Sunday, November 2, 2008

Recycling [Daur Ulang]

Ganti tema, itu adalah saat yang mengayikkan. Mengapa ? Ibarat baca buku novel berseri, Laskar pelangi misalnya. Seperti ganti sequel. Habis baca sequel pertama ‘Laskar Pelangi’ berlanjut ke sequel kedua, ‘Edensor’. Atau seperti liat film Harry Potter. Setelah melihat ‘Philosopher’s Stone’ berlanjut ke sequel ‘Chamber of Secrets’ dan seterusnya.



Tentang film, anak-anak diawali melihat film ‘Idiocracy’. Sebuah film komedi yang bercerita tentang betapa semakin lama nanti manusia akan semakin turun tingkat kecerdasannya. Lho kok bisa ? Sebab orang-orang malas dan bodoh yang semakin mempunyai anak. Banyak lagi. Sedangkan, orang-orang cerdas, seperti para peneliti, ilmuwan, tidak mau mempunyai anak. Takut mengganggu karirnya. Karena kecerdasan manusia turun berakibat pada perilakunya. Termasuk kepada sampah. Digambarkan betapa orang jaman depan sangat jorok. Rumahnya penuh sampah, bahakn rumah sakit pun. Hingga sampah menumpuk setinggi gunung yang berakibat adanya longsor sampah besar-besaran. Anak-anak terkesima. Karena kemalasan bisa berakibat kebodohan. Temasuk perilaku bodoh terhadap sampah.


Untuk melawan kemalasan terhadap sampah, anak-anak belajar tentang Recycling. Daur ulang sampah. Ternyata sampah yang ada di sekitar kita itu bisa dipilah dan dipilih. Untuk dijadikan barang yang bernilai kembali. Tidak dibiarkan mengonggok mengotori pemandangan dan lingkungan. Mengundang bibit penyakit untuk berpesta pora. Sangat tentu, tidak semua sampah bisa didaur ulang. Sehingga pemilihan dan pemilahan menjalankan perannya. Untuk sampah kertas bisa didaur ulang menjadi kertas kembali. Ataupun hiasan yang bahannya dari bubur kertas. Caranya ?





Pertama, Kertas bekas disobek-sobek dan direndam selama semalam. Setelah jenuh, koran dengan air diblender hingga menjadi bubur halus.



Begitu menjadi bubur, kemudian dimasak diatas api hingga mendidih. Masukkan ke dalamnya lem kayu sebagai perekat partikel kertas.




Begitu sudah menyatu, jika dibuat kertas kemudian dimasukkan ke dalam ember besar untuk kemudian diencerkan dengan air.



Kalo mau dibuat cetakan tidak usah diencerkan tapi bubur itu dijadikan sebagai bahan cetakan. Setelah encer, larutan bubur tadi kemudian dituang ke dalam saringan lembut. Endapan kertas tersaring di atas saringan untuk kemudian dikeringkan. Begitu kering jadilah kertas bekas yang bermotif untuk dijadikan sebagai bahan hiasan.





Untuk sampah bungkus plastik bisa didaur ulang sebagai penghias tas. Bungkus bisa diambil dari berbagai produk. Sabun, permen, mie instan, dan lain-lain. Lihat saja hasilnya, menarik bukan.



Tertarik untuk menjadi pendaur ulang. Menjadi orang yang peduli sampah. Peduli dengan Bumi. Tempat tinggal ternyaman di planet ini . . .

Sunday, October 26, 2008

Outing Tema Perjuangan dan Makhluk Hidup

Mengakhiri tema Perjuangan dan Makhluk Hidup, kelas 3 A, B dan C bersama mejalani program outing. Obyeknya, pertama di benteng Vredeburg (moga bener ya tulisannya), terus ke laboratorium Silvikultur UGM (tempat pembuatan bibit pohon) terakhir acara santainya mancing bareng di pemancingan ’Moro Kangen’ di daerah Babarsari.



