Monday, March 16, 2009
Miniatur Gunung Berapi
Memasuki pembelajaran tema tanah, kelas 3 SDIT Alam berkesempatan mengenal bagaimana bumi tercipta. Mereka diajak melihat film yang penuh inspirasi dari Harun Yahya. Yaitu Planet yang Ajaib.
Kita diajak melakukan perjalanan antar planet. Dari mulai planet Pluto, yang sekarang udah bukan menjadi anggota keluarga tata surya kita. Betapa beku dan dinginnya permukaan Pluto. Suhunya hingga minus 300. Hingga planet yang dekat dengan matahari, yaitu Merkurius yang super panas itu. Eh, Subhanalloh ya Alloh ciptakan bumi tu pas banget jaraknya dengan matahari. Coba maju atau mundur dikit, mungkin kehidupan di bumi ini udah keganggu dengan persoalan suhu dan pengaruh zat-zat lain yang mendukung kehidupan. Nah, sewaktu mengenal bumi, ternyata tu, bumi sangatlah indaaaaah sekali. Dibanding dengan planet lain. Termasuk bentuk permukaannya. Permukaan bumi yang berlekuk-lekuk itu, bahkan beberapa tempat ada yang berair, ternyata tidaklah selalu tetap bentuknya. Setiap saat selalu berubah. Adanya gempa muncul jurang, gunung meletus muncul gundukan kawah, banjir menggerus dinding sungai dan seterusnya. Nah, untuk mengetahui lebih dekat bagaimana gunung berapi meletus, kelas 3 membuat ketrampilan berupa miniatur gunung meletus.
Bahan yang dibutuhkan adalah : Alumunium foil, harganya murah kok. Satu gulung sepanjang 7,6 meter harganya kurang lebih 10 ribuan. Terus, Soda kue, 1/4 kilo cuman 2 ribuan. Cuka, satu botol 2 ribuan. Dan pewarna merah. Pertama kali membuat miniatur gunung berapi dengan alumunium foil. Dibuat puncak dengan cekugan kecil ditengahnya.
Setelah lubang gunung jadi. Kemudian diisi dengan bubuk soda kue hingga penuh. Air cuka disiapkan, diberi pewarna merah. Setelah siap, air cuka diteteskan pelan-pelan ke atas soda kue. Lihatlah reaksinya.
Lahar merah meleleh keluar dari kawah gunung. Kurang lebih begitulah jika erupsi gunung merapi terjadi. Bayangkan, jika ada penduduk i sekitar gunung berapi yang terkena muntahan lahar. Pastilah bencna mengerikan akan terjadi. Padahal, di Qur'an surat Al Qori'ah, Alloh berfirman jika kelak pas hari Kiamat, gunung-gunung itu seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan. Dan manusia, bagaikan laron-laron yang berterbangan. Naudzubillah . . . betapa mengerikan bencana akhir jaman kelak. . . .
Labels:
al qariah,
alumunium foil,
cuka,
soda kue,
Thematic Learning
Friday, March 13, 2009
Fear Factor
Outbound pekan ini untuk semua kelas mengambil materi high impact, outbound dengan resiko yang tinggi. Yaitu Rappling. Tapi masih disesuaikan dengan kelasnya. Untuk kelas besar, kelas 3 ke atas, lokasi Rappling di jembatan sungai Bedog. Yach . . . tingginya sekitar 15 meter.
Yaa namanya outbound beresiko tinggi, banyak anak harus pake takut dan nangis dulu. Emoh-emoh, takut kalo jatuh ke bawah. Liat aja ekspresi takutnya mas Hanan ni
Yang bikin takut tu sewaktu pertama kali mengawali. Kaki harus lurus menumpu di dinding jembatan. Sedangkan tubuh cuma ditahan hanya dengan tali. Eit tapi jangan salah. Tali yang digunakan adalah tali Carmantel. Mampu menahan beban seberat 2 ton. Artinya bahkan 25 anak yang beratnya rata-rata 20 kilogram menggantung di bawah jembatan, tali itu tka kan putus.
