Friday, January 21, 2011

Mabit Ustadz-ustadzah

Sebagai guru pastilah harus selalu menambang ilmu agar selalu bisa berperan maksimal menjadi seorang pendamping dan pembelajar bersama siswa-siswanya. Selain training, di SDIT Alam ada forum spesial untuk ustadz-ustadzah agar pemahaman dan ketrampilan bisa terupgrade dengan baik. Jika training sebagai forum untuk meningkatkan kompetensi dan skill. Nah, ada forum lain yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas ruhiyah.  Mabit namanya. Malam Bina Iman dan Taqwa.

Alhamdulillah Mabit perdana di semester genap ini berlangsung di hari Jum'at 21 Januari 2011. Menu acaranya, yang pertama adalah bedah buku. Dimulai setelah sholat Maghrib, ust. Budi Suprayitno membedah buku berjudul Aku Wariskan Moral Bagi Anakku karya Ust. Miftahul Jinan.

Buku ini membahas tentang pentingnya pendidikan moral bagi anak didik di tengah masih banyaknya sekolah yang masih saja mementingkan nilai ketimbang moral. Diawali dengan ilustrasi sebuah kisah seorang siswi yang termasuk rajin namun pada saat Ujian Akhir tidak lulus disebabkan nilai mata pelajaran Matematika jauh di bawah standar kelulusan. Namun, siswi tadi bukannya larut dalam kesedihan dan hanyut dalam keputusasaan. Justru, siswi tadi tetap menyikapi hasil ujian tadi dengan ketegaran. Memandang bahwa masa depannya tidak mutlak ditentukan oleh hasil ujian. Sangat kontras dibandingkan dengan pemandangan yang selama ini kita lihat saat pengumuman kelulusan. Betapa  banyak anak histeris sampai pingsan atas ketidaklulusannya. Apa yang menyebabkan ketegaran si siswi tadi ? Apakah sebuah kebetulan ? memang bakat ? Ataukah memang sejak dini si siswi tadi sudah dibiasakan dengan sentuhan pendidikan moral ?

Ternyata, moral-lah yang sangat berperan menentukan keberhasilan pendidikan yang secara nasional memang untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Bukan kecerdasan semata. Sudah nyata di depan kita, siapa sebenarnya orang-orang yang merusak negeri ini dengan tindakan korupsi. Bukankah mereka orang-orang yang cerdas tapi amoral?

Buku ini memuat tahapan perkembangan moral bagi anak, tahap itu adalah :

1.    Attachment (usia 0-2 tahun)
2.    Kemandirian dan Percaya Diri (usia 2-4 tahun)
3.    Otoritas (usia 4-6 tahun dan 6-8 tahun)
4.    Moralitas Teman Sebaya (usia 8-14 tahun)
5.    Moralitas Sosial (usia 14-20 tahun)
6.    Moralitas objective dan Hati Nurani (usia 20 tahun hingga dewasa)