Seperti biasa sebelum berangkat kumpul untuk menerima penjelasan. Ust. Siswo memberikan peringatan, bagi yang ketahuan jajan melebihi 20 ribu akan ditinggal pulang. Wah, disiplin banget seperti tentara. Lha iya harus, lho kita kan mau ke benteng Vredeburg. Merasakan dahulu sewaktu perjuangan belum ada tentara. Semua rakyat menjadi tentara.



Pilihan benteng Vredeburg sangatlah tepat. Habis bangunan kunonya itu lho bikin inget jaman dahulu pas Jogja dijadikan ibukota. Bayangkan ibukota Negara . . . Didukung dengan diorama (ruangan tiga dimensi) menambah mantep ikut merasakan heroiknya perjuangan para pejuang. Pertama masuk dikira masih tutup, jam menunjuk pukul 08.00. Wah, kita keliling dulu deh. Naik di atas benteng. Eh ternyata begitu melongok kearah timur bisa kita liat dengan jelas kompleks Taman Pintar. Di atas situ juga ada tempat pengintaian untuk membidik musuh, sekaligus tempat penjagaan yang ditinggali penjaga siap mengawasi dari atas benteng. Adakah musuh yang menyerang.



Begitu masuk ke dalam satu persatu foto hitam putih menghiasi dinding ruang. Banyak foto yang menggambarkan Jogja tempo dulu. Selain tempat, setiap peristiwa juga diabadikan melalui foto. Setiap anak khusuk menulis setiap peristiwa. Siapa tokohnya, dimana tempat serta tahun berapa terjadi.



Ck . .ck . .ck . . tidak mengira, ternyata Jogja kita ini dahulunya punya peran sangat penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Seperti kata-kata bung Karno ini : “Jogjakarta menjadi termasyhur oleh karena jiwa kemerdekaanya, Hidupkanlah terus jiwakemerdekaan itu!”



Setelah melihat dokumentasi foto, masuklah ke ruang diorama. Sungguh canggih ya, dari foto bisa diubah menjadi gambar tiga dimensi.



Pas kita liat-liat, eh ada mas-mas yang sedang membuat sebuah diorama. O, jadi begitu ya buatnya. Pake seperti semen tapi warnanya putih. Semua dibuat kecil. Mulai rumah, orang, mobil. Eh, ternyata bukunya dibuat dari bungkus korek lho. Tu keliatan bekasnya.



Saking panjangnya ruang diorama yang harus diliat, beberapa anak sudah keliatan capek. Sambil tiduran dilantai ada yang mengerjakan worksheet, ada yang santai dulu istirahat.




Puas di Vredeburg, dilanjutkan menuju UGM. Tepatnya di laboratorium Silvikultur fakultas Kehutanan. Sesuai dengan namanya, lokasinya ditumbuhi dengan berbagai pohon yang tinggi. Seperti hutan. Tapi kecil. Di sana sudah disambut oleh mbak Winda. Kita diajak di gedung lantai 3 untuk mengikuti kuliah. Wah, baru kali ini ya anak SD mengikuti kuliah. Di UGM lagi.



Disini mbak Winda menerangkan proses terjadinya pohon semenjak dari biji. Sekarang jadi tahu, ternyata tidak setiap pohon harus dimulai dengan biji. Anak-anak mulai tidak sabar untuk melihat-lihat laboratorium. Segera seluruh anak diajak untuk praktek membuat benih. Setiap anak dibagikan 2 buah polybag (kantong plastik warna hitam tempat menyemai tanaman).



Polybag itu diisikan tanah sampai penuh. Stelah disiram air, polibag pertama ditanam bibit pohon, polybag lainnya ditanam biji. Wah pada antusias ya nanamnya. Berebut untuk mendapat yang pertama.



Untuk mengenal nama pohon, satu per satu mbak Winda mengenalkan nama pohon. Eh, ada nama latinnya lho. Seperti Melinjo, nama latinnya Gnetum gnemon. Canggih ya. Sebenarnya masih ingin mengenal pohon lainnya. Waktu semakin mendekat Dhuhur.



