Saturday, March 24, 2012

Mabit Kelas IV : Touching Your Heart

Ah, seperti tagline merek motor saja. Tapi bener loh, Mabit atau dipanjangkan menjadi Malam Bina Iman dan Ukhuwah kelas IV kali ini sungguh menyentuh hati. Daleeem banget. Apalagi siang sebelumnya diawali dengan puasa sunnah Kamis. Semua siswa melakukan kecuali mas Ahmad yang masih dirawat di rumah sakit. Kehadiran acara mabit pun juga penuh cuma minus mas Ahmad. Acara dibuka jam 17.00. Setelah pendaftaran, semua siswa berkumpul di aula. Mereka sudah siap dengan kado yang akan ditukarkan untuk snack berbuka. Setelah saling tukar kado, Bedug Maghrib menjelang. Memang bener kata Rasulullah SAW, buka puasa itu satu dari dua kenikmatan bagi orang yang puasa. Satunya lagi kenikmatan Surga.



Setelah sholat Maghrib berjama'ah, dilanjutkan dengan makan bersama. Karena menu makan besar bawa sendiri-sendiri jadinya macam-macam. Satu dan lain bisa saling berbagi. Berbagi lauk maupun sayur. Nasi juga tuh. Sambil ngobrol dan berbagi serasa nikmat, sambil bayangin dulu Rasulullah SAW makan bareng sama shohabat-shohabatnya.


Dahulu Rasulullah sewaktu ingin mengajak kaum kafir Quraisy diundang jamuan makan dahulu. Begitu sudah puas makan, Rasulullah trus mulai mengutarakan maksud ajakannya untuk memeluk agama Islam. Di SDIT Alam, forum makan bersama menjadi forum yang sangat efektif bagi guru wali kelas untuk memberikan nasehatnya. Sambil makan dan ngobrol, topik lauk, sayur bisa jadi judul yang apik. Mirip dengan kisah nyatanya Toto Chan seorang siswa perempuan yang sangat terkesan dengan sekolah dan gurunya.


Setelah sholat 'Isya berjama'ah, siswa kelas IV menuju aula. Karena kebetulan masjid digunakan untuk acara mabit kelas VI. Di aula siswa mengikuti forum perenungan terkait dengan bakti mereka dengan kedua orang tua. Mereka diingatkan dengan keseriusan saat belajar di sekolah. Saat orang tua mempercayakan harapan masa depan anak-anaknya. Apakah mereka ingin mempunyai masa depan yang suram. Masa depan yang tidak jelas. Kemudian anak-anak diingatkan dengan masa saat mereka di kandungan. Ibu yang susah payah membawa kemanapun dan kapanpun pergi. Begitu saatnya lahir, sang ibu harus bertaruh nyawa. Antara hidup dan mati untuk melahirkan anaknya. Begitu lahir pengorbanan berlanjut dengan menyusui mereka. Memberi makan, Melatih jalan, melatih bicara, menyekolahkan . . . . Berapa rupiah sudah dibelanjakan dengan harapan masa depan anaknya menjadi yang terbaik. Anak-anak mulai tersentuh dan meneteskan air mata. Tidak sedikit yang menangis. Di ujung renungan, anak-anak disuguhi tayangan saat-saat mereka dilepas orang tua setiap hari berangkat sekolah. Bagaimana ekspresi mereka meminta restu orang tua tergambar jelas.


[youtube http://www.youtube.com/watch?v=s2DnOunfvlE]


Haru dan sedih makin menjadi tak tertahan lagi. Tangis makin keras. Makin tersadar bahwa selama ini semua pengorbanan Ayah dan Ibu sudah begitu besar. Sedangkan selama ini lebih sering ketidakpedulian bahkan keinginan dan permintaan harus selalu dipenuhi.


Acara renungan berakhir dan ditutup kemudian dilanjut dengan istirahat tidur malam. Semua anak diharuskan tidur tidak boleh yang ngobrol atau aktivitas lainnya. Jam 03.30 anak-anak sudah pada bangun. Mereka bergegas mengambil air wudhu dan gosok gigi. Siap untuk melakukan sholat Tahajjud berjama'ah. Suasana yang sunyi sepi sangat mendukung khusyuknya melakukan sholat. Selesai sholat, menunggu adzan Shubuh ustadz Lubis dan ustadz Udin menyampaikan pesan. Kembali diingatkan akan pentingnya mereka belajar di SDIT Alam Nurul Islam. Tujuan mereka belajar adalah berakhlaq mulia dan mendapatkan nilai tinggi. Tidak semata hanya dapat nilai tinggi. Sangat mungkin orang yang mendapatkan nilai tinggi tapi akhlaqnya buruk. Kita bisa liat ada Gayus dan temen-temen koruptornya di negeri ini. Mereka cerdas tapi akhlaqnya bejat. Tapi, jika akhlaqnya mulia sudah bisa dipastikan nilai tinggi akan mudah teraih.



