan global, mundial. Adalah pak Ahmad Taufiqurrahman yang kini sudah menuai hasil kesabaran dalam mendampingi putra-putranya sehingga dengan kegemaran putra-putranya mampu mengukir prestasi. Tidak saja Nasional bahkan Internasional. Ahmad Ataka  Awwalu Rizki, jika orang bertemu dengannya tidak mengira jika ia adalah seorang mahasiswa elektro UGM. Tubuh kecil, mungil namun mampu memproduksi ide gagasan yang besar. Sewaktu SMP, ia telah membuat novel tetralogi setebal 800-an halaman. Saat SMA, ia mewakili satu dari lima wakil Indonesia di ajang Olimpiade Fisika Internasional di Kroatia. Ia pernah diundang di acara Kick Andy atas karya novelnya.


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=yBnb4aqIzFg]


Atya Sarah Faudina, putri keduanya. Sudah beratus kejuaraan dari dunia menyanyi dan pendongeng hingga tingkat Nasional yang ia raih. Bahkan ia sudah dipercaya mendampingi pengongeng Nasional Kak Bimo dalam setiap event yang melibatkan tidak hanya ratusan anak-anak tapi bahkan puluhan ribu audiens.



Kali ini acara sengaja diset full dialog. Pak Taufiq akan menjelaskan mulai dari pertanyaan yang dilontarkan oleh para hadirin. Untuk stimulus, pak Taufiq menyediakan 5 doorprize kaus pinter, yang merupakan usaha baru beliau. Idenya muncul dari putranya Ataka.


Untuk mengerti apa kegemaran anak memang gampang-gampang susah, kata Pak Taufiq. Meski diakui beliau tidak menggunakan alat tes bakat yang sekarang banyak berkembang. Beliau hanya mengandalkan naluri seorang orang tua kepada anak. "Masak dengan anak sendiri kok ya tidak paham", seloroh pak Taufik. Biarkan dan jangan campuri apa yang menjadi kegemaran anak. Sekarang ini yang terjadi, anak justru malah dijadikan seperti robot. Keinginan orang tua yang besar terhadap membuat anak harus mengalami 'pemaksaan'. Seperti harus ikut les sana les sini, les ini les itu. Boleh jadi hal itu bisa terwujud tapi tidak bertahan lama dan monoton. Seperti pernah pada tahun 2006-an, saat itu novel Ataka diakui dan naik cetak penerbit. Belum banyak penulis cilik. Selanjutnya banyak penulis cilik bermunculan. Namun, kesannya 'dipaksakan'. Ada intervensi orang tua yang 'memaksa' anak untuk menjadi penulis. Nah ini tidak natural.


 


Pak Taufiq melihat bahwa kegemaran anak bisa jadi berubah. Seperti Ataka. Saat SMP ia gemar membaca. Pak taufiq mengamati kegemaran membaca anaknya 'tidak normal'. Buku novel tebal bisa habis dalam 4 hari untuk usia 10 tahun. Bahkan untuk memenuhi kegilaan membacanya, pak Taufiq harus mengambil jatah konsumsi keluarga hanya untuk membeli buku untuk Ataka. Awal mula pak Taufiq tidak percaya anak seusia itu kok mau baca novel tebal. Ternyata setelah membaca, Ataka terus bercerita kepada orang tuanya tentang isi buku. Dan dari gaya ceritanya, Ataka paham detail terhadap apa yang dibacanya. Begitu setelah membaca pasti terus diceritakan. Karena kesibukan, orang tuanya usul supaya yang akan diceritakan itu ditulisnya. Usul itu diterima, hingga ia membuat corat-coret yang dikumpulkan. Suatu saat pernah ibunya mau membuang coretan-coretan itu. Tapi dicegah dan diamankan. Pak Taufiq awalnya mengira pasti tulisan-tulisan itu hanya cuplik sana cuplik sini. tapi rasa penasarannya membawa Beliau ke teman yang berada di fakultas Sastra UGM. Betapa kagetnya, penilaian teman beliau, ini adalah karya original. Hingga penerbit pun bersedia untuk mencetaknya.  Saat menginjak SMA, ia berubah senang pada Matematika dan Fisika. Hingga membawanya juara pada Olimpiade Fisika Internasional. Sekarang ataka sudah jadi mahasiswa teknik Elektro UGM. Kegemarannya pun berubah jadi suka dunia robot. Anak jika sudah suka sesuatu pasti akan fokus dan berusaha untuk memenuhi keingintahuannya.