Perjalanan berlanjut menuju Moro Kangen. Waktunya mancing bareng. Tiba di lokasi Dhuhur tiba.



Kita langsung ambil air wudhu dan sholat berjama’ah. Tidak ditunda lagi, begitu selesai langsung mengeluarkan senjata sendiri-sendiri. Satu paket alat pancing lengkap. Di sana juga meminjamkan pancingan gratis. Yang bayar umpannya. Untuk umpan pellet 1000, untuk cacing 2000 per bungkusnya.




Mulailah masing-masing dengan gaya yang disuka. Ada yang pilih menyendiri, ada yang rame-rame. Puas banget deh mendapat ikan pertama. Yang belum dapat masih memelihara kesabaran.



Yang tidak sabar, akhirnya mengharuskan ustadz Siswo turun kolam. Bukan untuk memancing. Tapi, dengan bersenjatakan jaring, menangkap ikan yang tidak berhasil terpancing. Suasana jadi riuh melihat ustadz Siswo heroik menangkap ikan.



Ikan bakar telah matang. Bersantap dengan perut lapar memang sangat lezat. Semua menyantap lahap. Tak satupun anak yang makan bersisa, bahkan nambah, ada yang tiga kali lagi. Wah-wah bener-bener lapar ni anak.



Begitulah pembelajaran outing kali ini, untuk kemudian menuju ke tema pembelajaran selanjutnya yaitu tema sekolahku. Doakan ya di tema muncul banyak kejutan membersamai belajar di semester ini.

Thursday, October 16, 2008

Menanam Cabe Keriting


Semester ini ada kegiatan baru untuk pembelajaran outdoor activity. Jika semester yang lalu semarak dengan beternak kelinci, sekarang ditambah lagi pembelajaran berkebun. Untuk pengalaman bagi anak-anak pemula dipilihlah Cabe Keriting. Tanaman yang mempunyai ketahanan hidup lumayan gede. Kalo berhasil panen, tentu jadi duit semua. Untuk lahannya digunakan ladang sebelah timur. Milik pak Agus salah seorang orang tua wali. Ladang itu dibuat gundukan seperti pusara di tempat pemakaman. Membujur panjang. Diatasnya dibungkus dengan plastik hitam yang dilubangi kecil-kecil menggunakan kaleng susu kecil yang dipanaskan. Lubang-lubang kecil itulah media tanaman cabe ditanam. Mengapa? Supaya hidup cabe lebih optimal tidak diganggu kehadiran kompetitor lain seperti rerumutan liar. Satu anak dipercayakan tugas 2 -3 tanaman untuk diamati. Plus, dilengkapi dengan satu lembar pencatatan data pengamatan. Dari mulai waktu kapan menanam dan perubahan yang terjadi setiap pekan sampai berapa jumlah daun dengan tingkat kelebarannya.

Melihat table-tabel di lembar pencatatan, pertama mengundang bingung. Tapi begitu dijelaskan dan dicoba melakukan pengisian data sesuai pengamatan, . . . eh jadi terbiasa deh.
Satu bulan sudah berlalu, meski cukup lama disela waktu Ramadhan tak terkira kini tanaman cabe mulai membongsor. Tak malu untuk menunjukkan hasil buah cabenya. Meski beberapa masih belum beranjak tumbuh. Mati segan hidup pun tak hendak. Tentu hal itu kembali si empunya tugas perawatan dan pengamatan. Indah dan sungguh syukur tak terkira melihat tanaman cabe berbuah. Ih . . . lucu deh, keriting bak rambut kribo. Jadi makin semangat nih melakukan pengamatan.