Kalo anak putra nangis takut rapling, apalagi yang putri. Harus dibujuk dan sedikit dipaksa untuk mau rapling. Terpaksanya harus ditandem. Ust. Irman turun untuk menopang mbak Dinda yang sangat takut.
Tapi, anehnya yang sangat takut bahkan sampe nangis waktu mau rapling. Ee udah tiba di bawah malah minta lagi. "Lagi, Ust. . . enak e" Lho ?! Ternyata mereka udah mampu melawan rasa takutnya sendiri. Begitu dah sampe bawah, dinding ketakutan itu runtuh berantakan. Selain siswa, ustadz dan ustadzah juga tidak ketinggalan mau menghancurkan rasa takutnya .
Ustadzah Rusmi in Action
Ust. Mukhtasar in Action
Nah yang terakhir, Ust. Udin in Action . . .
Parade Outing
Mengakhiri satu tema pembelajaran di semester 2 ini, waktunya outing tiba. Kelas IV misalnya, dengan berakhirnya tema pembelajaran tentang Kegiatan Ekonomi dilanjutkan kemudian dengan outing ke lokasi pembuatan Bakpia. Kemana lagi kalo bukan ke Pathuk, dengn Bakpia Pathuknya yang terkenal itu.
Disini anak-anak bisa mengamati dengan jelas proses pembuatan Bakpia yang manis itu. Dari apa bahannya, gimana cara buat adonannya sampe pengepakannya untuk siap jual.
Eh, tau nggak. Ternyata cara buat Bakpia udah menggunakan mesin. Tidak lagi menggunakan tangan semua. Dah modern dong. Malahan pas datang ke pabrik itu, barusan ndatengin mesin baru dari Cina.
Yang heran lagi dan mungkin kalian juga baru tahu. Ternyata Bakpia tu asalnya dari China. Yach . . . satu sodara dengan Bakpao, Bakso, dan Bak-bak yang lain.
Lain kelas IV, lain kelas III. Mengakhiri tema tentang AIR, kelas III melaksanakan outing ke obyek air Tirtonirmolo. Tepatnya di sebelah timur kompleks Candi Prambanan, sekitar 1 kilometer. Pas di utara hotel Galuh.
Mau masuk ke lokasi, mata harus ditutup dulu. Selain permainan, emang sengaja karna pas di pintu masuk ada patung porno. Putri Duyung yang tiiiiiit (disensor). Jadi ati-ati aja kalo kalian kesana. Siap penutup mata deh. Begitu udah di dalam lokasi. Subhanalloh . . . ada banyak kolam renang. Ada 12 buah dengan berbagai ukuran dan mainan.
Selain berupa wisata air, ada beberapa wahana permainan. Seperti bom-bom car, water boom, becak-becakan, motor trail, AVP dan lain-lain. Untuk masuk kecuali hari Sabtu-Ahad dan hari libur Rp. 5000 dengan rombongan. Untuk main wahana masih bayar lagi.
Tidak cuman itu lho. Ada juga koleksi hewan-hewannya. Meski gak banyak. Ada hiu, burung elang. Setelah sholat Dhuhur, anak-anak makan siang di dalam bus yang sudah disulap menjadi aula tempat santai.

Lain kelas IV, lain kelas III. Mengakhiri tema tentang AIR, kelas III melaksanakan outing ke obyek air Tirtonirmolo. Tepatnya di sebelah timur kompleks Candi Prambanan, sekitar 1 kilometer. Pas di utara hotel Galuh.
Thursday, February 26, 2009
Beternak Ikan
Untuk beternak di semester ini diarahkan ke beternak air. Yaitu melihara ikan. Setelah kegiatan berkebun cabe di semester ganjil kemarin. Dimanakah lahannya ? Tentu di pinggir sungai bedog dong. Tepatnya di lembah sungai bagian barat kampus timur. Kebetulan di sana dijumpai banyak mata air. Sehingga tinggal dibentuk benteng mengelilingi mata air, udah deh jadilah kolam.