Pagi hari ada acara spesial. Makan bareng nasi kucing. Wuih, enaknya. Perut yang laper sangat cocok kemasukan nasi kucing yang porsinya tidak terlalu banyak. Semua tampak lahap menyantap nasi yang menjadi menu khas Angkringan ini.



Acara mabit ditutup dengan olahraga air. Anak-anak dikelompokkan menjadi bebarapa pasukan. Mereka berlomba untuk saling menembak. Ceritanya terjadi perang air. Sudah bisa dipastikan pengakhirannya basah-basah yang ada. Begitu selesai mereka lanjutkan dengan mandi, sehingga saat pulang sampe rumah sudah bersih nan wangi.


Thursday, March 15, 2012

Outing Kelas 3 : IPAL - Museum Bahari - Pemadam Kebakaran Jogja

Mempelajari tema Air, anak-anak kelas 3 mendalaminya dengan melakukan outing. Destinasi atawa tujuan outing kali ini adalah, pertama ke IPAL (Instalasi Pengelolaan Air Limbah) yang letaknya di jalan Bantul, tepatnya Sewon Bantul. Di sini akan dijumpai berbagai instalasi atau alat yang digunakan untuk mengolah air limbah baik dari rumah tangga maupun industri.


Ternyata lokalnya suangat luuuass sekali. Banyak kolam-kolam yang berisi air seperti kolam perikanan saja. Waktu hadir  kami disambut di aula, dengan duduk lesehan kami dijelaskan dahulu tentang apa itu IPAL dan apa saja yang dilakukan disini. Barangkali karena banyak istilah yang agak rumit anak-anak hanya mengikuti saja alur penjelasan. Begitu dipersilahkan untuk melihat langsung instalasi, anak-anak langsung bersemangat.


Satu per satu instalasi dijelaskan oleh pemandu. Anak-anak terlihat antusias mneyimak penjelasan. Sambil nutup hidung mereka terus mengamati. Karena bau tak sedap dari limbah yang menyebar.


Air yang sudah dipastikan aman baik secara kimia artinya tidak mengandung unsur-unsur yang berbahaya jika mengenai makhluk hidup. Juga dipastikan aman secara biologis artinya tidak mengandung bibit-bibit penyakit yang berbahaya bagi manusia. Setelah selesai dan puas belajar di IPA. Berlanjut belajar ke museum Bahari. Lokasinya ada di Jl. R.E. Martadinata 69 Wirobrajan Yogyakarta. Terlihat jelas di pinggir jalan.


Di musuem Bahari kami disambut oleh petugas secara lesehan duduk di ruang aula. Kami dijelaskan tentang keberadaan museum. Ternyata benda-benda disini banyak yang merupakan koleksi pribadi seorang Laksamana dan juga milik angkatan laut. Baik berupa hiasan maupun benda yang ada kaitannya dengan persenjataan.Setelah dijelaskan, anak-anak dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok satu dipersilahkan melihat video dokumentasi berdurasi 15 menit di dalam bangunan yang mirip kapal. Sedangkan kelompok lainnya dipandu melihat benda-benda koleksi.


Selain itu, anak-anak juga diberi kesempatan merasakan bagaimana rasanya menjadi kapten kapal. Memegang setir kapal, menentukan derajat arah kapal, kecepatan knot kapal dan membaca peta di laut. Memang, negeri kita yang sebagian besar berupa air harus punya angkatan laut yang kuat. Supaya para pengacau dan pihak-pihak yang ingin mengambil sumber daya alam baik yang hayati maupun non hayati harus berpikir seribu kali. Hayo, siapa yang tertarik ingin jadi Navy alias Angkatan Laut.

 Puas bereksplorasi di museum Bahari, perjalanan lanjut ke Unit Pemadam Kebakaran Kota Jogja. Lokasi kantornya satu kompleks dengan Balaikota Jogja di Timoho. Di sini anak akan merasakan betapa pentingnya air untuk penyelamatan. Selamat dari amukan si Jago Merah.