Menengok kembali apa yang telah dilakukan sehingga menghasil buah yang memuaskan. Untuk kemudian menjadi pengalaman sehingga percaya diri membaginya pada yang lain. Wah, pokoknya panen raya cabe keriting harus terjadi. Apalagi jika krisis global bisa mempengaruhi harga cabe di bursa saham internasional, sepertinya tidak akan ada khayal yang menghalang jika rupiah yang diraup melonjak batas nishob zakat. Yach, . . . bermimpi besar diiringi dengan doa serta ikhtiar maka sempurnalah tawakal kita. Amiin.

Friday, September 19, 2008

MABIT 2008

Rangkaian program Ramadhan 1429 di SDIT Alam kali ini ditutup dengan kegiatan Buka Bersama dan MABIT, yang popular dengan sebutan program malam bina iman dan taqwa. Tema Karyaku Taqwaku yang dipilih tahun ini membuat segala pembelajaran fokus pada hasil karya. Termasuk saat acara buka bersama orang tua/wali siswa. Pameran karya siswa digelar disepanjang jalur masuk tamu menuju GOR SDIT Alam. Karya yang dibuat baik secara tim maupun personal. Hari Kamisnya panitia Ramadhan memang sengaja menyediakan waktu khusus kepada setiap kelas untuk berkreasi menghasilkan karya. Karya yang wajib berupa kaligrafi massal. Maksudnya ? Pembuatannya dilakukan secara massal setiap kelas. Sangat tentu, kekompakan tim akan sangat menentukan hasil karya kaligrafi.



Selain karya wajib, diharuskan membuat karya lain yang bebas sesuai dengan ekspresi yang ingin diungkapkan. Ada yang membuat kartun Ramadhan Naruto, seluruh karakter dalam film Naruto dilengkapi dengan asesoris muslim. Naruto pake peci, Sasuke pake jilbab (wah jadi nggak dilarang dong kalo gini). Membuat kolase biji dan batu gambar kapal. Bedug, manik-manik, miniatur masjid. Yang banyak diminati adalah karya fotografi bertema ‘membaca ayat kauniyah’. Dengan kamera Nikon D40-nya ustadz, meski belum mahir, hasilnya lumayan kayak fotografer yah baru amatir menuju professional gitu.



Mabit diawali dengan acara ganda. Orang tua/wali buka bersama di GOR, sedangkan siswa kelas 4 hingga 6 mengadakan bakti sosial dengan mengantar paket sembako ke masyarakat sekitar SDIT Alam.















Kelas 1 sampai 3 menyaksikan tausyiah berupa fragmen drama 2 kehidupan. Kehidupan seorang sholih dan seorang yang senang berbuat maksiat. Karena sholih dia mendapatkan akhir hidup yang baik. Sedangkan sosok yang suka maksiat sebaliknya, pengakhiran yang buruk.



Kedua sosok orang yang berbeda perilaku sewaktu di dunia tentu mengalami perlakuan berbeda pula sewaktu di alam kubur. Yang sholih didatangi oleh malaikat yang wajahnya super tampan, super ramah, dan super menyenangkan.



Sedangkan si maksiat didatangi oleh malaikat dengan rupa yang menyeramkan, hitam, super kejam, super menakutkan dan super menyiksa.



Siswa-siswa antusias menyimak hingga tidak tahan untuk duduk. Berdiri mendekat mengamati, ikut merasakan setiap sosok dengan perlakuan yang berbeda itu. Menjelang buka, dibagikanlah cocktail agar-agar merah. Air ludah sudah terpancing keluar melihat merahnya cocktail.



Eh, kita lihat dulu yuk, sebelumnya ustadzah-ustadzah dengan penuh heroik membuat si merah dingin



Begitu sirine tanda buka puasa berbunyi, bersegera semua anak menyeruput si merah dingin itu. Allohumma laka sumtu wa bika aamantu . . . .