Tahap perkembangan itu menentukan warna pendidikan yang harus diberikan kepada si anak.Selesai bedah buku dilanjutkan dengan acara Kado Silang. Ternyata, acara ini terkesan sederhana namun cukup mengena. Tiap ustadz-ustadzah diminta membuat kado seharga Rp. 5000 kemudian dibungkus dengan kertas koran. Mulailah kado ditukar. Macem-macem yang dapat. Ada yang dapat sisir, bros, bunga, sandal dan lain-lain.Setelah sholat 'Isya dan makan malam, acara dilanjut dengan forum penyegaran tentang konsep alam. Sebagai pembicaranya adalah Dr.rer.nat. Muhammad Farchani Rosyid, beliau merupakan 'ideolog' sekolah alamnya SDIT Alam Nurul Islam. Banyak pemikiran-pemikirannya yang menginspirasi dan turut membangun konsep alam di SDIT Alam. Beliau mengawali dengan tayangan-tayangan kemajuan sains dan teknologi yang sekarang terjadi. Semuanya masih barat yang menjadi pelakunya. Mereka sangat cepat iri jika melihat adanya kemajuan Saintek negara lain. Sebagai contoh, Amerika sangat gerah melihat Soviet yang sudah berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik. Melihat ketertinggalan itu, Amerika kemudian merombak pola pendidikan Sainsnya dari jenjang terendah hingga tertinggi. Namun, bertolak belakang yang terjadi di negeri ini. Isu-isu besar ketertinggalan Sainstek oleh pemerintah hanya direspon melalui UAN, UASBN, sertifikasi, RSBI, yang esensinya hanya formalitas semata. Beliau termasuk yang sering menjadi juri Olimpiade Fisika baik tingkat Asia maupun Internasional. Berulang kali beliau menegaskan. Negara-negara Amerika, Jepang, Jerman, dan beberapa negara maju lain meski ikut tapi jarang kita dengar mereka juara.  Yang selalu juara pasti negara-negara berkembang di Asia termasuk Indonesia. Tapi cobalah tengok dari awal, siapa saja para penerima Nobel? tak satupun dari mereka pernah menang Olimpiade Internasional. Artinya selama ini Olimpiade itu kembali lagi hanya sebatas formalitas semata. Bukan membentuk manusia yang haus ingin tahu akan ilmu, peneliti.

Kritik lain dari beliau, selama ini sekolah kita hanya berorientasi pada isi bukan kapasitas siswa. Lihat saja banyak mata pelajaran dipaksajejalkan di jenjang pendidikan yang masih rendah. Tanpa diasah seberapa dalam kapasitasnya. Kapasitas disini adalah rasa ingin tahu, semangat mengeksplorasi, tak kenal menyerah, gila baca dan lain-lain. Bukan banyaknya berapa istilah ilmu yang dihafal tanpa tahu benar apa maksudnya.

Beliau memberikan rambu-rambu pembelajaran. Bahwa selama ini kita menyampaikan IPS, IPA dan Matematika hanya sebagai mata pelajaran saja. Bukan sebagai suatu ilmu yang menyatu dengan kehidupan ini. Terlihat dengan topik pembicaraan pada bidang tersebut dilepaskan dengan kehidupan nyata.

Untuk IPS, sebagai contoh Sejarah. Selama ini anak-anak hanya dijadikan sebagai mesin penghafal informasi. Padahal Sejarah itu hakikatnya adalah hasil interpretasi seorang peneliti sejarah tentang obyek sejarah. Sehingga siswa hanya menghafal hasil investigasi seorang sejarawan atau bahkan mempelajari sejarawan itu sendiri. Harusnya, kita ajak siswa melihat dan mengamati obyek sejarah langsung dengan alat indra mereka. Pancing mereka dengan umpan yang akan menarik keingintahuan. Sehingga mereka haus ingin tahu dan mengeksplorasi obyek tersebut. Pastilah akan banyak hal yang akan ditemukan. Jadi, belajar sejarah sama dengan menjadi detektif.

Untuk IPA. Hakikatnya, jika berbicara IPA itu mencakup 4 hal yang tidak akan terlepas satu dengan yang lain. Fakta Sains, Sikap Sains, Proses Sains dan Produk Sains. Kebanyakan yang terjadi hanya fakta sains yang dijadikan sebagai obyek pembelajaran. Kembali lagi siswa dijadikan sebagai mesin penghafal fakta-fakta Sains. Padahal perkembangan Sains sangatlah pesat. Sudah tentu fakta-fakta itu dengan cepatnya akan usang. Selain itu anak juga harus mempunyai sikap Sains, ingin tahu eksplorasi, tidak cepat puas. dari belajar Sains anak sangat sayang lingkungan dan makhluk lainnya. Menciptakan kelestarian bukan eksploitasi tanpa batas.

