Sunday, June 15, 2008

Outing : Tour de Museum

Outing akhir di tahun ini, kelas lima dengan tema Kepahlawanan mengadakan safari ke museum perjuangan di Jogja. Ternyata, Jogja tu penuh dengan bekas-bekas perjuangan dahulu saat membebaskan diri dari jajahan Belanda. Salah satu tokoh yang fenomenal adalah Jendral Soedirman. Seorang panglima perang yang memberikan semangat perjuangan yang luar biasa. Meski sakit berat, tetap bersama pasukannya melakukan taktik gerilya untuk melawan Belanda. Hasilnya, sungguh luar biasa. Belanda sangat kewalahan.



Untuk lebih mengenal lebih dalam, siswa kelas V mengunjungi museum Soedirman yang letaknya di Pakualaman Yogyakarta. Di sini bisa dilihat berbagai perabot dan benda yang menemani jendral Soedirman selama perjuangannya. Termasuk kata-kata kuat yang membakar semangat pasukan dan rakyat Indonesia saat itu. Hanya membaca kata-katanya saja sudah bisa dirasakan panas semangatnya.



Perjalanan transit dahulu di masjid kebanggaan UGM. Masjid Kampus UGM. Di sini anak-anak istirahat sekaligus melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah. Sambil istirahat, action dulu ah . . . . . .



Tujuan akhir tour adalah ke museum Jogja Kembali. Dengan areal museum yang sangat luas dan bangunan unik seperti tumpeng atau kerucut di tengahnya, membuat museum ini menjadi obyek yang sangat sayang untuk dilewatkan. Banyaknya diorama (ruang-ruang gelap berisi sebuah adegan sejarah) membuat suasana perjuangan terbawa nyata di hadapan mata. Yang takut hantu ya bareng temen-temen liatnya ya . . ..



Selain diorama, banyak juga benda-benda yang digunakan para pejuang. Dari berupa dokumen kertas, perabot, baju, sampai senjata-senjata baik yang tangan sampai yang super gede. Ada juga disitu termuat nama-nama pejuang yang gugur di medan pertempuran.



Yach, . . . memang benar kata orang, bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa para pahlawan. Lha, kita sebagai penerus mereka mengembang tugas untuk melanjutkan perjuangan dengan meningkatkan potensi kita untuk menciptakan Indonesia ini menjadi negeri yang sejahtera. Mengejar ketertinggalan bangsa lain . . . .

Saturday, June 14, 2008

Game GTA versi SDIT Alam


Pernah denger game GTA (Grand Theft Auto), atau malah pernah main ? Itu lho game komputer petualangan menjelajah kota kemudian mengumpulkan uang, pake kejar-kejaran dengan polisi, ada yang kelahi dan seterusnya. Lha, temen-temen di SDIT Alam Nurul Islam membuat game GTA dalam versi barunya.



Versi gambar. Kok bisa ? Maksudnya? Gini, saat belajar kan gak boleh main game komputer padahal ada beberapa anak yang sudah akrab dengan game komputer. Saking gak tahan gak main game akhirnya 'penyakit'nya kambuh. 'Penyakit' kreatif. Mereka membuat game GTA dengan menggambar di atas secarik kertas. Gambarannya sih gak bagus-bagus amat tapi sangat detail. Mulai dari jalan raya, kantor polisi, rumah sakit, supermarket, kafe dan lain-lain. Ditambah lagi, mereka lengkapi dengan asesoris seperti pecahan uang, mobil, rumah, dan harta benda lainnya.




Tentu semuanya juga digambar di atas potongan kertas kecil. Untuk main, bisa lebih dari dua pemain. Dengan satu anak pengendali permainan. Setiap pemain pertama kali diberi modal uang dengan mata uang dolar Amerika. Trus diminta untuk memilih profesinya. Bayar tentunya. Dan mulailah beraksi.




Kalau di GTA versi komputer, pemain akan mendapatkan uang manakala memukuli orang. Di versi ini diganti dengan perbuatan yang baik, seperti member nasehat, menolong dll. Bukan kekerasan. Yang seru lagi, ada sesi main bolanya. Penasaran cara mainnya ? Bola yang digunakan secuil kertas bunder dengan dua sisi warna. Satu sisi berwarna hitam, sisi satunya putih. Setelah mengundi dan memilih bola dan tempat, mulailah main. Caranya, dengan meniup bola tadi. Jika sebelum ditiup sisi diatas hitam, saat melewati gawang lawan jatuhnya masih posisi hitam berarti gol. Tapi kalau pas jatuhnya warna putih berarti ketangkap kiper lawan. Canggih kan?