Setelah sholat isya’ berjama’ah tidak langsung diteruskan dengan sholat Taraweh. Karena sholat taraweh akan dilaksanakan di jam 02.30 dini hari menjelang sahur. Acara intinya adalah nonton bareng film ‘Denias, Senandung di Atas Awan’. Diangkat dari kisah nyata seorang anak Papua yang bermotivasi kuat untuk belajar hingga tingkat yang tinggi berkat motivasi guru dan orang-orang seperti maleo seorang tentara yang ditugaskan di satuan Maleo. Bahkan ibunya sendiri yang meninggal akibat terbakar di dalam rumah. Dengan motivasi yang kuat itu saat ini Denias menunjukkan kemampuannya belajar di Darwin Australia. Acara nonton bareng ditutup dengan pembagian hadiah lomba karya siswa. Terus langsung menuju ke peraduannya masing-masing. Tidur sore agar bangun tidak terlambat. Apalagi mau sholat taraweh dini hari.



Benarlah kata Allah, jik awaktu sepertiga malam terakhir adalah saat yang paling bagus untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sepi, hening, meski agak ngantuk dikit, rasanya beda deh dengan waktu-waktu lainnya.





Selesai sholat, antri satu per satu mengambil makan sahur. Saatnya menguji kesabaran dan itsar (mementingkan saudaranya) akan terlihat. Tapi syukurlah tidak ada yang sampai berebut. Hingga waktu imsak dan shubuh tiba, setiap anak bertanggung jawab terhadap piring yang mereka pake. Seluruh siswa, tanpa kecuali. Dicuci dengan sabun seperti biasa yang mereka lakukan setiap harinya saat setelah makan.




Sinar mentari menyemburat, saat tepat untuk menggerakkan jasmani. Dengan udara masih sejuk seluruh siswa jalan-jalan mengelilingi kampung sekitar SDIT Alam. Sebelum ditutup acara bersih lingkungan dahulu agar sekolah tetap bersih sewaktu kita tinggalkan selama liburan lebaran. Inget selama 20 hari lho. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan prosesi salam-salamnan dan ucapan maaf lahir bathin menjelang 10 hari menuju Idul fitri. Lengkap dan selesailah sudah program Ramadhan 1429 kali ini. Untuk kemudian dilanjutkan dengan menyempurnakannya melalui kegiatan I’tikaf 10 hari di masjid bersama ayah atau saudara atau teman-teman yang lain. Moga lailatul qadr tidak tahan lagi menahan rindunya untuk bersua dengan kita. Ya Allah, berilah kekuatan untuk mampu mendekat cepat pada-Mu hingga Kau anugrahi ketaqwaan seperti yang telah Kau janjikan. Amiin . . . .

Thursday, September 11, 2008

Ekspresi Budaya Cinta Al Qur’an

Salah satu kegiatan Ramadhan di SDIT Alam kali ini adalah Ekspresi Budaya Cinta Al Qur’an. Yaitu berupa unjuk seni hasil dari inspirasi maupun eksplorasi dari Al-Qur’an. Setiap kelas diminta untuk menampilkan hasil cintanya kepada Qur’an melalui ekspresi budaya. Ada yang berupa drama, puisi, nasyid dan penampilan humoris. Untuk tempat penampilan sengaja sudah disediakan di GOR SDIT Alam. Lapangan indoor yang sudah diubah menjadi tempat pertunjukkan sekaligus sebagai tempat sholat berjama’ah.





Waktu pertunjukkan dijadwalkan setiap hari mulai jam 11.00 hingga waktu sholat Dhuhur tiba. Tentunya para siswa sudah dalam kondisi wudlu untuk kemudian setelah menikmati pertunjukkan langsung melaksanakan sholat Dhuhur berjama’ah. Jadwal pertunjukkan dimulai dari hari Senin 8 September hingga 16 September 2008. Dimulai dari kelas 6 hingga jadwal terakhir kelas 1.