Sampe  di tujuan kami disambut dengan hangat oleh para petugas. Kami sholat Dhuhur dahulu di garasi dekat diparkirnya kendaraan besar pemadam kebakaran. Setelah sholat, Bapak petugas menjelaskan tentang tugas yang dilakukan oleh unit pemadam kebakaran. Anak tampak full perhatian apalagi setelah ditunjukin baju tahan api. Besar kalo dipake mirip kostum robot.


Setelah  mendapatkan penjelasan, anak-anak diajak untuk mengikuti game. Mereka dikelompokkan untuk melakukan beberapa permainan yang dikemas di tiap pos. Ada Sambung Selang, Mengisi Air, Meniti Tali. Bagi yang gagal akan mendapatkan hukuman diguyur air. Basah deh. Nha yang paling seru adalah permainan memadamkan api, Para petugas membuat kebakaran kecil dari tong yang diisi minyak kemudian disulut api. Wuuus, api langsung menjilat kesana kemari. Anak-anak langsung loncat ke pinggir sambil menjerit. Tapi api tetap harus padam. Secara tim anak-anak harus memadamkan api. Mereka diberi selang besar nan panjang yang tersalur dari mobil pemadam. Begitu kran dibuka, selang harus dipegang kuat. Pengendali harus tepat mengarahkan ujung selang ke arah kobaran api. Jadi kebayang gimana beratnya memadamkan kebakaran. Ini saja baru api satu tong, coba api satu rumah. Bertingkat lagi. . . .


Lelah nan lemes. Namun bukan berarti sia-sia. Satu hari yang seru ini iranya cukup untuk melihat betapa banyaknya air melengkapi di tiap detik dan sisi kehidupan kita. Sudah sepantasnyalah kita bersikap peduli pada air. Jangan boros, jangan mengotori. Tapi selalu jaga kelestariannya karena yang nggunakan tidak cuma kita sekarang. Tapi juga kelak generasi yang akan datang.

Wednesday, March 14, 2012

Outbound Ke-1 Maret 2012 : Bedog Rafting

Pelaksanaan outbound sudah satu tahun ini berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya. Jika sebelumnya setiap kelas tiap pekan pasti outbound namun dengan waktu yang tidak full satu hari, kini tiap kelas bisa full satu hari namun dijadwalkan 2 pekan sekali. Sebuah kegiatan utuh outbound itu terdiri dari pertama warming up, untuk memastikan semua otot lemas dan siap beraktivitas. Kedua, Fun games, yaitu berupa permainan ringan dinamika kelompok yang sarat dengan makna dan pemecahan persoalan. Ketiga adalah Inti, biasanya diisi dengan jenis permainan Middle dan High impact, permainan dengan resiko sedang dan tinggi. Terakhir adalah pemaknaan seluruh aktivitas sehari outbound.


Untuk bulan Maret kali ini game pos yang dilakukan ada 3. Pertama ada semacam kotak yang mengharuskan setiap peserta menggelayut di palang-palang bambu di atas dengan kaki tanpa menyentuh tali bawah. Kemudian setelah sampai ujung, diharuskan berjalan di atas tali tanpa pegangan. Instruktur memberikan contoh dan cara yang benar dan aman. Disusul satu per satu peserta mengikutinya.



Pos kedua adalah gerakan merayap dalam track yang terbuat dari jaring berbentuk kotak memanjang. Tiap peserta tidak diperkenankan menyentuh sedikitpun jaring. Jika sekali tersentuh maka harus mengulang dari awal.



Pos ketiga adalah arung jeram. Nah ini yang paling seru. Setiap anak mendapatkan satu buah pelampung untuk kemudian setiap 3 anak mendapat jatah satu ban untuk dinaiki selama arung jeram.



Instruktur mendahului untuk dan meminta segera tiap anak bersegera menghanyutkan diri. Aliran sungai saat itu memang baru kecil namun di beberapa titik cukup memancing andrenalin.



Seperti di titik ini, terdapat pusaran air diantara bebatuan sehingga menyebabkan setiap ban tersedot masuk. Jika kurang waspada bisa terjepit alirannya. Dengan sedikit jeritan anak-anak menghalau setiap rintangan selama perjalanan.



Di kiri kanan terlihat 'hiasan' sampah gantung. sampah-sampah yang tergantung itu bekas aliran banjir yang membawa sampah dan tersangkut di akar-akar tanaman bambu. Nampak menjadi seni instalasi begitu air sungai surut. Bagus, . . . . atau malah menjijikkan sih ?