Sepertinya sudah tumbuh di diri mereka bibit seorang penemu. Meski baru sebuah game tapi sudah cukup kreatif. Bibit itu tinggal dipupuk dan dipelihara sehingga penemuan yang mereka lahirkan semakin besar. Semakin menambah kemanfaatan bagi orang lain, negeri, bangsa dan akhirnya dunia. Amin.

Wednesday, June 11, 2008

Ready to Jamnas I SIT

Setelah terpilih 24 pandu terbaik SDIT Alam. Selanjutnya, selama 5 pekan mereka harus menjalani masa penggemblengan. Dimulai pekan kemarin para pandu mendapatkan materi Peraturan Baris Berbaris atau PBB. Memantapkan berbagai gerakan. Baik gerakan di tempat mau geser.



Pekan ini pas materi Pertolongan Pertama Pada Musibah atau P3M. Ke-24 pandu diminta untuk membawa berbagai tanaman obat dari rumahnya. Lalu, satu per satu tanaman dibahas. Mulai dari nama, ciri, dan khasiatnya. Untuk tanaman yang sulit ditemui tidak tanggung-tanggung belajar langsung dengan internet. Dipastikan benar hingga mengenal tiap tanaman obat melalui pengamatan, penciuman dan pengecapan. Pekan ketiga, para pandu diajak untuk mengasah ketrampilan tali temali. Berbagai jenis simpul dan kegunaannya akan mereka temui di pekan depan. Di pekan ke-4, ada outbound. Setiap pandu dilatih untuk mampu melewati halang rintang baik yang low impact sampai high impact. Terakhir, mereka dibekali dengan ketrampilan membuat hiasan. Sebagai pelengkap asesoris tenda sewaktu Jamnas nanti.



Keseriusan pandu terlihat sewaktu latihan. Meski jadwal latihan menabrak waktu THB. Karena mereka menyadari amanah di pundak mereka. Untuk tampil dalam laga terbaik di Jambore Nasional I SIT. Apalagi biaya pengiriman utusan SDIT Alam Nurul Islam tidaklah murah. Doakan kami berhasil untuk tampil yang terbaik . . .

THB SDIT Alam, BEDA !

Bulan Juni ini adalah saat Sekolah Dasar melangsungkan Tes Hasil Belajar, atau banyak orang menyebutnya dengan THB. Tak terkecuali SDIT Alam Nurul Islam. Cuma, SDIT Alam gak mau terkecoh dengan bentuk evaluasi pembelajaran yang selama ini berjalan. Padahal sudah diberlakukan KTSP. Yang maknanya salah satunnya adalah : evaluasi pembelajaran siswa tidak melulu hanya kognitif saja. Bahkan, dalam pembelajaran siswa dilihat juga seberapa dalam pemahamannya, seberapa sensitif perasaannya, seberapa ringan menjadi tindakannya, hingga seberapa kokoh menjadi karakternya.


Maka, dengan bersyukur kepada Alloh. SDIT Alam mulai semester ini tlah berhasil melahirkan bentuk THB yang berbeda 180 derajat dari THB sebelumnya. Apanya yang membuatnya beda?



Kalo dulu THB meski cukup sepekan tapi satu harinya anak-anak harus mengerjakan 4 soal THB. Dua untuk Diknas, dan dua untuk soal SDIT. Itupun semuanya kognitif. Gimana gak puyeng anak-anak. Nha sekarang, dari segi waktu diperpanjang. Dari bentuk soalnya pun dirombak besar-besaran. Sekarang, satu pekan THB Pengembangan Diri, trus satu pekan THB Muatan Lokal dan mata pelajaran ciri khas SDIT Alam yang terakhir satu pekan untuk THB Mata Pelajaran Diknas. THB Pengembangan Diri memuat mata pelajaran yang terkait dengan pengembangan kepribadian siswa. Ada Outbound, Beternak, Menulis, Renang, Market Day, Kebahasaaan (Inggris+Arab). Sedangkan pekan kedua, bentuk THB disesuaikan dengan kebutuhan penilaian mata pelajaran. Seperti PAI ada tes tertulis dan praktek, Sains : tertulis dan eksperimen, Matematika : pemahaman, penalaran dan penerapan, dan seterusnya. Pekan terakhir, ketiga, THB Diknas seperti sekolah-sekolah lainnya. Tertulis dan kognitif saja.