Untuk Matematika. Matematika adalah merupakan bahasa praktis pemecahan masalah kehidupan. Bayangkan jika beli 45 apel ditambah 34 mangga, cukup ringkasnya ditulis dengan 45+34=79. Sehingga pembelajaran Matematika harus menyatu dengan persoalan kehidupan. Jika menghitung luas, langsung menghitung kamar, kain atau lapangan. Tidak semata yang ada di gambar saja. Ternyata untuk Matematika itu tidak mengenal usia. Artinya di usia manapun orang akan mampu menguasainya. Sebagai contoh, Gauss menemukan deret aritmetikanya saat usia 7 tahun, usia yang sangat muda. Einstein belajar Matematika di saat ia butuh alat persamaan untuk menguak keingintahuannya.

Di akhir sesi, ust. Rasyid memberikan nasehat dalam memotivasi anak. Selama ini jika kita bertanya tentang cita-cita anak itu judulnya adalah "Mau jadi apa (Want to be)", bukannya "Mau melakukan apa (Want to do)". Padahal keduanya sangatlah lain. Cobalah tengok, apakah cita-cita Thomas A Edison, tidak pernah terucap olehnya ingin terkenal, atau pembuat bola lampu. Tapi cita-citanya adalah ingin membuat dunia terang jika malam. Apakah cita-cita nya Einstein, ternyata dia ingin menguak rahasia alam semesta ini, meski ia hanya seorang karyawan pencatat hak paten saja. Terkadang pertanyaan yang tidak pas mengakibatkan obsesi yang tidak pas juga. Jika kita tanya "Mau jadi apa kamu ?" dijawab "Dokter", nah setelah jadi dokter apa yang akan dilakukan, apakah hanya akan memeriksa orang sakit saja. Sungguh sangat rugi jika kita mempunyai anak yang jenius "hanya" semata ingin memeriksa orang sakit saja, padahal jika lebih diasah dan dimotivasi bisa menjadi orang yang memberikan manfaat yang besar untuk kehidupan di dunia ini.

Masjid Baru

Akhirnya datang juga. Alhamdulillah, masjid yang sudah lama didambakan keberadaannya kini hadirlah sudah. Tidak lagi sholat jama'ah di GOR. Dan tentu pembelajaran Qiroaty bisa menemukan tempatnya yang pas, gak lagi di emperan kelas. Adalah WAMY (World Assembly of Muslim Youth) lembaga yang berkenan memberikan paket bantuan masjid kepada SDIT Alam Nurul Islam. Rencananya, masjid baru akan terdirin dari 2 lantai. Lantai atas menggunakan bantuan WAMY sedangkan lantai bawah menggunakan swadaya yayasan Nurul Islam. Jum'at, 21 Januari 2011 adalah momen dimulainya pembangunan masjid dengan prosesi peletakan batu pertamanya. Acara peletakan batu pertama itu dimulai dengan acara tilawah bareng siswa kelas 1 membawakan surah an-Naba.Sedangkan peletakan batu pertama dilakukan oleh perwakilan WAMY Jogja Bapak Muhammad Jamal atau dipanggil Pak Jumal. KH Drs. Slamet Bahauddin, ketua yayasan Bapak Zidni Immawan dan Pak Bahrum selaku pengawas PAI kecamatan Gamping sekaligus memimpin doa.

Di akhir acara KH. Drs. Slamet Bahauddin menyampaikan tausyiah terkait dengan krisis kejujuran yang telah melanda negeri ini. Nilai kejujuran membuka kebaikan, sebaliknya dusta akan membuka pintu keburukan.

Pembangunan masjid akan direncanakan selama kurang lebih 4 bulan. Jika lancar pembangunannya masjid ini menjadi masjid ke-25 dari seluruh masjid yang ada di kecamatan Gamping dan merupakan masjid ke-46 untuk seluruh masjid bantuan WAMY di Jogja.

