Monday, November 2, 2009
Mengamati Padi Tumbuh
Meneruskan dari outing kemarin, kelas 2 melakukan pengamatan pertumbuhan tanaman padi. Untuk pengamatan ini mereka harus melakukan pencarian jejak. Tiap anak dikelompokkan dan diberi penugasan. Tiap kelompok dibekali peta perjalanan.
Di lapangan mereka dikumpulkan. Tugas pertama adalah menggambar biji padi. Tiap kelompok dibagikan biji padi. Dengan menggambar tiap anak dengan jelas mengamati bentuk padi yang digambarnya.
setelah selesai di pos awal ini, tiap kelompok diberangkatkan menuju pos selanjutnya. Dengan berbekal peta mereka menyusuri jalan. Menemukan jejak ustadzah-ustadzah penjaga pos berikutnya.
Nah, ini pos 2. Disini ada usth. Sarah. Bliau memberi tugas untuk mengamati tumbuhan padi yang masih kecil. Bliau menerangkan, biji padi yang akan ditanam dijadikan bibit dulu. Butuh waktu 35 hari (hayoo . . . berapa pekan tu). Baru tumbuh bibit padi.
Bibit-bibit itu masih kecil-kecil. Mirip sekali dengan rumput. Kalo gak tahu bisa-bisa keinjek deh. Tapi untung sekarang udah tahu. Dan . . . serius pengamatan dan digambar.
Kalo ini adalah pos 3. Tempatnya usth Wiwid. Tanaman padi disini sudah lebih gede dan tinggi. Tapi biji padinya belum keluar. Ya karena memang baru 2 bulanan.
Di pos 4 ini, tanaman padi sudah nampak lebih bongsor. Meski biji padi belum muncul namun satu dua tanaman sudah mulai muncul biji padi. Seperti biasa, anak-anak diminta mengamati dengan menggambarnya.
Wah kalo yang ini nih udah hampir panen. Di pos 5 ini, tanaman padi udah mulai berubah warna menjadi kuning. Biji padi udah mulai menggerombol sehingga tanaman padi merunduk karena harus menyokong beratnya biji padi. Bener ya kata pepatah, Jadilah seperti padi makin berisi makin merunduk. Pelajarannya, makin kita berilmu makin tawadhu' ato rendah diri. Tidak sombong.
Setelah semua tanaman padi menguning berikut biji padinya, sudah saatnya untuk memanen. Untuk memanen butuh ketrampilan yang tinggi. Apalagi jika dikerjakan secara manual, menggunakan tenaga tangan semata. Liat aja deh, ibu-ibu yang sedang memanen padi. Dengan tekun dan teliti tiap tangkai biji padi dipotong. Butuh berapa hari ya kalo cuman dikerjakan sendiri?
Kelompok yang tepat membaca peta langsung menemukan tiap pos. Bahkan ada yang udah selesai. Tapi bagi kelompok yang salah baca peta, yang didapat ya jalan tersesat. Makin jauh jalannya. Liat aja ekspresi wajah yang sedang kesel karena tersesat jalan.
Nampak dari kejauhan, ust. Lubis berpatroli pake sepeda berkeranjang untuk menyisir kelompok yang tersesat. Alhamdulillah, pengamatan pertumbuhan padi udah selesai. Ternyata nasi yang kita makan tiap hari itu telah mengalami proses yang panjang. Sehingga tak pantaslah jika seenaknya buang-buang nasi gara-gara gak seneng sayur ato lauknya.
Outing : Desa Wisata Tanjung dan Pasar Ngasem
Mengakhiri tema Makhluk Hidup, kelas 2 mengadakan outing ke beberapa obyek menarik. Fokus yang dibahas anak-anak kelas 2 adalah tentang pertumbuhan makhluk hidup. Sebagai obyek pengamatan, dipilihlah tanaman padi. Tanaman yang paling sering dijumpai di sekitar kita. Sehingga mudah untuk dipelajari. Nah, untuk mengetahui lebih dekat cara menanam padi, anak-anak kelas 2 berkunjung ke desa wisata Tanjung. Terletak di wilayah kecamatan Pakem.
Ternyata desa Tanjung memang sengaja nyediakan wisata tanam padi. Anak-anak diajak langsung menuju ke sawah. Di sana tlah menunggu pak Tani dan sapi serta bajaknya. Acara yang dinanti tiba. Membajak sawah.
Yang belum mau nyebur, liat dulu dari pematang sawah. Masih takut belepotan lumpur. Apalagi Sapinya kalo BAB pasti sembarangan. Bercampur deh dengan lumpur. Ah, jadi jijik. Tapi, kok pingin nyebur ya . . . . gimana nih.

Hah, ternyata boleh to naik ke bajak. Wah kalo gitu ya udah ngikut aja deh. Lupain tu jijik. Yang penting bisa ngrasakan naik bajak. Ciihuii.
Hah, siapa tuh yang pake celana jeans. Oo . . ternyata ust. Lubis. Aktingya emang TOP BGT. Jadi Petani yang gaul. Eh, ternyata sebelum ditanami padi, sawah tu dibajak dulu. Gunanya biar untuk membalik tanah bagian bawah ke bagian atas. Sehingga kesuburan tanah jadi banyak lagi. Biar mudah dibajak, tanah sawah dipenuhi dengan air.
Setelah puas di desa Tanjung, perjalanan berlanjut ke pasar Ngasem Jogja. Tempat yang terkenal dengan berbagai binatang yang dijual. Seperti kebun binatang, tapi hewan yang dijual kebanyakan hewan piaraan. Anak-anak paling tertarik di tempat yang jual ikan hias. Semua anak bergerombol ingin membeli ikan favoritnya.
Saking pada bingung mana ikan yang mo dipilih akhirnya berlama-lama deh. Tuh liat ust. Lubis udah berseru untuk segera mengakhiri petualangan di Ngasem. Alhamdulillah outing kali ini sangat berkesan. Belajar tentang padi di desa Tanjung dan beraneka satwa di pasar Ngasem.

Hah, ternyata boleh to naik ke bajak. Wah kalo gitu ya udah ngikut aja deh. Lupain tu jijik. Yang penting bisa ngrasakan naik bajak. Ciihuii.
Subscribe to:
Comments (Atom)