Yach, meski pelaksanaan perdana THB Baru kali ini meski cukup membuat payah panitia, tapi seluruh ustadz dan ustadzah semangat untuk bersama melahirkan bentuk evaluasi yang ideal. Yang bisa memotret perkembangan hasil pembelajaran siswa dari berbagai sisi. Tidak semata yang ‘mampir’ di otaknya saja.



Untuk Sains, ada yang eksperimen tentang gerak. Mencatat waktu yang dibutuhkan bola tenis menggelinding dari papan miring dengan ketinggian yang berbeda. Dan, disimpulkan. Bagi yang sudah terampil, langsung on. Tapi yang belum, yach pelan-pelan asal kesampaian.



Lihat, betapa antusiasnya siswa mengikuti THB. Untuk Jawa, ada yang diminta untuk melagukan tembang Pocung dan Gambuh. Trus, menebak nama wayang melalui gambar. Karena harus satu-satu, maka banyak siswa yang ngantri. “Seperti pendaftaran Indonesian Idol ya Ust.” kata Brian, salah seorang murid kelas 3. “Bukan Indonesian Idol Ust, tapi JAWAan Idol” tambahnya lagi.


Wednesday, May 21, 2008

Family Gathering SDIT Alam Nurul Islam

Alhamdulillah, quota siswa kelas 1 dengan 3 kelas pararel tahun ini bisa terpenuhi hanya dengan waktu 1 bulan. Dari mayoritas pendaftar, ternyata mereka mendapatkan informasi SDIT Alam itu melalui orang tua wali SDIT Alam Nurul Islam. MLM, mulut lewat mulut. Kesimpulannya, pemasaran lewat mulut lebih efektif ketimbang menggunakan media lain yang barangkali malah membutuhkan dana yang tidak sedikit. Lha, sebagai rasa terima kasih, SDIT Alam menyelenggarakan even Family Gathering. Yaitu outbound keluarga wali siswa dan guru, kemarin Selasa, 20 Mei 2008. Sekaligus nebeng peringatan 100 tahun kebangkitan Indonesia. Acara dari pagi hingga siang itu penuh dengan permainan outbound. Dari yang fun games hingga yang high impact.


Pertama, yang harus dilakukan peserta adalah harus meyusun batang korek api untuk dijadikan sarang burung. Sekaligus bagi yang sudah selesai menjodohkan potongan peta perjalanan outbound. Setiap keluarga diuji kesabaran dan kekompakannya. Ada yang cepet, ada yang lambat. Ada yang sabar ada yang keburu.



Setelah tersusun peta, kemudian setiap kelompok mulai melakukan perjalanan menuju pos I. Yaitu melewati jembatan sinergi. Di sini dibutuhkan keseimbangan yang ekstra. Karena jembatan yang terbuat dari bambu diletakkan di atas sungai yang mengalir.



Karena jembatannya cuma satu, ya terpaksa yang datang akhir harus antri. Antri di pinggir sungai jadilah antrian yang sangat panjang. Saling memberi semangat anggota keluarga yang sedang melewati jembatan sinergi.



Setelah melewati jembatan sinergi. Setiap keluarga diharuskan merakit dengan menggunakan rakit yang terbuat dari bambu dan jerigen (karena BBM mau naik dan gak boleh beli bensin pake jerigen jadi untuk rakit deh, he . . he . .) Yang gak bisa renang gak usah takut. Ada pelampung yang harus dipake untuk mencegah berenang gaya batu dan dada (da . . daaaaa, blep . . blep).



Setelah merakit di sungai Bedog yang saat ini kebetulan baru gak banjir. Kemudian, diteruskan dengan permainan jembatan udara. Setiap keluarga bekerjasama untuk menyusun jerigen dan papan sedang salah satu keluarga harus melewati papan tersebut.