Kepada ANDA sekalian yang berkeinginan menyampaikan Infaq, Shodaqoh dan Wakaf tunai ANDA, bisa disampaikan ke rekening Yayasan Nurul Islam di Bank Syariah Mandiri nomor 3470000950

Wednesday, December 29, 2010

Mukhayyam (Berkemah) 2010

Menutup kegiatan pembelajaran semester ganjil 2010/2011 ini, sudah menjadi tradisi jika diadakan Mukhayyam atawa Kemah Pandu. Ada yang lain untuk pelaksanaan tahun ini. Jika Mukhayyam tahun-tahun sebelumnya dimulai sore, trus pulang paginya. Nah, giliran sekarang, diajukan. Mulainya pagi trus selesai pagi hari berikutnya. Kurang lebih 24 jam lah. Kalo biasanya makan peserta sudah 'dijamin' sama ustadzah dapur. Sudah disediakan tinggal ambil. Nah sekarang setiap regu Mukhayyam harus masak dulu. Kalo dulu-dulu boleh bawa snack sesukanya, sampe bawaan berat semuanya hampir diisi snack. Nah, sekarang yang boleh dibawa adalah barang-barang alami. Artinya belum matang dari alam. Yang instan-instan dilarang.

Alhamdulillah, dengan aturan main yang baru ini anak-anak justru suka sekali. Mereka bisa berimprovisasi mau masak apa. Sesuai yang mereka suka. Trus, yang jelas waktu tinggal di tenda makin lama. Yang tentunya makin asyik.

Seluruh peserta hadir jam 07.00, diawali dengan presensi peserta per regu. O iya, untuk kegiatan Mukhayyam ini diperuntukkan bagi siswa-siswi kelas 3 sampe 6. Untuk siswa-siswi kelas 1 dan 2 hanya mabit saja. Hadirnya juga sore, pulang pagi. Tinggalnya pun di ruangan. Setelah semua peserta presensi, panitia langsung mengumpulkan di lapangan sesuai dengan regunya. Mereka akan mengikuti Apel Pembukaan Mukhayyam 2010.

Kegiatan Apel Pembukaan berlangsung penuh semangat. Apalagi ditambahi dengan menyanyikan nasyid Jejak yang dinyanyikan Izzatul Islam  (download disini ) dan Bingkai Kehidupan yang dinyanyikan Shoutul harokah (download disini). Semangat dibakar seperti memasuki arena pertempuran.

Apel selesai, setiap regu diundi kavling tempat mereka mendirikan tenda. Setiap regu mendapat jatah 2 paket tenda. Meski ada pemandu, secara mandiri akan mendirikan tenda tempat tinggal mereka senyaman mungkin. Mengingat selama 24 jam kedepan disitulah tempat tinggal mereka.

Tenda sudah kokoh berdiri. Saatnya Olimpiade Pandu. Kompetisi antar regu dengan kompetensi Pandu yang selama ini menjadi materi pembelajaran mereka. Ada Tsaqofah (Pengetahuan), Tali temali, Renang, Panjat Pohon, P3M (Pertolongan Pertama Pada Musibah), Denah dan Peta. Setiap regu membagi anggotanya, siapa jagoannya yang akan dikirim di tiap mata lomba. Sedangkan yang lain bertugas menyiapkan menu makan siang regu.

Olimpiade Pandu selesai saat Sholat Dhuhur tiba. semua peserta menuju GOR untuk berjama'ah sholat Dhuhur. Selesai sholat, peserta dibakar lagi dengan kultum hamasah (penyemangat) tentang heroisme dalam menegakkan kebenaran oleh ustadz Hamdan. Dengan menceritakan kisah Ashabul Ukhdud, kisah penyiksaaan ratusan manusia yang dibakar di parit yang menyala api karena mereka mengikuti ajakan seorang pemuda untuk mengingkari rajanya yang kafir. Meski nyawa menjadi taruhan. Di sela-sela kutum, ustadz Hamdan memberikan yel-yel yang dinyanyikan sesuai nada lagu 'Garuda di Dadaku' tapi diganti syairnya menjadi "Al Qur'an di dadaku, Al Islam Kebanggaanku, Kuyakin hari esok Pasti Menang" . . .