Setiap siswa berperan serta membangun kolam. Ya . . . mesti hanya dengan mengumpulkan bebatuan. Di sela saat outboud usai. Tapi coba liat, banyak juga kan saat batu dengan berbagai ukuran itu kumpul menggunung. Sambil menggambar angan terwujudnya kolam ikan yang diisi dengan berbagai warna-warni ikan. Yang dimakan maupun yang hias. Eh, ngomong-ngomong di lokasi ini juga kelak bakal dibuat kolam renang. Wah tambah asyik dong. Kolam renang deket sungai.
Nah untuk mengawali mengisi ikan, setiap siswa diberi kesempatan untuk melepas satu ikan yang akan menjadi piaraannya. Untuk mendapatkan seekor ikan, setiap anak harus mencari 2 ekor cacing hidup dulu.
Setiap lahan yang lembab digali. Yang merasa jijik atau yang takut sama cacing mau gak mau harus melakukan. Ada yang saking semangatnya, cacing yang ditarik dari lobang putus. Yach harus cari lagi deh. Soalnya cacing putus gak diterima.
Nah yangudah dapet cacingnya langsung setor ke ustadz. Dituker dengan satu ekor ikan Nila oranye. Eit, tapi tunggu dulu, setiap anak masih harus nyari tempatnya sendiri-sendiri. Boleh gabung deh.
Dengan penuh hati-hati, ikan dibawa menuju kolam pinggir sungai. Dipastikan ikan tidak lemes kehabisan oksigen. Meski sudah jadi kebiasaan jika dipindahkan, ikan akan mengalami stress dulu. Takut disembelih kali.
Bismillahirrohmanirrohiim, bareng-bareng ikan-ikan dilepas. "Ahh . . . lega menemukan dunia baru" begitu terlihat di sorotan mata ikan. Disertai dengan tarian sirip dan ekor yang oranye itu.
Tentu, sambil terus rutin merawat dengan memberi pakan, dan merawat kebersihan kolam dengan penuh harap 3 sampai 4 bulan bisa memanen ikan Nila untuk yang pertama. Bagi yang belum suka ikan, Ayo deh cobain dikit. Selain binatang yang bangkainya aja masih halal asal gak busuk lho, ikan mengandung protein yang sangat bermanfaat bagi perkembangan otak kita. Jadi bisa buat cerdas, gitu. Ayo kita serukan, Ayo Makan Ikan . . . .
Nah untuk mengawali mengisi ikan, setiap siswa diberi kesempatan untuk melepas satu ikan yang akan menjadi piaraannya. Untuk mendapatkan seekor ikan, setiap anak harus mencari 2 ekor cacing hidup dulu.
Monday, February 23, 2009
Pencemaran Air
Belajar Air memang gak ada matinya. Termasuk hari ini, kelas 3 mempelajari tentang pencemaran air. Eh, ternyata air pun bisa tercemar. Trus, apa dong pencemarnya. Yach, siswa SDIT Alam sangat akrab. Habis sekolahnya dibelah ama kali Bedog sih. Segala aktivitas di sepanjang kali Bedog pasti tahu persis. Tentu penyumbang terbesar pencemar itu adalah manusia. Dari mulai aktivitas MCK, mandi-cuci-kakus, sampe buah sampah. Nah, kali ini temen-temen kelas 3 mau buktiin kalo deterjen itu dapat menyebabkan air tercemar. Ah, yang bener . . . Gak percaya deh. Mosok sih padahal kita kan tiap hari makai. Kemarin barusan kita praktek nyuci pake deterjen. Ustadz-ustadzah lagi yang nyuruh. Gimana ini mana yang bener. Eit, sabar dulu, jangan esmosi dulu dong. Mendingan es krim, dingin n seger. Begini, temen-temen kelas 3 mengadakan eksperimen menggunakan deterjen dan ikan mas. Kita akan selidiki, jika benar deterjen adalah pencemar maka ikan mas akan mati.