Baru setelah misi melewati jembatan udara berhasil, selanjutnya harus melewati seluruh halang rintang. Biar seru yang melewati harus ditutup matanya sedangkan anggota keluarga yang lain memandu setiap melewati halang rintang.



Untuk tantangan terakhir adalah meluncur bagaikan musang alias flying fox. Lagi-lagi karena tempat luncurnya cuma satu, ya harus antri lagi dong. Kalo siswa sih udah biasa meluncur, lha Ayah dan Ibu baru pertama kali ngrasain. Ya perlu sedikit takut, grogi, keringat dingin dll.





Seluruh kegiatan diakhiri dengan makan siang bersama. Hidangan yang disuguhkan sangat spesial. Ada gudangan, sayur tempe, ada kacang godog dan lain-lain. Karena lapar dari menempuh perjalanan game, makan siang terasa super nikmat. Apalagi dengan lesehan dan bebarengan. Sip deh.





Setelah menikmati hidangan tradisional, tibalah saatnya untuk menarik doorprize. Hadiah doorprize berasal dari usaha orang tua wali. Dari Speedy Telkom, Rumah Makan Banjarsari dll.





Semoga dengan Family Gathering ini ukhuwah keluarga siswa dan ustadz-ustadzah semakin erat. Untuk kemudian bersama mengawal visi-misi SDIT Alam Nurul Islam untuk menghadirkan sosok muslim yang sadar kehadirannya di dunia ini sebagai abdulloh dan khalifatullah fil ardh. Tentu berkarya di berbagai bidang kehidupan. Amin.

Tuesday, May 13, 2008

Outing Akhir Kelas 3

Di penghujung semester genap ini, kelas III melaksanakan outing terakhirnya. Kemanakah outingnya ? Tentu menyesuaikan dengan tema yang dipelajari di semester genap ini. Bumi dan Pekerjaan temanya. Untuk mengetahui bumi lebih dalam sangatlah pas dengan berkunjung ke BMG. Apakah BMG itu ? kependekan dari Badan Meteorologi dan Geofisika. Letaknya di jalan Wates km. 8 dusun Jitengan Balecatur Gamping Sleman Yogyakarta. Perjalanan menuju ke BMG sedikit butuh perjuangan. Habisnya, lokasi di atas bukit membuat jalan yang dilewati banyak menanjak. Sedangkan jalannya tidaklah lebar, dilewati minibus tersisa sedikit. Manakala berpapasan dengan mobil, salah satu harus mengalah untuk jalan lebih dahulu.

Di BMG kami disambut dengan hangat oleh para karyawan di sana. Setelah rapi berbaris, kami dipersilahkan masuk ke ruangan untuk mendapatkan penjelasan tentang bumi. Apa itu bumi, matahari, bagaimana gempa bumi terjadi dan cara penyelamatannya, bagaimana Tsunami yang dahsyat serta cara penghindarannya dan yang terakhir, Apakah angin ribut itu.


Setelah diterangkan panjang dan lebar, kami diajak pergi ke taman. Tapi, taman yang satu ini berbeda dengan taman pada umumnya. Kalo umumnya taman dipenuhi dengan tanaman bebungaan. Taman ini malah dipenuhi dengan alat-alat yang terbuat dari listrik. Taman Klimatologi namanya.


Ada alat pengukur curah hujan. Alat ini juga berfungsi untuk mengetahui apakah banjir akan terjadi apa tidak. Bentuknya mirip tabung yang diberdirikan.


Ada juga bejana penguapan. Gunanya untuk mengetahui kelembapan udara. Bentuknya seperti kolam renang mini. Bunder dari besi cuma kecil. Ngukur air yang menguapnya gimana ya, kok gak kelihatan uapnya?


Lha yang ini, alat untuk mengetahui letak matahari. Eh, ternyata matahari itu tidak selalu tetap letaknya. memang sih di atas kita tapi ternyata terkadang agak condong ke utara. Sekali waktu pas di tengah dan terkadang condong ke selatan. Alatnya berupa bola kaca yang di bawahnya diletakkan kertas berskala. Bola tadi fungsinya seperti kaca pembesar. Sehingga sinar matahari yang lewat semakin panas dan membakar kertas.