Lain Ataka, lain Atya. Atya sejak kecil memang senang menyanyi. Lagu satu kaset bisa dihafal dan dinyanyikan dengan sempurna. Pak Taufiq melihat Atya suka dunia ini. Sewaktu dileskan di pelatih tarik suara. Gurunya heran karena Atya mampu menyanyikan nada solmisasi dengan bagus tanpa Fals.  Selain nyanyi dan dongeng, Atya juga suka dunia puisi. Kegemaran dongengnya yang menemukan adalah guru sekolahnya. Gurunya melihat kalo Atya tu suka ngobrol. Agar produktif, gurunya mengarahkan menjadi pendongeng yang hingga kini sudah dipercaya kak Bimo untuk menjadi asistennya.


Tidak hanya soal kegemaran. Soal cita-cita, pak Taufiq tidak terlalu mencampuri. Ataka sejak kecil ingin jadi dokter, namun sekarang meski jika masuk fakultas kedokteran di UGM pun bisa langsung masuk karena prestasinya, namun justru kini yang ia sukai adalah bidang teknik. Sehingga masuklah Teknik elektro. Karena juaranya di ajang Olimpiade Fisika Internasional, Ataka mendapatkan beasiswa hingga S3. Menurut pak Taufiq, anak adalah investasi. Pesan beliau, Jangan khawatir, jika penyiapannya benar, tanpa paksaan suatu saat panen besar pasti diraih. Kini dari novel Ataka besar royaltinya sudah mencapai ratusan juta, beasiswa, bahkan usaha baru pak Taufik pun juga lahir dari ide-ide putranya.



Bagaimana caranya mengarahkan kegemaran baca anak agar supaya tidak lupa untuk belajar materi sekolah? Yang dialami pak Taufiq terhadap anaknya, justru kegilaan membaca itu ikut membentuk karakter kedewasaan dalam belajar. Pengalaman selama ini, meski gila baca, Ataka tetep disiplin belajar dan ranking kelas terus. "Mungkin benar ya wakyu pertama itu adalah perintah baca, Iqro ! Bacalah ! ada pesan dibalik itu bahwa tidak hanya informasi yang akan didapat tapi jauh pembentukan karakter pembelajar ikut terbangun" kata Pak Taufiq. Paling awal yang harus dikuati adalah agama. Karena sebagai pondasi. Nah pada masa anak-anak di saat berkembang, bebaskanlah anak sebebas-bebasnya untuk pengembangan kreativitas. Nah agama yang kuat akan mengendalikannya. Biasanya ada orang tua akan marah jika anaknya gemar main game. Tapi suatu ketika Ataka juga gemar game, justru dari game itu ia menemukan ide muncul.



Memang saat ini banyak sekolah terutama favorit hanya mengejar gelar prestasi tanpa melihat bagaimana proses anak dalam mencapai prestasi tersebut. Pernah suatu saat peluncuran novel ataka yang diselenggarakan di sekolahnya oleh penerbit, pihak sekolah tidak begitu merespon. Begitu banyak orang yang meliput dari media, baru sekolah tersebut meresponnya.  Apalagi pihak orang tua muncul kompetisi agar anaknya bisa berprestasi di segala bidang jika perlu. Harus les sana privat sini. Yang terjadi kemudian adalah anak dieksploitasi, yang memprihatinkan ada motif  orang tua yang ingin ikut terkenal numpang terkenalnya si anak.  Biarkan anak-anak tumbuh dengan kegemaran, dengan penanganan yang tepat suatu saat bisa meledak menjadi prestasi yang mendunia.


Wednesday, March 28, 2012

Outing Kelas 2 Tema Sumber Energi : Taman Pintar - FT UMY

Memperkuat dan menambah wawasan pembelajaran tema Sumber Energi, anak-anak kelas 2 outing ke Taman Pintar dan Laoratorium tehnik UMY. Pembelajaran di Taman Pintar memberikan banyak informasi baru yang tidak di jumpai dalam keseharian. Dipandu oleh kakak kakak pemandu dari taman pintar yang memberikan banyak informasi mengenai alat peraga yang tertentu yang berhubungan dengan sumber energi dan bentuk energi yang dihasilkan.