Saatnya Lunch, makan siang. Saatnya menikmati menu hasil masakan yang rata-rata baru pertama kali mereka lakukan. Tentu tidak seindah yang dihidangkan ustadzah dapur. Tidak seharum makan siang selama ini. Ada yang beraroma gosong, jika digigit bunyi 'kletuk', jika ditelan nyangkut di tenggorokan, ada yang cuma pake nasi dan tempe saja, nasi dan kentang saja dan berbagai pengalaman yang akan menempel kuat di memori mereka. Meski ada juga sih yang menunya lengkap, lauk, sayur dan nasi yang harum. Kebanyakan dijumpai di regu putri. Udah pengalaman kali ya.

Selesai makan siang, saatnya penjelajahan. Mencari Jejak. Setiap regu diharuskan mencari pos yang jumlahnya ada 5 buah. Untuk mencarinya mereka harus menguikuti petunjuk berupa anak panah berwarna merah. Di tiap pos mereka diberi tugas terkait dengan pembelajaran yang selama ini mereka dapatkan. Seperti ketrampilan berbahasa Arab dan Inggris, Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial dan Kreasi Seni. Track yang dilalui dari perkampungan, persawahan, hutan, perumahan, nyeberang sungai yang lumayan dalem,  lengkap banget deh.

Saking lamanya penjelajahan, sholat 'Ashar harus mereka lakukan di perjalanan. Entah di tengah hutan, sawah. Alhamdulillah jika pas ketemu masjid atau mushola. Sampai lokasi Mukhayyam, menjelang Maghrib. Segera peserta bersih diri untuk persiapan sholat Maghrib berjama'ah di GOR.

Kultum Maghrib kali ini diisi kultum oleh ustadz Irman. Peserta diminta bereksplorasi mengapa mereka harus berMukhayyam. Dengan Mukhayyam mengasah hidup mandiri. Mandiri artinya bukan menjadi seorang yang individualis, egois. Tapi, mandiri adalah mampu melakukan semuanya dengan sendiri dan bisa menolong saat orang lain minta pertolongan. Sehingga dengan Mukhayyam yang tumbuh adalah suasana berbagi bukan saling menguasai, saling bantu bukan saling menyalahkan. Trus juga dengan Mukhayyam peserta diasah Tanggung Jawab. Karena Rasulullah SAW bersabda : bahwa setiap kita adalah pemimpin. Artinya seorang menjadi pemimpin jika dia bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang menjadi milik dan amanahnya.

Setelah makan malam dan sholat 'Isya dilanjut acara Api Unggun dan Haflah atawa pentas seni. Setiap regu harus menunjukkan bakat penampilan di acara Api Unggun. Ustadz Gusdul dan Yunarko sebagai pembawa acara mengawali dengan meluruskan niat dan memaknai  kegiatan Api Unggun. Api sebagai zat yang mempunyai kekuatan jangan sampai membelokkan niat hingga menjadi syirik. Apalagi api adalah zat pembentuk syetan musuh terkutuk abadi manusia. Dan juga, api adalah materi terbanyak yang mengisi neraka. Meski, juga kita tidak pungkiri bahwa ada banyak manfaat dari api. Penerang, pemanas ketika masak, pengusir hewan liar bahkan untuk industri.

Pagi hari, kegiatan diawali dengan sholat Shubuh dan kultum oleh ustadz Budi yang mengajak kita untuk menghitung dan merenung betapa banyak nikmat Allah yang telah kita terima. Kemudian lanjut dengan jalan pagi menyusuri perkampungan sekitar SDIT Alam. Seluruh kegiatan selesai ditutup dengan Apel penutupan dan penyematan pin tanda lulus Mukhayyam 2010.

Friday, November 19, 2010

Qurban 1431: Buktikan Cintamu !