Hah, ikan masnya akan mati. Wah pembunuhan itu namanya. Bukan, bukankah untuk percobaan kita butuh makhluk hidup yang hidup di air untuk menunjukkan bahwa deterjen itu memang pencemar. Kan gak mungkin kalo kita pake Ikan gurame ato Koi. Terlalu mahal ! Semua peneliti juga akan menggunakan hewan percobaan untuk menguji hasil percobaannya. Makanya ada istilah kelinci percobaan.
Untuk mendapatkan bahan, setiap kelompok harus rapi. Tuh liat seriusnya mas Landung. Seperti abdi dalem Kraton yang siap menerima perintah sultan. Setiap kelompok mendapat satu ember, satu ekor ikan mas, satu bungkus deterjen serta satu lembar worksheet untuk laporan hasil percobaan. Setelah ember diisi air dan ikan mas, mulailah memasukkan deterjen dimulai dengan 1/2 sendok dulu.
Diaduk sampe larut, kemudian diamati. Bermacam tingkah ikan mas yang berhasil dicatat siswa. Ada yang loncat keluar, bingung, megap-megap, stress. Lima belas menit kemudian dimasukkan lagi 1/2 sendok deterjen. Ada ikan mas yang udah lemes, keluar darah dari bagian insangnya, keluar lendir, diam terbalik. Bahkan ada yang udah mati tak bergerak, Innalillahi wa inna-ilaihi roji'un.

Begitu ikan mas mati, kemudian dicatat berapa menit waktunya. Berapa sendok deterjen yang ditambahkan, terus deterjen merk apa yang digunakan. Begitu eksperimen selesai, sebagai wujud empati, temen-temen langsung mengubur jasad ikan mas.

Ada kelompok karena saking kasihannya, ikan mas diperlakukan seperti manusia. Dibungkus kain kemudian dihadapkan kiblat. Singkatnya, persis seperti menguburkan jasad manusia.
Wah, ternyata bener. Deterjen emang jadi pencemar air. Reaksinya kayak gini nih : (C17H33COO)3C3H5 (gliseril stearat) + 3NaOH
jadi 3C17H35COONa(narium stearat) +C3H5(OH)3(gliserin). Nah, pusing kan, lha iya lha wong ini pelajarannya anak SMA. Tapi gak salah kalo kamu mau tahu lebih jauh klik aja di sini tentang Pencemaran Deterjen, bahkan dengan cara pengolahan supaya deterjen bisa hilang tidak mencemari air lagi. Selamat Belajar . . . . .
Begitu ikan mas mati, kemudian dicatat berapa menit waktunya. Berapa sendok deterjen yang ditambahkan, terus deterjen merk apa yang digunakan. Begitu eksperimen selesai, sebagai wujud empati, temen-temen langsung mengubur jasad ikan mas.
Ada kelompok karena saking kasihannya, ikan mas diperlakukan seperti manusia. Dibungkus kain kemudian dihadapkan kiblat. Singkatnya, persis seperti menguburkan jasad manusia.
jadi 3C17H35COONa(narium stearat) +C3H5(OH)3(gliserin). Nah, pusing kan, lha iya lha wong ini pelajarannya anak SMA. Tapi gak salah kalo kamu mau tahu lebih jauh klik aja di sini tentang Pencemaran Deterjen, bahkan dengan cara pengolahan supaya deterjen bisa hilang tidak mencemari air lagi. Selamat Belajar . . . . .