Ada di satu titik mungkin akibat dari hujan dan angin, ada segerombol pohon bambu tumbang melintang sungai. Meski ujung sudah dipotong tetep butuh kehati-hatian ekstra sehingga tidak meluncur masuk onggokan bambu. Bisa-bisa tergores ranting yang cukup tajam.


Aliran sudah mulai melambat. Dasar sungai juga mulai mendangkal. Kiranya titik finish sudah dekat, anak-anak diminta untuk mendayung ke pinggir kiri supaya bisa mendarat dengan mulus.



Setiap tiga anak bertanggung jawab membawa ban kembali ke sekolah. Perjalanan ditempuh menggunakan jalan darat, menyusuri pematang sawah. dan Kampung sekitar. Nampak para penduduk melihat penuh heran. Anak-anak pake pelampung bawa ban rame-rame.Mirip pasukan Katak masuk desa.


Tuesday, March 13, 2012

Outing Kelas 2 : Desa Industri Jogonalan - Benteng Vredeburg

Mengawal tema Matahari dan Musyawarah, siswa kelas 2 ingin belajar di dunia nyata dengan outing ke desa industri Jogonalan Klaten dan benteng Vredeburg Jogja. Lho kok bisa tema Matahari kok ke Jogonalan? Emangnya disana asal muasalnya matahari ya? Eits, jangan melulu pake otak kiri dong. Sering-sering juga dongotak kanannya dipake. Nha, kelas 2 dengan tema Matahari tidak terus mempelajari asal muasal Matahari. Sangat rumit bin bikin jidat berkerut. Tapi, mereka mempelajari pemanfaatan energi Matahari untuk kehidupan. Di Jogonalan tu hampir seluruh penduduknya bermata pencaharian sebagai pembuat berbagai macam kerupuk. Karena untuk membuat kerupuk salah satu langkahnya memanfaatkan panas Matahari. Yaitu dijemur dulu.


Begitu hadir di lokasi, anak-anak terus dipandu berkeliling ke rumah-rumah penduduk untuk melihat proses pembuatan kerupuk. Ternyata kerupuk itu bermacam bentuk dan jenisnya. Ada kerupuk Pangsit, Rambak, Karak, Kemplang, Kedelai, Renginang dan lain-lain. Prinsipnya,  kerupuk adalah segala bahan (tentu yang enak dan aman dimakan) yang bisa dibuat lempengan, lapisan tipis, kemudian dikeringkan dan tahap akhir digoreng menggunakan minyak goreng. Bahan itu bisa berupa adonan, ketela, tahu, kulit Sapi dan lain-lain.


Anak-anak tidak semata melihat saja. Mereka berkesempatan untuk menlakukan juga cara membuat kerupuk. Membentuk adonan sesuai bentuk kemudian diletakkan di atas papan penjemuran. Butuh beberapa saat untuk memastikan bahwa adonan atau lapisan itu kering benar. Begitu sudah kering, siap untuk dilakukan proses penggorengan.


Nyam-nyam, jadi Inciper (tukang mencicipi) emang enak. Meski agak panas-panas dikit tapi mantap menjadi yang pertama. Ditambah sedikit asep dari tungku penggorengan jadi parfum. Hi . . hi parfum yang apek tentunya. Liat-liat sudah, praktek sudah, nyicipi sudah. Nah, tinggal yang terakhir aksi borong kerupuk.


Cukup di Jogonalan, perjalanan berlanjut ke benteng Vredeburg. Di Vredeburg anak-anak akan belajar tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melepaskan diri dari penjajah Belanda. Proses perjuangan yang tak lepas dari aktivitas musyawarah seperti tema yang sedang dipelajari.


Anak-anak masuk berbaris dengan tertib. Karena arreal benteng yang luas perlu urut satu per satu bagian dilihat. Sambil melihat baik dari berupa koleksi benda, ada senapan, kursi, dokumen, baju hingga yang bentuknya diorama. Anak-anak keliling dipandu oleh pemandu dari pihak pengelola.


Ternyata perjuangan bangsa kita ini mulai nampak hasilnya manakala semua golongan bersatu padu. Bermusyawarah dan dicapai kesepakatan adanya kesatuan bangsa, bahasa dan tanah air. Yaitu Indonesia. Melalui peristiwa Sumpah Pemuda. Yang sebelumnya masih mudahnya dipecah belah oleh Belanda. Itulah pentingnya proses musyawarah. Sesederhana apapun, jika masalah diselesaikan dengan musyawarah pasti hasilnya lebih mantap.