Qurban tahun ini sedikit berbeda. Pelaksanaannya digabung serempak dengan TKIT dan SMPIT. Sehingga praktis merupakan Qurban Kolosal pertama kali. Bisa kebayang kan berapa orang yang akan terlibat di hajatan Qurban kali ini. Agar pelaksanaannya bisa sukses dan lancar harus diadakan pengaturan. Untuk siswa TKIT dan siswa SDIT kelas 1 dan 2 diadakan acara khusus. Mereka tidak dilibatkan dalam proses dari penyembelihan hingga pengemasan daging Qurban. Sedangkan siswa SDIT kelas 3 hingga 6 berikut siswa SMPIT, dilibatkan dalam pengelolaan daging Qurban. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok. Kelompok Penyembelihan dan Pengulitan, Pengirisan Daging, Pencucian Jerohan, Penimbangan dan Pengemasan.



Alhamdulillah Qurban tahun ini ada 28 kambing. Dari TKIT 13 ekor, 14 dari SDIT dan 1 ekor dari SMPIT. Semua digarap dengan penuh kewalahan. Biasanya selesai sebelum Dhuhur, kali ini sudah adzan masih ada beberapa hewan yang masih dikuliti.



Bagian ini nih yang paling butuh banyak pengorbanan. Mereka harus bergumul dengan yang bau-bau. Habisnya yang jadi tugasnya adalah membersihkan kotoran dari organ dalam si Kambing. Kebayang kan gimana baunya. Tapi sangat salut bagi mereka. Justru mereka senang tak terpaksa. Asyik satu per satu membersihkan kotoran.

Nah bagi siswa yang tidak ikut menggarap daging, diajak ustadzah berkeliling secara kelompok melihat proses penggarapan daging Qurban. Mereka diperkenalkan Anatomi Kambing, dari tulang, organ dalam, daging. Satu persatu diminta memegang dan membaui.

Kegiatan kali ini  serasa rame dan akrab, bisa menyatukan seluruh ustadz/ustadzah dan karyawan dari TKIT hingga SMPIT. Semoga kegiatan seperti ini dapat berlangsung terus agar ukhuwah semakin erat.

Friday, November 12, 2010

Belajar Mencangkok

Belajar tumbuhan Monokotil dan Dikotil tidak cukup hanya dengan menghafal ciri-cirinya. Harus ditambah dengan melihat langsung bentuk tanamannya. Sampai fasih setiap kali liat tanaman bisa nebak dengan tepat apakah Monokotil ataukah Dikotil. Ternyata pengetahuan Monokotil dan Dikotil ternyata bermanfaat. Salah satunya bermanfaat untuk memperbanyak tanaman. Selama ini tanaman diperbanyak melalui bijinya. Untuk tanaman yang umurnya panjang jadi lama deh nunggunya untuk dapetin hasilnya. Tanaman buah misalnya. Ada satu cara untuk memperbanyak tanaman buah tanpa nunggu lama. Begitu ditanam bisa langsung berbuah seperti induknya. Kok bisa ? Ya iyalah. Gimana tuh caranya ? Cara itu disebut dengan Mencangkok.

Tidak semua tanaman bisa dicangkok. Yang bisa dicangkok khusus tanaman Dikotil saja. Nah lihat dulu bagaimana penampang batang Monnokotil dan Dikotil dulu.


sumber : http://gurumuda.com/bse/organ-tumbuhan

Liat letak Phloem dan Xylem. Phloem adalah jaringan untuk mengangkut makanan hasil yang dimasak oleh daun. Sedangkan Xylem adalah jaringan untuk mengangkut bahan makanan hasil pencarian akar dari tanah. Pada tanaman Monokotil, letak Phloem dan Xylem tersebar tidak teratur. Sedangkan pada tanaman Dikotil, teratur melingkar. Antara Phloem dan Xylem dibatasi oleh kambium. Kambium ini berperan sebagai yang membuat batang makin besar. Yang tidak dipunyai pada tanaman Monokotil. Makanya tanaman Monokotil gak pernah besar.



Nah, mencangkok tanaman itu adalah sama aja dengan melukai kulit batang Dikotil hingga lapisan Phloem. Lapisan Phloem dibersihkan. Tujuannya, aliran makanan dari daun dihentikan pada cangkokkan tersebut.