Beberapa alat peraga di Taman Pintar seperti Air Track membuat penasaran anak-anak. Udara yang keluar dari rongga-rongga di sepanjang Track yang membuat benda di atasnya bergerak di sepanjang lintasan Track..hemmmm seperti kereta yang bergerak disepanjang lintasan yah..Sumber Energi dan bentuk energi dari Air Track itu apa hayo?? Beberapa alat peraga membuat penasaran anak-anak bahkan memegang dan mencobanya.. dan tidak lupa untuk menuliskannya pada lembar worksheet.



 Nah kalo pada alat Peraga ini anak anak dijelaskan oleh Kak Pemandu mengenai alat alat menggunakan energi listrik. dengan memencet tombol lampu 1, lampu2, lampu 3 atau pompa air atau setrika akan terlihat pada layar tulisan daya listrik yang digunakan sekaligus harga per dayanya..semakin besar dayanya semakin mahal biaya yang akan dibayarkan. Ternyata untuk menghemat listrik dan biaya kita perlu memilih jenis alat listrik yang tepat.



 Tempat tujuan selanjutnya adalah ke Lab Tehnik UMY. Harapannya anak-anak mengenali sumber energi dan bentuk energi yang dihasilkan dari alat peraga. Di sana anak-anak diajak melihat rumah (Solar Powered House) yang di dalamnya menggunakan sumber energi dari cahaya matahari yang digunakan untuk memanaskan air dan menyalakan lampu. Ada juga dengan kotoran hewan ternyata bisa menyalakan kompor gas.. wah tapi ada alat yang belum bisa terpasangjadi kompor gasnya belum nyala.... benar-benar tidak seperti biasanya di rumah yah (yang sebagaian besar menggunakan energi listrik). Rumah anak-anak besok seperti apa yah.. apakah masih menggunakan energi listrik untuk menyalakan lampu?


Ada juga mobil-mobilan..eih mana batrainya??ternyata mobil kecil ini (Solar Car Kid) menggunakan solar sel untuk mendapatkan sumber energi dari cahaya matahari untuk bisa menggerakkan mobiil-mobilan. Selain itu juga dikenalkan Motor Bakar dan alat pompa dari tenaga surya.



Selanjutnya anak-anak bertemu dengan kakak-kakak mahasiswa yang mengenalkan lampu neon (Peraga Solar Home System) yang bisa menyala karena menggunakan solar sel bersumber dari matahari.



 "Nah kalau sumber minyak bumi yang diolah menjadi bensin, solar, pertamax, atau minyak bumi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik ini makin lama bisa habis..apa yang anak-anak lakukan??"kebanyakan anak menjawab "memakai cahaya matahari saja". yah.. kalau begitu harus bisa membuat solar sel dulu karena kebanyakan solar sel masih beli dari luar negeri. Allah telah menciptakan sesuatu itu tidak sia sia. Kalaupun tidak ada sumber listrik ataupun BBM, masih ada sumber energi paling besar yaitu matahari. Allah telah menciptakan sumber energi itu.. dan kita semoga bisa jadi ilmuan yang nantinya bisa memanfaatkan ciptaan-ciptaan Allah yang lain dan tentunya untuk kemamfaatan banyak orang."Selama dunia belum kiamat..insyaallah masih bisa Nak belajar dan menjadi ilmuan! 
Terimakasih kami ucapkan kepada kakak-kakak mahasiswa Fakultas Tehnik dan terutama kepada bapak Najib (dosen Fakultas Tehnik UMY) yang telah banyak memberi kemudahan dan ilmu kepada kita dan terimakasih..mobil mobilan kecil yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan anak-anak dari Nurul Islam.