Friday, March 9, 2012

Outing Kelas 1 : Desa Wisata Pentingsari

Outing di semester 2 kali ini tujuannya adalah desa wisata Pentingsari. Lokasinya termasuk di lereng gunung Merapi. Ke atas dikit aja termasuk wilayah yang kemarin terkena serangan awan Merapi yang oleh warga sekitar nyebutnya Wedhus Gembel. Di desa Pentingsari, anak-anak kelas 1 akan belajar kehidupan para petani. Aktivitas kesehariannya beserta kondisi lingkungannya.


Tiba di lokasi anak-anak dikumpulkan dan dikelompokkan. Sebelum aktivitas diberi penjelasan dahulu tentang apa yang akan dikerjakan di desa Pentingsari tersebut. Anak-anak terlihat antusias, terutama yang tinggalnya jauh dari desa dan sawah. Mereka merasa segar dan damai.


Pertama kali anak-anak belajar menanam Padi di sawah. Sebelum ditanami, tanah sawah dipersiapkan dahulu. Tanah dibajak menggunakan pembajak yang ditarik oleh Sapi. Secara bergantian, anak-anak mencoba bagaimana rasanya membajak sawah tu. Yang takut sama Sapi ya cukup liat dari pinggir aja. Ternyata berat juga ya membajak sawah tu. Belum lagi kotoran lumpur yang loncat kesana kemari, sudah dipastikan badan belepotan lumpur setelah membajak.


Setelah dibajak, tanah sawah sudah siap untuk ditanami. Anak-anak dikerahkan ke tengah sawah. Mereka dibagikan bibit padi yang sekilas mirip rumput. Kemudian pemandu menjelaskan bagaimana caranya untuk menanam. Cara nanamnya berjalan mundur, karena padi ditanam berbaris. Kalo nanamnya maju takut yang sudah ditanam keinjak.


 Setelah mencoba menanam padi, berlanjut ke acara penen Ubi. Anak-anak dibawa ke kebun yang penuh dengan tanaman Ubi. Panennya cukup seru. Pake gali-gali tanah, terus narik-narik. Awas, ati-ati, keliru nariknya bisa-bisa Ubi ada yang lepas dan masih ketinggal di dalam. Wow gede-gede deh Ubinya. Kalo dikupas lalu diberi bumbu garam sama bawang putih terus digoreng, orang Jogja menamainya Balok. Setelah panen Ubi berlanjut ke panen Ikan. Wah seru deh pokoknya.


Acara panen-panen selesai. Berlanjut ke acara susur sungai. Sungai ini termasuk yang terkena terjangan banjir lahar dingin Merapi. Liat aja bekas arus yang mengalir serta pasir dan batu yang memenuhi dasar sungai. Beberapa jembatan yang melintang sungai ada yang putus hancur. Tidak kuasa menahan arus lahar dingin.


Setelah bersih diri, sholat 'Ashar berjama'ah. Acara ditutup dengan pemaknaan oleh ustadz Jamal. Sehingga selain pengalaman anak-anak juga membawa pengetahuan bertani.

Thursday, March 8, 2012

Proyek Kelas 3 : Tema Pekerjaan

Membicarakan masalah pekerjaan memang sih bisa selesai di kelas. Duduk manis dengerin ustadz atau ustadzah 'ceramah' tentang pekerjaan dan berbagai macam jenisnya. Tapi kalo cuman denger ya asal sekedar tahu aja. Paling banter mengulang yang diomongin ustadz atau ustadzah, itupun sulit sekali persis titik komanya. Kecuali hanya mp3 palyer yang bisa begitu. Supaya siswa tidak sekedar tahu saja tentang pekerjaan. Lebih jauh dan dalam bekerja menjadi keharusan jika juga harus merasakan dan melakukan giman bekerja itu.


Anak-anak dikumpulkan dalam beberapa kelompok proyek. Mereka diminta merencanakan suatu produksi barang yang akan dijual di event marketday. Mulai dari bahan, cara pembuatan dan nominal rupiah yang harus dikeluarkan. Setiap kelompok dimodali Rp. 10.000. Mulailah mereka berkreasi membuat barang semenarik mungkin agar supaya laku dijual. Selain perencanaan, mereka wajib membuat laporan pelaksanaan. Meliputi siapa saja pelaku dan bagaimana proses produksi beralngsung. Hingga berapa penjualan sehingga keuntungan yang didapat.