Setiap anak diberi kartu apresiasi, gunanya untuk menilai setiap pertunjukkan yang ada. Setiap anak bebas menulis ungkapan apresiasinya pada kartu berwarna oranye. Ada yang singkat seperti “lumayan, bagus, jelek sedikit” ataupun yang detail seperti “sudah bareng tapi suaranya kok tidak sama, bisa lebih dtingkatkan lagi”. Penampilan yang paling ditunggu adalah ekspresi kelas 3. Kelas 3 A, B dan C semua menampilkan drama. 3 A drama berjudul Thoriq bin Ziad, sebuah cerita panglima Islam yang menyemangati anak buahnya sewaktu melawan pasukan Romawi dengan membakar kapalnya agar tidak gentar melawan musuhnya. 3 B menggelar drama teatrikal berjudul Satu Malam dengan Ramadhan, sebuah kisah kontras 2 keluarga dalam menjalani Ramadhan, satu keluraga yang kaya berfoya-foya dengan satu keluarga miskin penuh keprihatinan. Sedangkan 3 C menampilkan operet berjudul Ashabul Kahfi, kisah qur’an bercerita tentang 7 pemuda yang ditidurkan Allah selama 309 tahun di dalam gua sewaktu mempertahankan keimanan mereka.





Pengalaman ini membekas di diri setiap anak. Bagaimana mengungkapkan perasaan mereka, keberanian untuk menunjukkan perasaan itu kepada orang lain. Di depan umum, dinilai lagi. Pengalaman menilai dan memilih pertunjukkan yang menarik. Pengalaman mendapatkan pesan, inspirasi bahkan motivasi dari apa yang baru saja ditontonnya. Untuk membangun kemampuan anak dalam mengemas bagaimana bentuk ungkapan efektif yang bisa diterima orang lain sesuai maksud yang dikehendaki.

Wednesday, September 3, 2008

Karyaku Taqwaku

Ramadhan kali ini adalah saat yang paling dinanti. Ibarat menyambut tamu yang agung, seluruh siswa SDIT Alam bersiap menata lingkungan sekolah untuk menyambut sang tamu. Musim kemarau berakibat berhamburannya debu di halaman SDIT Alam. Agar di saat Ramadhan tidak kotor berdebu, seluruh siswa bekerja bakti mengambil batu dari kali.





Batu sebesar kepalan tangan. Satu per satu di tata di pinggir kelas. Memanjang dari kelas 1 B hingga depan kantor ustadz. Pas dengan tema yang diangkat Ramadhan kali ini. Karyaku, Taqwaku. Rupanya seluruh siswa bersama menjemput taqwa dengan wujud karya. Diawali dengan membuat peredam debu ini.




Untuk program Ramadhan kali ini aka nada beberapa agenda. Pembelajaran setiap hari akan dikondisikan full Qur’an. Maksudnya ? Setiap hari siswa akan belajar eksplorasi Qur’an. Baik mulai dari segi bacaannya melalui program Qiroaty 5 kali sepekan. Pembelajaran Sains, Matematika, Bahasa Indonesia, IPS semuanya menggali dari qur’an. Di siang harinya ada alokasi waktu untuk persiapan penampilan ekspresi budaya cinta al Qur’an. Seni lagu, drama, pidato, puisi semua menggali dari qur’an. Wah, pokoknya ditanggung full Qur’ani deh selama sebulan ini. Penampilannya dilaksanakan setiap hari masing-masing kelas selama 8 hari semenjak 8 september 2008


Di akhir menjelang 10 hari terakhir ditutup dengan mukhayyam dan mabit Ramadhan. Sebagai agenda tahunan merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu. Baik siswa maupun guru. Selain melatih kemandirian terlepas dari orang tua semalam, dipenuhi juga dengan acara ruhiyah. Sholat lail/malam di sepertiga malam terakhir. Meski berperang keras dengan kantuk berat tapi enak juga deh. Dzikir hingga terasa terbang ke awang-awang. Sahur dan ceramah yang menarik. Serasa Ramadhan bukanlah hal yang membebani tapi asyik, apalagi dengan niat yang lurus tiba-tiba kita dapati di akhir Ramadhan, rekening pahala kita penuh. Bahkan luber, suka cita penuh kemenangan. Kemenangan suci yang selalu dijaga dari kembalinya kotoran dosa menempeli jernihnya hati.