Kalo alat-alat yang awal tadi masih manual, harus dilihat pake mata langsung. Ternyata di sini juga telah dilengkapi alat pengukur cuaca digital. Sudah pake teknologi komputer. Alatnya digabung jadi satu terus datanya disalurkan ke komputer di dalam ruangan.


Selain itu, komputer juga disambung secara online. Sehingga kondisi cuaca di seluruh Indonesia bisa diketahui. Di ruangan komputer juga dilengkapi komputer yang bisa untuk ngomong jarak jauh, lebih keren disebut teleconference.


Setelah puas belajar cuaca di BMG. Perjalanan berlanjut ke dusun Jetak Sidoarjo tempat pusat industri anyaman bambu. Pertama, kita dibawa ke rumah Joglo Jogja yang didalamnya terdapat gamelan Jawa. Eh, ternyata kita diajari nembang macapat. Puisi Jawa. Anak-anak senang sekali, meski banyak yang kelahiran Jogja, tapi mendengar tembang macapat serasa sesuatu yang baru didengar.



Selain itu kami juga diberi kesempatan untuk belajar menabuh gamelan. Ada yang namanya saron, kimpul, gender, kenong, gendang, gong dll. Pokoknya asyik deh.




Kesempatan terakhir, kita belajar menganyam bambu. Ternyata butuh ketelitian dan kesabaran yang tinggi. Kata Bu Sarbini untuk menyelesaikan anyaman seluas 3 x 10 meter menghabiskan waktu 1 bulan. Tuh, bayangkan lama kan. Pokoknya outing kali ini dijamin puas. Meski tidak jauh tapi ternyata asyik juga. Alhamdulillah . . . .



Yang mau materi Mengenal Meteorologi klik aja file di bawah ini untuk download :

Mengenal Meteorologi.ppt

Wednesday, April 23, 2008

Trustfall Net (Jaring Jatuh-Percaya)

Untuk mengetahui teman kita itu percaya atau tidak sama kita terkadang sulit. Tidak bisa langsung dengan kata-kata. Baru terlihat manakala semua hal telah terjadi. Saat teman kita memaksa untuk menyimpan uang kas kelas dengan usaha kerasnya pasti ia akan melancarkan rayuannya supaya disetujuai seluruh teman sekelas. Baru ketahuan saat kemudian hari si teman tadi berusaha mencari banyak alasan agar tidak disalahkan karena menghilangkan uang kas kelas yang sejak awal teman-temannya mempercayakan padanya. Tapi, tidak usah khawatir. Dengan outbound 'penyakit' ketidakpercayaan itu bisa terlihat sebelum memang terjadi. Yaitu dengan trustfall net, artinya menjatuhkan diri di atas jaring yang dipegang beberapa orang.



Orang yang akan menjatuhkan diri harus terlipat kedua tangannya di dada dengan posisi lipat terbalik. dengan membelakangi jaring, orang itu menjatuhkan dirinya di atas hamparan jaring yang telah ditarik oleh beberapa orang. Tidak asal menjatuhkan. Harus menggunakan aba-aba. Pemegang jaring mengawali dengan "Siap Jatuh", Orang yang yang akan jatu menjawab " Siap", diteruskan dengan "Siap menangkap", pemegang jaring menjawab "Siap". setelah hitungan 1, 2, 3 baru menjatuhkan.



Dengan mengamati posisi orang yang jatuh akan bisa dilihat seberapa besar kepercayaan orang yang jatuh kepada orang pemegang jaring. Yang percaya penuh akan menjatuhkan diri dengan posisi tubuh lurus, jatuh pasrah. Bagi yang tidak percaya, posisi tubuh akan bengkok, lutunya akan dilipat, dan jatuhnya dengan meletakkan pantatnya dahulu. 'Lebih parah' lagi adalah yang rasa takutnya mengalahkan nyalinya. Ia hanya berdiri lama dengan penuh keraguan untuk menjatuhkan diri.



Alhamdulillah, bagi yang sudah bisa memberikan kepercayaan penuh kepada teman-temannya. Semoga yang masih takut lebih terpacu untuk mengalahkan rasa takutnya. Menghancurkan tembok takut yang mengungkung nyalinya. Bagi yang ingin tambah tantangan, teman-temannya juga melayaninya dengan tambahan ayunan ke atas jaring berulang-ulang.