Lihat, penjualan mencapai maksimal. Kelompok manakah yang akan mendapatkan Top Selling hari ini? Guratan ceria menghias wajah-wajah yang penuh lelah. Ufh . . begini ya rasanya bekerja tu. "Aku jadi bisa ikut ngrasain beratnya nyari duit Ayahku".


Selain belajar tentang pekerjaan, anak-anak kelas 3 juga mempelajari tentang sistem jual beli. Membandingkan antara pasar tradisional dan modern. Baik dari barang-barang  yang dijual, suasana hingga cara pembayarannya. Pertama, mereka dibawa ke pasar Godean. Setiap anak diminta untuk melakukan wawancara kepada para penjual di lapak-lapak pasar. Setelah itu, mereka berpindah survei ke minimarket. Dengan aktivitas wawancara juga mereka dapatkan informasi yang bisa dibandingkan.


Tibalah di penghujung pembelajaran. Di pengakhiran ini aktivitas pemaknaan menjadi keharusan. Jangan sampai anak sudah mendapatkan banyak pengalaman tapi tidak tertagih. Karena aktivitas pemaknaan ibaratnya sebagai pengikat sehingga siswa-siswa mendapatkan kesimpulan yang menjadi pengetahuan baru bagi mereka. Tanpa pemaknaan bisa jadi target pembelajaran bisa meleset. Jangan sampai anak jika ditanya, "Dapat pelajaran apa hari ini?" jawabannya "Seneng, jalan-jalan ust!!". Nah lo  . . . . . .

Wednesday, March 7, 2012

Marketday in Brand New Day

[youtube http://www.youtube.com/watch?v=CJvKO4uoZWU&w=520&h=315]
Di SDIT Alam Jajan adalah 'haram'. Tapi bukan berarti anak-anak terus gak bisa kenal jual beli. Bahkan tidak hanya membeli saja alias jadi konsumen semata tapi bisa juga jadi penjualnya. Itu semua bisa dilakukan di event marketday. Pelaksanaan marketday saat ini lebih dikembangkan. Jika sebelumnya para penjual melakukan aksi jualnya secara personal, kini mereka dimotivasi untuk melakukan secara kelompok. Wadah yang tepat sementara dan kebetulan sesuai dengan pembelajaran IPS adalah Koperasi. Siswa-siswa diminta untuk berserikat atau berkelompok untuk membentuk koperasi. Mereka dipersilahkan menamai sesuai dengan selera mereka masing-masing. Ada koperasi JOS, Nuris Junior, Twelve Girls (kayak girl band aja) dan lain-lain. Mereka juga dipersilahkan untuk menentukan besaran iuran anggota sendiri. Kemudian dipersilahkan untuk menentukan komoditas jualan sendiri. Untuk mendapatkan untung jarang dari mereka yang  langsung kulakan makanan sudah kemasan. Banyak justru harus masak sendiri. Ada nugget, kentang goreng.Lokasi market day kali ini di lower ground masjid Nurul Islam. Anak-anak membuat kavling lapak jualannya sendiri-sendiri menggunakan meja. Mereka membagi lapaknya menjadi beberapa bagian. Bagian belakang sebagai dapur untuk memasak, depan sebagai etalase produk yang akan dijual, dan bagian samping kasir tempat melakukan pembayaran. 

 Para pembeli diatur dengan tertib. Tertib untuk antri dilayani. Rupanya, bagi yang punya jualan yang best seller merasa kewalahan untuk melayani. Sedangkan yang antri ngampet takut kehabisan barang buruannya. 

Namun bukan berarti satu hari penuh pasar jalan terus. Saat pelajaran berlangsung pasar stop dulu. Pun juga saat sholat, pasar harus tutup dulu. Bagi yang melanggar sudah tentu ada sanksi. Bisa-bisa ijin jualannya dicabut.


 Di pengakhiran hari, para penjual bersih-bersih lapak jualannya. Karena sebelum dan sesudah tempat harus bersih. Pembelajaran market day tidak semata hanya untuk mengasah sense wirausaha saja. Yang paling penting adalah nilai tanggung jawab sebagai muatan utama menjadi seorang pemimpin yang merupakan tujuan ketiga misi SDIT Alam, SIP, Sholih-Ilmuwan-Pemimpin.