Kulit batang yang terbuka itu kemudian ditutup dengan tanah yang dicampur pupuk. Perbandingannya 1 : 1. Lalu, ditutup dengan sabut kelapa atau plastik. Bagian atas dan bawah dibuat supaya air bisa keluar dan masuk.


Aliran makanan yang terhambat kemudian bertemu dengan tanah+pupuk selanjutnya akan menumbuhkan akar. Tapi akar yang tumbuh bukanlah akar tunggang. Meski tumbuhan Dikotil, akar yang muncul pada cangkokkan adalah akar serabut.






Monday, November 1, 2010

Kultum Pake Masker

Meski jarak kampus SDIT Alam Nurul Islam cukup jauh untuk terkena serangan Awan Panas Merapi, namun tidak begitu saja aman. Allah sangatlah Adil. Sabtu 30 November 2010 dini hari, terjadi erupsi eksplosif, erupsi disertai ledakan dari gunung Merapi. Akibatnya seluruh Jogja rata dengan hujan abu Vulkanik. Abu atau debu ini bukanlah debu biasa. Tapi kandungannya yang membuat ngeri. Ada Silika, Arsen, Belerang. Semuanya sangat berbahaya bagi kesehatan. Abu itu masih saja menempel di berbagai benda yang terkena langsung oleh jatuhnya hujan abu tersebut. Genting, dedaunan, bahkan jalan raya dibuat memutih. Manakala ada angin yang bertiup, debi-debu itu akan mudah terbang. Jika terhirup atau masuk mata disitulah bahaya mulai mengancam.

Untuk itu seluruh siswa diharuskan untuk mengenakan masker atau penutup hidung dan mulut. Kemanapun mereka pergi, apalagi ke tempat yang keberadaan debu sangat banyak. Anehnya, saat kultum setelah sholat 'Ashar, saking hati-hatinya, mas Ageng masih menggunakan masker. Baru kali ini deh, ada kultum pake masker he . . he . . he.

yang lain pun tidak ketinggalan. Bahkan ada yang sholat juga menggunakan masker demi mencegah bahaya yang mengancam akibat masuknya debu Vulkanik ke organ-organ kita.

Aksi Solidaritas Mentawai-Merapi

Perasaan sedih bercampur pilu gak kan mungkin ditahan lagi. Kejadian bencana yang menimpa negeri tercinta ini bertubi dan silih berganti. Banjir Wasior, Gempa-Tsunami Mentawai dan Erupsi gunung Merapi. Harta benda, saudara, orang tua, anak, habis meninggalkan tangis yang mengiris. Siapa lagi yang bisa diandalkan oleh mereka yang ditinggal. Kalau bukan kita saudara, sebangsa yang sama hidup di bumi yang sama ini.

Empati tumbuh merekah waktu kita bisa membayangkan jika kita yang berada di lokasi bencana itu. Pikiran apa yang akan berkecamuk saat rumah kita hancur. Saat orang tua kita hilang. Saat kita mengungsi dan berpisah dengan seluruh anggota keluarga. Apalagi jika mengetahui kondisi detail bencana. Gelombang Tsunami setinggi 10 meter, awan panas bersuhu 600 derajat berkecepatan 300 kilometer per jam. Pastilah kita tidak dalam kondisi senyaman di tempat duduk kita sekarang ini.

Senjata mukmin yang paling ampuh adalah do'a. Berdo'a bukan berarti lemah. Justru ia adalah 'rayuan halus' kepada Yang Maha Pengabul Permintaan. Membuka berbagai harapan kebaikan yang Allah turunkan karena ridho-Nya. Berharap bahwa musibah ini adalah ujian. Ujian yang akan meluluskan siapa saja yang akan naik derajat keimanannya. Bukannya adzab atas berbagai pelanggaran yang membuat Allah murka.

Acara dipungkasi dengan galang dana untuk dikirim ke lokasi bencana. Meski belum semua, Alhamdulillah  perolehan dana sementara adalah Rp.2.300.000. Semoga sedikit meringankan beban mereka sebagai ungkapan solidaritas kami