Labels:
detergent,
deterjen,
pencemaran air,
Thematic Learning
Friday, February 20, 2009
Jualan Kreatif
Dipindahnya pelaksanaan jam Market Day membuat banyak perubahan. Ada banyak keuntungan dan kerugian. Untungnya, Market Day jam terakhir di hari Jum'at bisa lebih panjang. Karena langsung pulang. Jual-Belinya bisa puas, nggak keburu-buru. Tapi, ruginya, kalo jualan es jadi udah mencair semua. Padahal es hingga saat ini menjadi Top Sales, ato barang yang paling banyak dibeli. Jadi kesukaan anak-anak. Tapi manakala udah cair, yach . . . pada males beli.
Liat aja, begitu jualan es pasti yang antri langsung panjangnya seperti kereta api. Gak siswa gak ustadz-ustadzah. Pada tergiur benda dingin yang bikin seger itu. Tapi, sekarang penjual es berkurang. Takut gak laku, mencair sebelum waktunya. Menunggu penemu teknik murah penghambat mencairnya es dulu. Baru penjualan es balik normal lagi. Di tengah kondisi Market Day yang pindah jam tayang, ada juga siswa yang kreatif. Kalo jual makanan gak laku, jualan yang lain. Emang jualan apa ? Jasa pijit ? Tukang Cukur ? Ato Semir sepatu ? Ah . . . ngaco deh.
Siswa kreatif itu adalah mbak Qisthi. Dia membuka stand Uji Ketelitian dan Kesabaran. Menggunakan sebuah perangkat elektronik yang di depan ada sebuah kawat panjang yang di buat lekukan. Yang mau dites kesabarannya harus melewatkan tongkat yang ujungnya terlingkar dalam kawat. Dari ujung hingga pangkal. Jika tongkat tersentuh kawat, lampu merah akan menyala berarti permainan berakhir. Untuk sekali main cukup membayar Rp. 500.
Ustadz-ustadzah pada tertarik untuk menguji ketelitiannya. Anak-anak pada ngumpul mengamati bekerjanya alat. Juga seberapa ketelitian ustadz. Wah makin kreatif aja barang jualan di Market Day. Sepertinya tren yang akan berkembang bukan jualan barang lagi namun jual jasa. Ya . . ditunggu siapa yang akan buka jasa semir sepatu, jasa laundry, jasa pijet. Eh, tapi inget loh, kalo mau pijit harus yang muhrimnya yaa . . .
Thursday, February 19, 2009
Mencuci Pakaian
Masih di tema air, sepertinya tidak afdhol jika tidak melatih ketrampilan hidup yang satu ini. Life skill yang semua orang harus, kudu bisa. Mencuci pakaian. Yach . . meski sekarang udah banyak jasa laundry yang menjamur. Ato di rumah ayah dan ibu udah punya pembantu, tapi ketrampilan mencuci harus tetap dilatih.
Gak laki-laki, gak perempuan. Semua harus bisa. Bukan perkala sepele lho mencuci itu. Meski udah dibantu dengan teknologi detergent sebagai bahan pengangkat kotoran. Jika salah cara mencucinya salah-salah kotoran masih nempel akrab di baju. Bagian-bagian yang terdapat lipatan sangat rawan dihuni kotoran. Terkhusus yang mengandung lemak.
Awas harus diingat untuk memperhatikan ada gak najis di pakaian. Sebelum dicuci hendaknya dilakukan pemisahan. Mana pakaian yang bernajis mana yang nggak. Jangan sampai najis yang seharusnya dicuci malah larut mengenai pakaian yang lainnya. Sangat penting, agar kondisi pakaian tetap bersih, nyaman untuk ibadah.
Alhamdulillah, insya Alloh mulai sekarang sudah bisa mencuci pakaian sendiri. EEh, bisa juga loh kita buka jasa laundry. Nyuciin baju temen-temen yang pada males nyuci. Sekaligus punya gimana nyuci berbagai macam pakaian. Dengan bahan yang macem-macem pula. Syukur-syukur bisa menemukan mesin pencuci yang lebih canggih dibanding mesin-mesin cuci yang sekarang ini beredar di masyarakat. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)