Sunday, March 25, 2012

Dewan Kelas IV A : Rumah Sajada

Satu program SDIT Alam yang mempunyai peran besar dalam proses pembelajaran siswa-siswanya adalah Dewan Kelas. Sebagai wujud nyata mewujudkan keterpaduan dalam konsep Sekolah Islam Terpadu. Terpadu antara pendidikan di sekolah dan rumah. Meski namanya Dewan tapi sangatlah beda dengan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR. Dewan Kelas dibentuk di setiap kelas. Merupakan forum yang beranggotakan orang tua atau wali siswa di kelas tersebut. Pengurusnya juga dari orang tua/wali. Tujuan penting Dewan Kelas ini adalah sebagai media komunikasi antara guru dan wali kelas dengan orang tua wali. Di forum tersebut tidak semata pertemuan, tapi orang tua/wali bisa mendapatkan informasi perkembangan putra-putrinya selama mengikuti proses pembelajaran. Masalah dan prestasi apa yang muncul dishare dan dicari solusi pemecahannya. Juga ada agenda pula upgrade orang tua dan guru terkait dengan proses pembelajaran anak. Biasanya mendatangkan ahli yang kompeten dalam pendidikan anak. Pelaksanaannya secara rutin ada yang keliling di rumah orang tua/wali atau ada yang di sekolah.



Dewan Kelas IV A kali ini berlangsung di pondok yatim piatu Rumah Sajada. Kebetulan salah seorang orang tua siswa merupakan pengurus yayasan di Rumah Sajada. Lokasi pondok ini di dusun Wirokraman Sidokarto Godean Sleman. Suasana asri dan semilir ikut mendukung. Itung-itung wisata sosial di pedesaan. Bagi yang tinggalnya di perkotaan pasti melihat lokasi ini jadi adem dan tenang deh.



Di awal acara, pak Memen selaku tuan rumah memberikan sambutan. Beliau menjelaskan tentang keberadaan Rumah Sajada. Berawal mula dari kumpulnya sebelas orang yang berniat untuk membuat sebuah pondok khusus bagi anak yatim piatu. Diawali dengan mengontrak sebuah rumah di bilangan perum Sidoarum. Targetnya 5 tahun ingin memiliki tanah dan bangunan sendiri. Namun, Allah mempercepat rencana tersebut. Hanya satu tahun berjalan, Allah tunjukkan jalan dengan adanya kemudahan untuk membebaskan lahan seluas 1800 meter persegi yang sekarang ini dihuni oleh 33 santri yatim-piatu. Dukungan masyarakat sekitar turut memperkuat tekad menghadirkan kemanfaatan sebagai salah satu solusi untuk menyelesaikan umat.



Selanjutnya sebelum acara sharing ada siraman rohani dahulu. Tausyiah yang diberikan terkait dengan bagaimana peran orang tua dalam membina anak. Agama sebagai tatanan yang bisa dianalogikan sebagai rem dalam kehidupan harus kuat tertanam pada diri pribadi anak. Sehingga dalam menjalani kehidupan manakala berbagai terpaan masalah dan pengaruh buruk melanda. Anak sudah kuat dalam mengendalikan diri. Mampu memilih mana yang baik dan benar.


Setelah acara tausyiah selesai dilanjut dengan sharing. Ustadz Lubis selaku wali kelas IV menyampaikan perkembangan yang dialami siswa-siswa kelas IV A. Dalam forum tersebut terjadi diskusi hangat terkait dengan bagaimana dalam proses belajar di kelas IV ini jangan sampai anak sudah ditakuti dengan 'hantu UASBN' sehingga menjadi tegang dan terpaksa. Biarlah anak menjalani proses belajar sesuai dengan kondisi alamiahnya. Namun bukan berarti jika terjadi ketidakmampuan terus dibiarkan saja. Ketuntasan indikator pembelajaran harus tetap menjadi pegangan. Peran guru ternyata sangat penting. Apalagi guru yang mendampingi siswa di setiap level kelas terbukti ikut berperan dalam lancarnya siswa menjalani proses belajarnya. Dengan guru yang baru, anak harus adaptasi dahulu. Belum lagi informasi guru terkait dengan situasi dan kondisi tiap anak boleh jadi belum lengkap karena transfer dari guru sebelumnya belum mulus. Jadilah fenomena ini nantinya dijadikan aspirasi kepada pihak-pihak terkait baik yayasan maupun pimpinan sekolah.  Setelah acara Dewan Kelas ditutup, para santri makan siang bersama. Silaturrahiim, informasi perkembangan putra-putri, ilmu, wisata sosial, wah lengkap sekali kegiatan liburan kali ini. Apalagi hari ini pas juga dengan hari jadinya SDIT Alam Nurul Islam yang ke 10 loh. Slamat milad SDIT Alam !!!